Lenza Nasional | Lenza Nasional | Profesional Membidik Fakta

Profesional Membidik Fakta

Yusril Tegaskan PBB Tidak Gabung Koalisi Gerindra, La Nyalla : Prabowo Tidak Bisa Kalahkan Jokowi

0 314
Politisi Partai Bulan Bintang (PBB) La Nyalla Mahmud Mattalitti

Jakarta,LenzaNasional.com – Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama menggelar acara Ijitima’ Ulama dan Tokoh Nasional, di Hotel Menara Peninsula, Slipi, Jakarta Barat, Jumat (27/7/2018).

Acara tersebut beragendakan rekomendasi ulama yang tergabung dalam GNPF mengenai koalisi dan Capres-Cawapres Pilpres 2019 kepada Partai Politik di luar kubu Joko Widodo. Politisi Partai Bulan Bintang La Nyalla Mahmud Mattalitti hadir dalam acara Ijtima GNPF-Ulama tersebut.

La Nyalla berharap para ulama yang hadir merekomendasikan nama lain selain Prabowo Subianto, diantaranya yakni Gubernur Jakarta Anies Baswedan, Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, Ketua Umum PBB Yusril Ihza Mahendra, atau Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan.

“Yusril, Gatot Nurmantyo, ini yang bisa lah, kalau Gatot bersama Yusril atau Yusril bersama Gatot itu ada lawanlah,” ujar La Nyalla.

Pasalnya bila merekomendasikan Prabowo, La Nyalla pesimis akan menang. Menurutnya Ketua Umum Gerindra tersebut tidak akan mampu mengalahkan Jokowi.

“Enggak bisa. Saya yakin enggak akan bisa,” katanya.

Baca : Resmi Calon DPD, La Nyalla Raup Syarat Dukungan Terbesar

Baca : Tentang Koalisi Keumatan, La Nyalla : Harus Ada Saluran Umat dan Parpol

Baca : La Nyalla Diam Diam Gabung Ke Partai Bulan Bintang

La Nyalla berharap Prabowo ikhlas untuk membuka pintu bagi generasi muda mencalonkan diri pada Pilpres 2019.

Ia yakin apabila Prabowo Ikhlas maka ikhtiar untuk mengganti presiden akan terwujud.

“Kalau Prabowo mau ikhlas melepaskan demi umat, saya yakin yang mau ganti presiden semua takdir Allah, kita kan berikhtiar,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra yang juga hadir dalam acara Ijtima Ulama dan tokoh nasional itu menuturkan, kehadirannya di acara tersebut belum memutuskan apakah bergabung untuk mendukung Prabowo Subianto atau tidak. Dirinya ingin melihat dulu kepentingan apa yang akan dibawa.

“Kami harus menimbang-nimbang kepentingan kami juga, kepentingan umat Islam dan kepentingan bangsa Indonesia juga. Apakah memang kami rasakan koalisi ini ada manfaatnya atau tidak. Kalau tidak ada manfaatnya, ya kami merasa tidak perlu bergabung dengan koalisi. Kalau ada manfaat akan kita teruskan,” jelas Yusril Ihza Mahendra.

Yusril mengatakan, ini bukan tanpa alasan. Karena dirinya mempunyai pengalaman saat Pemilu 1999 dan 2014. Di mana, salah satunya tak pernah diundang dalam setiap pembicaraan dengan parpol koalisi.

“Kami tidak pernah diundang untuk rapat koalisi itu. Dan saya tidak datang. Kami tak pernah diundang, nggak pernah diajak bicara tiba-tiba di medsos sudah dicantumkan PBB adalah koalisi,” ucap Yusril.

Dia mengaku hingga kini tidak pernah diajak koalisi oleh Partai Gerindra. Hal itu disampaikannya sekaligus membantah pernyataan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto yang mengatakan, sulit menemui Yusril untuk mengajak berkoalisi karena sering berada di luar negeri.

“Memang selama ini pertemuan-pertemuankan seperti yang dikatakan Pak Prabowo antara Gerindra, PAN dan PKS, PBB memang tidak pernah diajak, dan tadi saya sudah sampaikan juga tidak betul saya terus-terusan ada di luar negeri,” paparnya.

Selain itu, Yusril juga menegaskan, PBB sendiri tidak terlalu mengejar target untuk berada di pemerintahan. Yang paling penting dikatakannya bagi PBB sekarang adalah eksis kembali dalam panggung politik Indonesia.

“Jadi kalau kami sendiri seperti saya katakan saya tidak akan terjebak ke dalam satu kubu koalisi. Bagi saya koalisi itu bisa terjadi apabila ada negosiasi ada pembicaraan yang jelas antara satu pihak dengan pihak yang lain. Itu yang saya harapkan,” tegasnya.

Yusril berharap parpol-parpol dan politikus yang berkumpul di forum Ijtimak Ulama tak menghasilkan capres-cawapres asal-asalan. Kaum ulama dan politikus dinilai perlu menunjuk orang yang mengerti persoalan untuk berlaga pada 2019.

“Mudah-mudahan ini tidak sekadar presiden patung, mentang-mentang nasionalis, mentang-mentang Islam kita angkat, tapi mudah-mudahan memang cukup mampu mengartikulasikan Islam dan memahami persoalan besar yang dihadapi oleh bangsa dan negara kita,” harapnya.

Dia mengajak semuanya benar-benar menentukan capres-cawapres dengan cermat. Dia menyerahkan persoalan ini kepada para ulama dan habaib yang ada di forum.

“Nasib umat Islam tidak dapat digantungkan pada orang lain kecuali kita sendiri yang merebut dan memperjuangkannya,” pungkasnya. (LN/Red).

Comments
Loading...

Network LNM Media Center