Surabaya International Challenge 2026 Jadi Ujian Racikan Baru Ganda Indonesia

SURABAYA — GOR Sudirman Surabaya bakal menjadi saksi persaingan 279 pebulutangkis dari 14 negara dalam Polytron Surabaya International Challenge 2026. Namun, turnamen yang digelar 22-27 September 2026 itu bukan semata tentang mengejar gelar juara dan poin ranking dunia.

Bagi Indonesia, ajang tersebut juga menjadi bagian dari proses mencari formula terbaik untuk sektor ganda.

Perubahan komposisi pasangan menjadi salah satu hal yang menarik perhatian dalam turnamen berlevel International Challenge ini. Sejumlah pemain Indonesia tampil dengan pasangan berbeda dibandingkan turnamen sebelumnya.

Ketua Pelaksana Polytron Surabaya International Challenge 2026, Yuni Kartika, mengatakan perubahan pasangan merupakan bagian dari proses evaluasi yang lazim dilakukan untuk mendapatkan kombinasi pemain paling ideal.

Menurut Yuni, proses tersebut tidak hanya mempertimbangkan kemampuan individu, tetapi juga kecocokan karakter permainan, komunikasi dan chemistry ketika berada di lapangan.

“Yang jelas tahun ini banyak sekali pergantian pemain. Tidak terkecuali Indonesia, semua negara juga melakukan hal ini. Karena tujuan utamanya mencari pasangan yang terbaik,” kata Yuni.

Ia mengibaratkan membangun pasangan ganda seperti membangun sebuah hubungan yang membutuhkan waktu untuk menemukan kecocokan.

“Pasangan hidup saja butuh proses, apalagi pasangan di dalam permainan ganda. Ketika dirasa cocok, mereka akan dipertandingkan dulu beberapa kali untuk melihat apakah ini sudah yang terbaik,” ujarnya.

Karena itu, pergantian pasangan bukan sekadar keputusan teknis. Setiap kombinasi harus diuji dalam pertandingan untuk mengetahui sejauh mana keduanya mampu saling melengkapi.

Yuni menyebut proses tersebut sebagai bagian dari rolling pemain. Dari sejumlah kombinasi yang dicoba, tim pelatih kemudian dapat melihat pasangan mana yang memiliki prospek paling sesuai.

“Di balik layarnya mesti ada penilaian yang membuat diganti dan membuat itu harus di-rolling. Rolling sana, rolling sini. Ini salah satu formasi untuk mencari yang terbaik. Memang tidak gampang mencari yang terbaik,” katanya.

Bagas Maulana dan Apriyani Rahayu Curi Perhatian

Salah satu eksperimen yang menjadi sorotan adalah duet Bagas Maulana dan Apriyani Rahayu di sektor ganda campuran.

Keduanya selama ini dikenal melalui perjalanan masing-masing di sektor ganda. Dipasangkan dalam nomor berbeda menjadi gambaran bagaimana proses pencarian komposisi baru terus dilakukan oleh Indonesia.

Apriyani sendiri sebelumnya sukses menjuarai Polytron Pontianak International Challenge 2026 bersama Dejan Ferdinansyah.

Menurut Yuni, performa dalam satu atau dua pertandingan belum cukup untuk menentukan apakah sebuah pasangan benar-benar ideal.

Ada sejumlah aspek yang harus dilihat, mulai dari pola permainan, komunikasi, respons ketika berada dalam tekanan hingga kemampuan beradaptasi dengan gaya permainan partner.

“Ketika dirasa cocok, mereka akan dipertandingkan dulu beberapa kali untuk melihat apakah ini sudah yang terbaik. Dinamikanya banyak,” tuturnya.

Eksperimen tersebut juga berkaitan dengan persiapan jangka panjang para pemain Indonesia. Menurut Yuni, ruang untuk melakukan perubahan akan semakin terbatas ketika pemain-pemain papan atas mulai memasuki fase Road to Olympic.

“Kalau top players tahun depan sudah termasuk ke Road to Olympic, kemungkinan untuk diganti itu kecil tahun depan. Makanya tahun ini banyak sekali pergantian pemain,” jelasnya.

Dengan demikian, musim 2026 menjadi momentum untuk melakukan berbagai pengujian sebelum komposisi pasangan memasuki fase yang lebih serius.

279 Pebulutangkis dari 14 Negara

Polytron Surabaya International Challenge 2026 mempertemukan 279 pemain dari 14 negara.

Indonesia menjadi kontingen terbesar dengan 162 peserta. Malaysia berada di urutan berikutnya dengan 40 peserta, disusul Chinese Taipei 15, Singapura 13, Filipina 11, Jepang sembilan, Thailand sembilan, India tujuh, Vietnam enam, Australia dua, Brunei Darussalam dua, serta Amerika Serikat, Inggris dan Sri Lanka yang masing-masing mengirim satu pemain.

Selain menjadi ajang perebutan gelar, turnamen dengan total hadiah US$20.000 tersebut juga menawarkan poin peringkat dunia bagi para peserta.

Level International Challenge sendiri memiliki karakteristik tersendiri. Para pemain yang berada di jajaran peringkat atas umumnya membidik turnamen dengan level lebih tinggi karena menawarkan poin dan hadiah yang lebih besar.

“Kalau rankingnya kecil, kalaupun juara poinnya kecil, hadiahnya kecil. Makanya top players pasti akan main di level-level yang lebih tinggi,” ujar Yuni.

Situasi tersebut membuat turnamen di Surabaya memiliki fungsi penting bagi pemain yang sedang berusaha memperbaiki peringkat, menambah jam terbang internasional maupun menguji pasangan baru.

Indonesia Kuasai Empat Unggulan Ganda Campuran

Komposisi unggulan juga memperlihatkan kuatnya persaingan wakil Indonesia, terutama di nomor ganda campuran.

Empat unggulan teratas seluruhnya dihuni pasangan Indonesia. Bimo Prasetyo/Arlya Nabila Tesya Munggaran menjadi unggulan pertama, diikuti Rehan Naufal Kusharjanto/Melati Daeva Oktavianti.

Posisi ketiga ditempati Renaldi Samosir/Masita Mahmudin, sedangkan M. Nawaf Khoiriansyah/Nahya Muhyifa berada di urutan keempat.

Sektor tunggal putra menempatkan Richie Duta Ricardo sebagai unggulan pertama setelah sebelumnya meraih gelar Polytron Pontianak International Challenge 2026. Bismo Raya Oktora menjadi unggulan kedua, disusul Chico Aura Dwi Wardoyo dan wakil India Meiraba Luwang Maisnam.

Di tunggal putri, pemain Jepang Sakura Masuki menjadi unggulan pertama. Ia diikuti Vu Thi Trang dari Vietnam, sementara Passa-Orn dari Thailand berada di posisi ketiga dan wakil Indonesia Dalila Aghnia Puteri menjadi unggulan keempat.

Pada ganda putra, Malaysia menempatkan Choong Hon Jian/Wong Vin Sean sebagai unggulan pertama. Indonesia memiliki Rahmat Hidayat/Karsten Darma sebagai unggulan kedua.

Pulung Ramadhan/Wahyu Agung Prasetyo juga menjadi salah satu pasangan yang patut diperhatikan setelah sebelumnya memenangkan Polytron Pontianak International Challenge 2026.

Sementara itu, ganda putri menempatkan pasangan Jepang Momoha Niimi/Mikoto Aiso sebagai unggulan pertama. Siti Sarah Azzahra/Velisha Christina menjadi unggulan kedua.

Polytron Perkuat Dukungan untuk Bulutangkis

Dukungan terhadap perkembangan bulutangkis juga menjadi bagian dari penyelenggaraan turnamen tersebut.

Public Relation Manager Polytron, Kenny Meigar, mengatakan perusahaan tidak hanya mendukung pelaksanaan turnamen di Surabaya.

Sebelumnya, Polytron telah mendukung Polytron Pontianak International Challenge 2026 dan Polytron Pontianak Indonesia Masters 2026 pada Agustus lalu.

Dukungan itu selanjutnya akan berlanjut melalui penyelenggaraan turnamen di Yogyakarta dan Kudus.

“Polytron tidak berhenti hanya sampai di sini. Kami terus berupaya mendukung pelaksanaan badminton semaksimal mungkin,” kata Kenny.

Menurut dia, olahraga memiliki kemampuan mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang.

“Rasa-rasanya untuk saat ini ada yang bisa menyatukan kita sebegitu erat selain olahraga, salah satunya badminton. Kami harap badminton ini bisa jadi ajang kita untuk menggalang dukungan dan juga membangun kolektivisme bersama,” ujarnya.

Ketua Pengprov PBSI Jawa Timur, Tonny Wahyudi, turut menyambut penyelenggaraan Polytron Surabaya International Challenge 2026.

Kehadiran turnamen internasional di Surabaya dinilai memberikan ruang bagi atlet, terutama dari Jawa Timur, untuk mendapatkan pengalaman bertanding melawan pemain dari berbagai negara.

Kompetisi tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat atmosfer dan ekosistem bulutangkis di daerah.

Masyarakat juga dapat menyaksikan langsung seluruh pertandingan di GOR Sudirman Surabaya tanpa dipungut biaya.

Selama sepekan, GOR Sudirman bukan hanya menjadi arena perebutan gelar. Bagi Indonesia, turnamen ini juga menjadi ruang pengujian untuk melihat sejauh mana racikan pasangan baru mampu berkembang.

Dari proses bongkar-pasang itulah, para pemain diharapkan menemukan chemistry, pola permainan dan kombinasi yang paling sesuai sebelum menghadapi persaingan di level yang lebih tinggi.