Lenza Nasional | Lenza Nasional | Profesional Membidik Fakta

Profesional Membidik Fakta

La Nyalla : Ini Profesional, Yusril Menjadi Pengacara Jokowi-Maruf, Tidak Ada Hubungannya Dengan PBB

0 76

SURABAYA, Lenzanasional.com – Yusril Ihza Mahendra bergabung ke kubu Jokowi-Ma’ruf sebagai pengacara pasangan bernomor urut 01, mengaku rela hingga tidak dibayar oleh kubu Jokow-Maruf Amin untuk membantu segala proses hukum dikemudian hari.

Calon presiden petahana, Joko Widodo mengaku turut andil dalam membujuk Yusril Ihza Mahandra masuk ke dalam tim pengacara pasangan nomor urut satu dalam kontestasi Pilpres 2019.

“‎Ya kita yang meminta, Pak Erick (Ketua TKN) yang meminta,” ujar Jokowi di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta, Selasa (6/11/2018) melansir Tribunnews.com.

Jokowi bersyukur Yusril Ihza Mahendara menerima tawaran untuk menjadi pengacara dirinya bersama cawapres Ma’ruf Amin.

“Ya bagus Alhamdulilah, ya kita kan tahu profesionalitas dari pak Yusril Ihza Mahendra,” ucap Jokowi.

Sementara itu, Yusril Ihza Mahendra bercerita mengenai pertemuannya dengan Ketua Umum Tim Kampanye Nasional Jokowi-Maruf Amin Erick Thohir, di salah satu hotel di Jakarta.

Bergabungnya Yusril Ihza Mahendra menjadi penngacara Jokowi-Maruf Amin pemilihan presiden (Pilpres) berlangsung ini rupanya memiliki tujuan.

Yusril Ihza Mahendra mengatakan saat itu Erick Thohir mempertanyakan kesediaannya untuk menjadi pengacara Jokowi-Maruf Amin.

“Kami bincang-bincang dan Pak Erick menanyakan kepastian apakah saya bersedia menjadi lawyernya Pak Jokowi-Pak Kiai Maruf Amin, dalam kedudukan beliau sebagai paslon capres-cawapres,” ujar Yusril Ihza Mahendra, saat dikonfirmasi wartawan, Senin (5/11/2018) seperti dikutip Kompas.com.

Yusril Ihza Mahendra pun menjawab kesediaan untuk menjadi pengacara Jokowi-Maruf Amin.

“Maka saya katakan pada Pak Erick, setelah cukup lama hal ini didiskusikan dengan saya, akhirnya saya memutuskan untuk setuju dan menjadi lawyernya kedua beliau itu,” tuturnya.

Begabungnya Yusril Ihza Mahendra menjadi pengacara Jokowi-Maruf Amin tujuannya tidak lain yakni ingin menyumbangkan sesuatu pada Pilpres dan Pemilu serentak agar berjalan adil dan jujur.

“Bagi saya hukum harus ditegakkan secara adil bagi siapa pun tanpa kecuali. Menjadi lawyer haruslah memberikan masukan dan pertimbangan hukum yang benar kepada klien, agar klien tidak salah dalam melangkah, serta melakukan pembelaan jika ada hak-haknya yang dilanggar pihak lain,” kata dia.

Yusril menegaskan, menjadi kuasa hukum pasangan calon presiden dan wakil presiden Joko Widodo-Ma’ruf Amin untuk semua hal yang terkait posisi keduanya sebagai capres-cawapres.

“Jika ada hak-hak Pak Jokowi dan Pak Ma’ruf yang dilanggar, beliau dihujat, dicaci dan difitnah misalnya, tentu saya akan melakukan pembelaan dan menunjukkan fakta yang sesungguhnya atau sebaliknya, agar segala sesuatunya dapat diletakkan pada proporsi yang sebenarnya,” kata Yusril.

“Saya juga akan mewakili kepentingan hukum kedua beliau dalam berhadapan dengan pihak lain,” tambahnya.

Di tempat terpisah La Nyalla Mattalitti merespon terkait bergabungnya Yusril ke kubu Jokowi-Ma’ruf Amin. Menurutnya, apa yang dilakukannya Yusril tidak ada hubungannya dengan PBB. 

“Saya rasa tidak ada hubungannya dengan posisi PBB sebagai kontestan pemilu. Sebab, yang dilakukan YIM adalah profesional sebagai advokat,” kata La Nyalla.

La Nyalla melanjutkan, Yusril bisa menerima klien siapapun.

“Baik itu HTI, juga pribadi seperti Oesman Sapta, hingga kandidat capres-cawapres. Tahun 2014 lalu YIM (Yusril) juga diminta sebagai saksi ahli dalam sidang MK yang diajukan pasangan Prabowo-Hatta, juga dilakukan cuma-cuma, gratis juga,” sambung La Nyalla.

Menurutnya, apa yang dilakukan Yusril tesebut berkaitan dengan sumpahnya sebagai seorang advokat.

“Itu komitmen YIM terhadap hukum sesuai sumpahnya ketika dilantik sebagai advokat,” lanjut La Nyalla.

Oleh karena itu, La Nyalla pun meminta masyarakat melihat masalah itu secara jernih.

“Kita harus terbiasa dan melatih diri untuk melihat sesuatu dengan jernih. Tidak menghubung-hubungkan sesuatu yang tidak kontekstual. Mulailah dari diri kita untuk menjadi masyarakat negara maju, yang melihat sesuatu dari konteksnya. Proporsional,” tutup La Nyalla.

Comments
Loading...

Network LNM Media Center