SURABAYA — Mantan karateka Jawa Timur, Umar Syarif, menerima penghargaan kategori Purna Atlet Berprestasi dalam Puncak Hari Olahraga Nasional (Haornas) 2026 yang digelar di Kampus C Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, Minggu (20/9/2026).
Penghargaan tersebut menjadi momentum bagi Umar untuk kembali mengenang perjalanan panjangnya sebagai atlet, termasuk perjuangan berat saat membela Indonesia di ajang internasional. Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya adalah ketika harus bertanding dengan kondisi cedera serius pada Asian Games 2005.
Umar mengisahkan, perjuangan tersebut bermula ketika dirinya mengalami cedera menjelang SEA Games 2005. Dalam kondisi yang membutuhkan tindakan operasi, ia dihadapkan pada pilihan sulit karena jika kedua kakinya menjalani operasi, peluang untuk tampil di ajang olahraga internasional praktis tertutup.
“Dua bulan menjelang SEA Games, yang satu putus. Kalau saya operasi dua-duanya, enggak bisa main. Makanya diputus satu,” kata Raja Karateka Asia Tenggara itu.
Keputusan tersebut membuat Umar harus menjalani persiapan dengan kondisi yang jauh dari ideal. Bahkan, ketika hendak tampil di Asian Games, dokter sempat menyatakan dirinya belum diperbolehkan bertanding karena baru menjalani operasi sekitar lima bulan sebelumnya.
Namun, kecintaan terhadap olahraga dan keinginan untuk membawa nama Indonesia menjadi kekuatan tersendiri bagi Umar.
“Dokter sudah vonis saya enggak boleh main karena masih baru lima bulan. Tapi saya tetap main,” ujarnya.
Menurut Umar, pengalaman bertanding dengan satu kaki menjadi salah satu bagian paling bersejarah dalam perjalanan kariernya sebagai atlet. Baginya, perjuangan seorang atlet bukan semata tentang memenangkan pertandingan, tetapi juga bagaimana mempertahankan semangat ketika menghadapi keterbatasan.
Ia pun mengingat kembali makna perjuangan seorang atlet yang mampu membuat Merah Putih berkibar di panggung internasional.
“Ketika olahraga, ada yang bilang bendera Merah Putih bisa berkibar,” kata Umar.
Penghargaan untuk Purna Atlet Dinilai Sangat Berarti
Umar menilai penghargaan yang diberikan pemerintah kepada para atlet yang telah memasuki masa purna bukan sekadar seremoni. Menurutnya, apresiasi tersebut memiliki arti penting karena menjadi pengakuan terhadap pengorbanan yang pernah diberikan atlet selama menjalani karier.
Ia berharap penghargaan itu dapat menjadi dorongan bagi para mantan atlet untuk tetap memberikan kontribusi kepada masyarakat melalui olahraga.
“Penghargaan dari pemerintah resmi ini sangat berarti buat atlet yang sudah purna. Ini bukan sekadar menjaga kebugaran, tetapi memberikan contoh,” tuturnya.
Umar juga menyinggung perjalanan atlet setelah tidak lagi aktif bertanding. Menurut dia, perjuangan atlet sering kali sangat berat ketika masih berada di arena, sementara perhatian terhadap mereka setelah pensiun menjadi tantangan tersendiri.
“Dulu kita mati-matian mengorbankan segalanya. Setelah selesai, enggak ada yang dilihat,” ujarnya.
Karena itu, ia berharap para atlet muda tidak mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan. Jatuh dan bangkit kembali, menurut Umar, merupakan bagian penting dalam membangun karakter seorang atlet.
“Untuk bisa gigih, untuk bisa jatuh dan bangkit kembali,” katanya.
Dorong Regenerasi Atlet Sejak Dini
Umar juga menaruh perhatian terhadap keberlanjutan regenerasi atlet Indonesia. Menurutnya, Indonesia memiliki banyak talenta olahraga yang berpotensi berprestasi di tingkat nasional maupun internasional.
Ia berharap generasi muda dapat melihat perjalanan para atlet senior sebagai pembelajaran mengenai pentingnya proses, disiplin, pengorbanan, dan kecintaan terhadap olahraga.
“Kenapa saya bisa 20 tahun? Tujuannya ke sana. Apa yang harus kita korbankan? Ya, kecintaan saja,” kata Umar.
Menurutnya, pembinaan atlet tidak cukup hanya berorientasi pada pencapaian prestasi. Jiwa dan karakter olahraga perlu dibangun sejak usia dini agar seorang atlet memiliki fondasi kuat dalam menjalani karier sekaligus kehidupan setelah pensiun.
Umar juga mengapresiasi keberadaan atlet dengan kemampuan khusus yang tetap berjuang di arena pertandingan. Ia menilai semangat para atlet dalam kategori tersebut dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat luas.
“Saya melihat mereka bisa menyemangati, bisa ngeblok. Ini luar biasa. Kita berikan apresiasi kepada atlet-atlet kita yang memiliki special ability,” ujarnya.
Baginya, semangat bertanding para atlet yang tampil dalam kategori khusus atau paralimpik menunjukkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berjuang.
Apresiasi untuk Dunia Usaha yang Peduli Olahraga
Dalam kesempatan tersebut, Umar turut memberikan apresiasi kepada badan usaha yang ikut mendukung perkembangan olahraga. Menurutnya, dukungan dari sektor swasta sangat dibutuhkan karena pembinaan dan peningkatan prestasi atlet membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Ia berharap perusahaan yang memberikan dukungan kepada cabang olahraga maupun atlet dapat terus dilibatkan dalam ekosistem olahraga nasional.
“Terima kasih kepada seluruh badan usaha, bukan saja yang mendukung Haornas malam hari ini, tetapi juga yang mendukung cabang-cabang olahraga,” katanya.
Umar menilai dukungan tersebut penting untuk memastikan atlet mendapatkan kesempatan berlatih dan bertanding secara optimal.
Ia juga mengajak para penerima penghargaan maupun pihak yang mendapat dukungan dari perusahaan untuk menyampaikan kontribusi tersebut kepada publik melalui kanal informasi dan media sosial.
Menurutnya, publik perlu mengetahui bahwa terdapat badan usaha yang memiliki kepedulian terhadap talenta-talenta olahraga Indonesia.
“Kita ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa kita harus meneladani badan-badan usaha yang peduli kepada talenta,” pungkas Umar.

