JAKARTA, Lenzanasional – Pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang menuding gas Indonesia yang dikontrak Singapura dijual kembali ke negara lain, menuai kritik keras.
Inisiator Gerakan Nurani Kebangsaan (GNK), Syakur Ali Mahdi Alhamid, menilai pernyataan Bahlil yang juga menjabat Menteri Hilirisasi dan Transisi Energi serta Ketua Umum Partai Golkar itu ngawur, serampangan, dan merusak hubungan internasional.
“Seharusnya jika ada kecurigaan gas itu dijual lagi, Bahlil sebagai Menteri ESDM itu bisa memberikan sanksi tegas dan menginformasikan itu berdasarkan perjanjian internasional. Nah, sekarang kenyataannya Bahlil harus membuktikan,” tegas Syakur kepada wartawan, Jumat (30/10/2026).
Syakur mengingatkan, Bahlil tidak boleh menjadikan isu kontrak strategis antar-negara sebagai arena saling menjatuhkan dan menguji argumen secara tidak sehat di ruang publik.
“Bahlil sebagai menteri yang sekaligus Ketua Umum Partai Golkar harus betul-betul hati-hati sekali dalam mengumbar pernyataan. Jangan sampai pernyataan Bahlul itu dijadikan arena forum untuk saling menguji argumentasi secara tidak sehat,” sindirnya.
Menurut Syakur, kontrak kerja dengan Singapura itu sudah berdasarkan update kebutuhan dan kelangsungan sumber daya. Singapura bukan negara kaleng-kaleng yang main-main dengan kontrak energi.
“Logika saja ya, pemerintah Singapura itu tidak mungkin kontrak kerja gas dijual lagi ke negara lain kalau bukan untuk kebutuhan rakyatnya. Singapura itu negara yang sudah stabil, stabil politiknya, lebih stabil politiknya daripada Indonesia,” tegasnya.
Ia justru curiga pernyataan Bahlil yang mengumbar proksi tanpa data itu bermotif politik dan tidak paham peta perdagangan migas dunia.
“Gimana pemerintah Indonesia melalui Menteri ESDM mengumbar proksi? Ini untuk apa? Hasilnya apa? Kalau mengacu pada kebutuhan negara Singapura, saya yakin Singapura itu tidak akan melakukan penyelewengan terhadap janji perdagangannya,” ujarnya.
Syakur pun melontarkan kritik pedas, jangan sampai kecurigaan Bahlil yang tak berdasar ini melebar dan menjadi blunder internasional.
“Kalau Bahlil curiga gas dijual lagi, nanti ada kecurigaan lagi kebutuhan mineral dan batubara Singapura dijual lagi ke negara ketiga, keempat. Perdagangan dunia, perdagangan migas itu salah satu pusatnya di Singapura, mungkin di Dubai. Jangan asal bunyi,” ucapnya.
Ia menegaskan, Singapura mengelola negara untuk kepentingan rakyatnya, sehingga tidak mungkin melakukan praktik jual-beli gas yang mencoreng komitmen kontrak internasional seperti yang dituduhkan Bahlil tanpa bukti. (Lk)

