KEDIRI – Ketua Umum KONI Sidoarjo Muhammad Rafi Wibisono turun langsung memantau perjuangan atlet senam Sidoarjo dalam Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) PERSANI Jawa Timur 2026 di Convention Hall Simpang Lima Gumul, Kabupaten Kediri.
Kehadiran Rafi bukan sekadar untuk menyaksikan pertandingan. Ia ingin melihat langsung kualitas atlet sekaligus memetakan kekuatan dan kekurangan cabang olahraga (cabor) sebagai bagian dari persiapan menuju Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2027.
Kejurprov PERSANI Jatim 2026 yang berlangsung 18-20 September itu diikuti 279 atlet dari 24 kabupaten/kota di Jawa Timur. Sidoarjo sendiri mengirimkan 20 pesenam yang turun pada nomor senam artistik putra-putri, senam ritmik, dan sport aerobik.
Hasil dari nomor artistik menjadi pembuka yang cukup positif. Kontingen Sidoarjo berhasil membawa pulang tujuh medali, terdiri atas tiga perak dan empat perunggu.
Rafi mengatakan, kompetisi seperti Kejurprov memiliki arti penting bagi pembinaan olahraga prestasi. Sebab, pertandingan memberikan gambaran nyata mengenai kemampuan atlet setelah menjalani program latihan.
“Setiap cabor harus kita petakan. Kita ingin tahu kekuatan dan kekurangannya. Dari situ baru kita tentukan langkah pembinaannya,” ujar Rafi.
Menurut dia, pemetaan tersebut tidak hanya berkaitan dengan prestasi atlet. KONI juga perlu melihat berbagai aspek lain, mulai dari kualitas pelatih, program latihan, regenerasi, hingga kebutuhan sarana dan prasarana.
Karena itu, kehadirannya di arena pertandingan menjadi bagian dari proses evaluasi secara langsung. Penampilan atlet di lapangan dapat memberikan gambaran yang tidak selalu terlihat dalam laporan atau forum evaluasi.
Tujuh Medali dari Nomor Artistik Sesuai Target
Ketua Persani Sidoarjo, Ida, mengatakan capaian atlet pada nomor artistik sesuai dengan target yang telah ditetapkan sebelumnya.
“Alhamdulillah, semua target untuk hari ini tercapai. Bahkan di atas target kalau melihat peta atlet yang bertanding, dengan lebih dari 280 atlet di kelas artistik putra dan putri,” kata Ida.
Sebanyak 20 atlet Sidoarjo yang dikirim ke Kejurprov terdiri atas atlet senior dan junior. Rinciannya, dua atlet artistik putra, enam atlet artistik putri, delapan atlet ritmik, serta empat atlet sport aerobik.
Dari nomor artistik putra, Sidoarjo meraih medali perunggu pada nomor lantai senior dan pommel horse junior.
Sementara dari artistik putri, Sidoarjo mengoleksi medali perunggu beregu senior, perak meja lompat senior, perak lantai senior, perak palang bertingkat junior, serta perunggu lantai junior.
Dengan demikian, total tujuh medali berhasil dikumpulkan Sidoarjo dari nomor artistik, yakni tiga medali perak dan empat medali perunggu.
Capaian tersebut menunjukkan Sidoarjo mampu bersaing di sejumlah nomor. Namun bagi tim pembinaan, hasil pertandingan juga menjadi bahan untuk melihat bagian mana yang masih perlu diperkuat.
Jadi Bahan Pemetaan Menuju Porprov 2027
Dalam olahraga prestasi, medali memang menjadi indikator yang paling mudah dilihat. Namun, bagi KONI Sidoarjo, hasil pertandingan memiliki fungsi yang lebih luas.
Setiap penampilan atlet memberikan data mengenai kesiapan teknik, kondisi fisik, mental bertanding, hingga efektivitas program latihan yang selama ini dijalankan.
Hal tersebut menjadi semakin penting karena persaingan di tingkat Jawa Timur cukup ketat. Setiap kesalahan kecil dalam senam dapat memengaruhi nilai dan posisi atlet di klasemen.
Pada senam artistik putra, atlet berkompetisi di sejumlah perangkat seperti lantai, pommel horse, ring, meja lompat, palang sejajar, dan palang tunggal. Sementara artistik putri mempertandingkan meja lompat, palang bertingkat, balok keseimbangan, dan lantai.
Karakter setiap nomor berbeda. Atlet dituntut memiliki kombinasi kekuatan, kelenturan, keseimbangan, keberanian, serta presisi dalam setiap gerakan.
Karena itu, pencapaian tujuh medali tersebut tidak terlepas dari proses latihan yang panjang. Ada repetisi gerakan, koreksi teknik, penguatan fisik, hingga persiapan mental yang dilakukan atlet bersama pelatih.
“Proses tersebut penting untuk dibaca secara utuh. Bukan hanya siapa yang berhasil naik podium, tetapi juga bagaimana atlet mencapai hasil tersebut dan apa yang masih dapat ditingkatkan,” jelas Rafi.
Perjuangan kontingen senam Sidoarjo di Kejurprov PERSANI Jatim 2026 sendiri belum berakhir. Setelah nomor artistik, delapan atlet senam ritmik yang terdiri atas empat atlet junior dan empat senior akan melanjutkan perjuangan di arena.
Berikutnya, empat atlet sport aerobik, masing-masing dua senior dan dua junior, juga akan bertanding pada Sabtu.
“Artinya, tujuh medali yang diraih dari nomor artistik baru menjadi bagian awal dari perjalanan Sidoarjo di Kejurprov Jatim 2026,” ujar Rafi.
Bagi KONI Sidoarjo, setiap pertandingan yang dijalani atlet akan menjadi tambahan bahan evaluasi. Hasil tersebut nantinya dapat digunakan untuk melihat perkembangan atlet sekaligus menentukan kebutuhan pembinaan berikutnya.
Terlebih, seluruh proses tersebut diarahkan pada target yang lebih panjang, yakni Porprov Jawa Timur 2027.
Dari Medali Menuju Pembinaan Berkelanjutan
Kejurprov tidak hanya menjadi ajang untuk mengejar podium. Kompetisi juga menjadi ruang untuk menguji sejauh mana program pembinaan berjalan ketika berhadapan dengan persaingan sesungguhnya.
Atlet yang berhasil meraih medali perlu dijaga konsistensinya. Sementara atlet yang belum mencapai podium perlu diketahui titik yang harus diperbaiki. Regenerasi juga menjadi bagian penting agar prestasi tidak berhenti pada satu generasi.
Karena itu, pemetaan cabor yang dilakukan KONI Sidoarjo menjadi penting. Hasil pertandingan dapat menjadi dasar untuk mengevaluasi atlet, pelatih, program latihan, maupun kebutuhan pendukung lainnya.
Kehadiran Rafi Wibisono di arena Kejurprov PERSANI Jatim 2026 memperlihatkan pendekatan tersebut. Ia memilih melihat langsung proses pertandingan sebelum menjadikannya bagian dari evaluasi pembinaan.
Di Convention Hall Simpang Lima Gumul, tujuh medali sudah berhasil dikumpulkan Sidoarjo dari nomor artistik. Namun, pertandingan belum selesai. Masih ada nomor ritmik dan sport aerobik yang menunggu giliran. Setiap penampilan akan membawa data baru. Setiap hasil akan menjadi bahan evaluasi. Dan dari sanalah proses pembinaan menuju Porprov Jawa Timur 2027 terus disusun.
Sebab, dalam olahraga prestasi, medali memang menjadi hasil yang paling mudah terlihat. Namun, keberlanjutan prestasi ditentukan oleh seberapa kuat sistem pembinaan dibangun di belakangnya.

