MALANG — Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengapresiasi pengembangan program SIKAP di SMAN Taruna Nala Malang yang mampu memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai lahan produktif untuk mendukung ketahanan pangan.
Apresiasi tersebut disampaikan Khofifah saat meninjau sekaligus memanen hasil SIKAP di SMAN Taruna Nala Malang, Kamis (20/8/2026). Dalam kesempatan itu, Khofifah melihat langsung berbagai tanaman yang dikembangkan di lingkungan sekolah, mulai dari selada, terong, tomat, sawi hingga beragam buah dan sayuran.
Khofifah mengatakan, pengembangan tanaman pangan di sekolah menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran generasi muda terhadap ketahanan pangan. Menurutnya, sekolah memiliki potensi besar untuk menjadi ruang pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada akademik, tetapi juga keterampilan dan kemandirian.
“Ketahanan pangan perlu dikenalkan sejak dini kepada generasi muda. Apa yang dilakukan SMAN Taruna Nala ini menjadi contoh bahwa sekolah bisa menjadi bagian dari gerakan ketahanan pangan melalui pemanfaatan lahan yang ada secara produktif,” ujar Khofifah.
Menurut Khofifah, kegiatan bercocok tanam juga memberikan pengalaman langsung kepada siswa mengenai proses menghasilkan bahan pangan. Dengan demikian, nilai-nilai kemandirian, kepedulian terhadap lingkungan dan semangat gotong royong dapat tumbuh melalui aktivitas yang sederhana namun memberikan manfaat nyata.
Ia berharap praktik baik tersebut dapat terus dikembangkan dan menginspirasi satuan pendidikan lainnya di Jawa Timur untuk mengoptimalkan lingkungan sekolah masing-masing.
“Yang kita bangun bukan hanya hasil panennya, tetapi juga karakter dan kesadaran anak-anak bahwa pangan merupakan bagian penting dari kehidupan. Mereka belajar menanam, merawat, memanen, sekaligus memahami bagaimana menjaga keberlanjutan lingkungan,” tambahnya.
SIKAP Dorong Sekolah Jadi Lahan Produktif
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai mengatakan, program SIKAP di lingkungan satuan pendidikan merupakan bentuk pembelajaran kontekstual yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat langsung dalam kegiatan produktif.
Menurut Aries, SMAN Taruna Nala Malang menunjukkan bahwa keterbatasan lahan bukan menjadi kendala untuk mengembangkan kegiatan pertanian. Berbagai tanaman dapat dibudidayakan dengan memanfaatkan wadah dan media tanam sederhana.
“Kami ingin sekolah tidak hanya menjadi tempat untuk mendapatkan pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang praktik bagi siswa. Melalui SIKAP, mereka bisa belajar bagaimana memanfaatkan lingkungan sekolah untuk menghasilkan pangan sekaligus menjaga kelestarian lingkungan,” kata Aries.
Ia menambahkan, hasil budidaya tanaman di lingkungan sekolah juga menjadi media pembelajaran yang memperkuat keterampilan peserta didik. Siswa dapat memahami secara langsung proses menanam, merawat hingga memanen berbagai komoditas pangan.
“Ini adalah praktik baik yang perlu terus dikembangkan. Anak-anak tidak hanya melihat atau membaca tentang ketahanan pangan, tetapi mereka mengalami sendiri prosesnya. Harapannya, kesadaran tersebut terbawa hingga kehidupan mereka di tengah masyarakat,” jelasnya.
Pemanfaatan Lahan Sekolah untuk Ketahanan Pangan
Dalam peninjauan tersebut, Khofifah bersama jajaran melihat langsung sejumlah tanaman yang tumbuh di lingkungan SMAN Taruna Nala Malang. Beberapa tanaman dikembangkan menggunakan wadah sederhana, termasuk memanfaatkan botol bekas sebagai media tanam.
Selain sayuran, lingkungan sekolah juga dimanfaatkan untuk budidaya tanaman seperti terong, tomat, cabai dan berbagai jenis tanaman lainnya.
Kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa program ketahanan pangan dapat diterapkan dengan pendekatan sederhana dan menyesuaikan kondisi masing-masing sekolah.
Gubernur Khofifah dalam kesempatan itu didampingi Wakil Wali Kota Malang Ali Muthohirin, Danlanal Malang Kolonel Laut (P) Agus Haryanto, Kwarda Gerakan Pramuka Jawa Timur Arum Sabil dan Kadindik Jatim Aries Agung Paewai.
Pengembangan SIKAP di SMAN Taruna Nala Malang diharapkan menjadi salah satu contoh bagaimana satuan pendidikan dapat berkontribusi dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus memberikan pengalaman pembelajaran yang nyata kepada peserta didik.
Dengan mengoptimalkan lahan yang tersedia, sekolah tidak hanya menghasilkan berbagai tanaman pangan, tetapi juga menanamkan nilai kemandirian, kreativitas, kepedulian lingkungan dan gotong royong kepada generasi muda Jawa Timur.

