Kadindik Aries Paewai Dorong SMK Ma’arif NU Jatim Berani Berubah dan Perkuat Sinergi dengan Industri

MALANG – Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur (Dindik Jatim) Aries Agung Paewai mendorong sekolah menengah kejuruan (SMK) Ma’arif NU dan SMK berbasis pondok pesantren di Jawa Timur berani melakukan perubahan. Langkah tersebut dinilai penting agar pendidikan vokasi semakin relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan industri.

Pesan itu disampaikan Aries saat menghadiri Rapat Koordinasi (Rakor) Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Ma’arif NU, yang mempertemukan para kepala SMK Ma’arif NU dan SMK pondok pesantren se-Jawa Timur di Malang, Senin (28/9/2026).

Mengusung semangat “Berani Berubah, Berani Mengambil Keputusan”, forum tersebut menjadi ruang konsolidasi untuk memperkuat sinergi antara sekolah, pondok pesantren, dunia usaha dan dunia industri (DUDI).

Aries menegaskan, perubahan di lingkungan SMK tidak cukup dilakukan melalui pergantian program atau pembaruan sarana. Kepala sekolah harus berani mengambil keputusan berdasarkan kebutuhan peserta didik serta perkembangan dunia kerja.

“Perubahan SMK dimulai dari keberanian mengambil keputusan,” demikian pesan Aries dalam kegiatan tersebut.

Menurut dia, sekolah perlu berani menghentikan program yang sudah tidak relevan, membuka diri terhadap industri, memperkuat kompetensi masa depan, serta mendorong guru untuk terus meningkatkan kapasitas.

Selain itu, hasil pendidikan juga harus diukur secara nyata, termasuk dengan melihat bagaimana lulusan SMK terserap di dunia kerja, melanjutkan pendidikan, maupun mengembangkan usaha secara mandiri.

SMK Harus Semakin Dekat dengan Industri

Aries mengatakan, tantangan pendidikan vokasi saat ini tidak hanya menghasilkan lulusan yang memiliki ijazah, tetapi juga memastikan mereka mempunyai kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja.

Karena itu, hubungan SMK dengan industri harus dibangun secara lebih konkret. Kurikulum, pembelajaran, praktik kerja, sertifikasi kompetensi hingga pengembangan keterampilan peserta didik perlu diselaraskan dengan kebutuhan lapangan.

Penguatan pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri sebenarnya bukan gagasan baru di Jawa Timur. Dalam pemberitaan Jawa Pos, Aries sebelumnya menyebut pengembangan SMK, termasuk melalui Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), diarahkan untuk mendukung transformasi pendidikan vokasi agar semakin relevan dengan kebutuhan industri.

Pendekatan tersebut menempatkan sekolah bukan sekadar sebagai tempat pembelajaran teori, tetapi juga sebagai ruang untuk membangun pengalaman kerja dan kemampuan praktis peserta didik.

Di sisi lain, LP Ma’arif NU Jawa Timur juga telah mengembangkan ekosistem pendukung pendidikan vokasi melalui Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) dan Bursa Kerja Khusus (BKK). Penguatan dua lembaga tersebut diarahkan untuk meningkatkan mutu lulusan sekaligus memperluas peluang penyerapan alumni SMK Ma’arif NU di dunia kerja.

Kepala Sekolah Dituntut Berani Mengambil Keputusan

Dalam forum tersebut, Aries juga menekankan pentingnya peran kepala sekolah sebagai penggerak perubahan. Kepala sekolah tidak cukup hanya menjalankan rutinitas administratif, tetapi harus mampu membaca perubahan dan mengambil keputusan yang berdampak terhadap kualitas pendidikan.

Guru juga didorong untuk tidak berhenti belajar. Perubahan teknologi, karakter peserta didik dan kebutuhan industri menuntut pendidik terus memperbarui kompetensinya.

“Sekolah harus membuka diri kepada industri, memperkuat kompetensi masa depan, menggerakkan guru untuk terus belajar, dan mengukur hasil kelulusan,” menjadi bagian penting dari pesan Aries dalam forum tersebut.

Arah kebijakan itu sejalan dengan perhatian Dindik Jatim terhadap penguatan kualitas pembelajaran dan kompetensi pendidik. Dalam sejumlah program sebelumnya, Aries juga menekankan pentingnya inovasi dan kolaborasi sebagai bagian dari transformasi pendidikan di Jawa Timur.

Terbaru, Aries bahkan turun langsung menjadi guru sehari di SMAN 4 Surabaya untuk merasakan proses pembelajaran dari sisi pendidik sekaligus mendengar pengalaman siswa secara langsung.

Bagi SMK Ma’arif NU dan SMK pondok pesantren, penguatan sinergi tersebut sekaligus menjadi tantangan untuk mempertahankan karakter pendidikan berbasis nilai keagamaan tanpa meninggalkan kebutuhan kompetensi modern.

Dengan jumlah SMK yang tersebar di berbagai daerah, kolaborasi antara Dindik Jatim, LP Ma’arif NU, pondok pesantren, dunia industri dan para kepala sekolah diharapkan mampu memperkuat kualitas pendidikan vokasi.

Rakor MKKS di Malang pun tidak sekadar menjadi forum koordinasi, tetapi menjadi momentum untuk menyatukan langkah. Pesannya jelas: SMK harus berani berubah, kepala sekolah harus berani mengambil keputusan, dan seluruh ekosistem pendidikan harus bergerak bersama agar lulusan memiliki kompetensi yang benar-benar dibutuhkan masyarakat dan dunia kerja.