SMKN 1 Tulungagung Dorong Produk Olahan Murid Naik Kelas Lewat Program SIKAP

TULUNGAGUNG – Program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP) di SMKN 1 Tulungagung terus dikembangkan bukan sekadar sebagai kegiatan budidaya, tetapi juga menjadi ruang bagi murid untuk mengolah hasil pangan menjadi produk bernilai ekonomi.

Berbagai produk olahan hasil praktik siswa mulai dari keripik buah hingga keripik kulit ikan patin menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis ketahanan pangan dapat berjalan beriringan dengan penguatan keterampilan vokasi dan kewirausahaan.

Aktivitas tersebut terlihat dalam rangkaian kegiatan Program SIKAP di SMKN 1 Tulungagung. Para murid tidak hanya belajar menanam dan memelihara komoditas pangan, tetapi juga diarahkan memahami proses pengolahan hingga menghasilkan produk yang memiliki peluang untuk dipasarkan.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Aries Agung Paewai, sebelumnya menekankan bahwa pola pembelajaran semacam ini penting karena membuat siswa tidak berhenti pada pemahaman teori.

“Kami berharap anak-anak bisa terkoneksi antara materi kurikulum dengan praktik di lapangan. Proses belajar menjadi lebih linier, anak-anak lebih bersemangat dan proaktif karena mereka tidak hanya duduk di kelas,” ujar Aries dalam peninjauan Program SIKAP di SMKN 1 Tulungagung.

Menurut Aries, keterlibatan langsung siswa dalam proses produksi juga membuat pembelajaran menjadi lebih kontekstual. Guru berperan sebagai pendamping, sementara murid mendapatkan pengalaman langsung dari objek yang mereka pelajari.

“Guru menjadi penguat dan pendamping, sementara murid belajar langsung dengan obyeknya. Ini yang membuat pembelajaran lebih bermakna,” katanya.

Di SMKN 1 Tulungagung, konsep tersebut terlihat dari beragam potensi yang dikembangkan. Sekolah mengolah hasil pertanian, perkebunan, dan perikanan menjadi produk bernilai tambah. Salah satu yang mendapat perhatian adalah pengolahan kulit ikan patin menjadi makanan ringan.

Pengembangan produk olahan menjadi bagian penting dari hilirisasi Program SIKAP. Artinya, hasil yang sebelumnya hanya berhenti sebagai komoditas mentah dapat diolah melalui kreativitas siswa menjadi produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

Hal tersebut sejalan dengan dorongan Pemprov Jatim agar Program SIKAP tidak berhenti pada kegiatan menanam, beternak, atau budi daya ikan. Program ini juga diarahkan untuk membangun karakter produktif sekaligus mengenalkan siswa pada proses kewirausahaan sejak bangku sekolah.

Dalam kunjungannya ke SMKN 1 Tulungagung, Aries juga menyebut sekolah tersebut sebagai salah satu contoh pendidikan vokasi yang kuat. Sekolah ini memiliki kompetensi di bidang agribisnis, agroteknologi, peternakan, perikanan hingga pengawasan mutu hasil pertanian.

Pengalaman praktik tersebut sekaligus membuka peluang bagi murid untuk mengenal rantai produksi secara utuh. Mulai dari memilih bahan baku, mengolah, menjaga kualitas, mengemas, hingga memperkenalkan produk kepada konsumen.

Aries menilai pendekatan seperti ini penting agar pendidikan vokasi benar-benar memberikan bekal yang relevan dengan kebutuhan masa depan.

“Pendidikan tidak hanya menghasilkan ijazah, tetapi juga menghasilkan keterampilan hidup,” tegas Aries.

Program SIKAP sendiri merupakan salah satu upaya Jawa Timur memperkuat ketahanan pangan melalui lingkungan pendidikan. Di SMKN 1 Tulungagung, implementasinya semakin relevan karena karakter sekolah memang memiliki kekuatan pada bidang pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan.

Dengan dukungan pembelajaran berbasis praktik, produk olahan murid diharapkan tidak hanya menjadi hasil tugas sekolah. Lebih jauh, produk tersebut dapat berkembang menjadi karya kreatif yang memiliki nilai ekonomi sekaligus menjadi pengalaman nyata bagi siswa untuk mengenal dunia usaha.

Langkah itu menjadi bagian dari upaya menjadikan SMK bukan hanya tempat memperoleh kompetensi akademik dan kejuruan, tetapi juga ruang untuk melahirkan generasi yang produktif, mandiri, kreatif, dan siap bersaing.

Pengembangan produk SIKAP di SMKN 1 Tulungagung pun menunjukkan satu hal penting: ketahanan pangan dapat dimulai dari sekolah, sementara kreativitas siswa bisa menjadi pintu masuk menuju kewirausahaan dan kemandirian ekonomi.

Konteks kutipan Aries di atas selaras dengan pernyataannya saat peninjauan Program SIKAP di SMKN 1 Tulungagung pada Januari 2026. Data mengenai pengembangan produk olahan kulit ikan patin dan hilirisasi SIKAP di sekolah tersebut juga diberitakan dalam kunjungan Gubernur Jatim pada Mei 2026.