SURABAYA – Prestasi pelajar Jawa Timur kembali mencuri perhatian di tingkat nasional. Kontingen Jawa Timur berhasil meraih juara umum Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2026 dengan mengoleksi sembilan medali, terdiri atas dua emas, tiga perak, dan empat perunggu.
Capaian tersebut menempatkan Jawa Timur di posisi teratas dalam perolehan medali OPSI 2026. Di bawah Jatim terdapat DKI Jakarta dengan enam medali, Jawa Tengah tujuh medali, Banten dua medali, dan Daerah Istimewa Yogyakarta dua medali.
Prestasi itu menjadi catatan penting bagi dunia pendidikan Jawa Timur karena OPSI bukan sekadar kompetisi akademik. Ajang tersebut menjadi ruang bagi para murid untuk mengembangkan kemampuan penelitian, berpikir kritis, menyusun gagasan berdasarkan data, hingga menawarkan solusi atas persoalan yang ditemukan di lingkungan sekitar.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Aries Agung Paewai mengatakan capaian tersebut tidak terlepas dari proses pembinaan yang dilakukan secara bertahap sejak seleksi hingga persiapan menghadapi babak final.
Sebelumnya, sebanyak 22 tim Jawa Timur berhasil melaju ke final OPSI Nasional 2026. Kontingen tersebut terdiri atas sembilan tim jenjang SMA/MA dan 13 tim SMP/MTs. Menurut Aries, lebih dari 4.000 siswa di Jawa Timur mengikuti proses seleksi untuk menjadi bagian dari kontingen OPSI, sementara sebanyak 1.154 siswa melanjutkan proses penelitian.
“Anak-anak ini tidak hanya kita siapkan untuk mengikuti lomba, tetapi juga kita dorong agar mampu menghasilkan penelitian yang menjawab persoalan di lingkungan sekitar,” kata Aries, Rabu (30/9/2026).
Pembinaan Riset Dimulai dari Sekolah
Aries menilai keberhasilan siswa Jatim di OPSI tidak bisa dilepaskan dari ekosistem penelitian yang terus dibangun di sekolah. Proses tersebut dimulai dari keberanian siswa mengajukan pertanyaan, menemukan persoalan, menyusun hipotesis, melakukan penelitian, hingga mampu mempertanggungjawabkan hasilnya di hadapan juri.
Dindik Jatim sebelumnya juga menggelar final camp pada 18-19 September 2026 di UPT PTKK Dindik Jatim untuk mematangkan 22 wakil Jawa Timur sebelum menghadapi final OPSI Nasional yang berlangsung di Jakarta pada 24-30 September 2026. Materi pembinaan tidak hanya menyentuh substansi penelitian, tetapi juga kemampuan presentasi, penyajian data, validitas riset, hingga kesiapan peserta menghadapi perubahan mekanisme penilaian.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa persiapan menghadapi OPSI tidak dilakukan secara instan. Siswa diberikan ruang untuk memperbaiki penelitian sekaligus mengasah kemampuan menyampaikan gagasan secara runtut dan meyakinkan.
Sejumlah karya yang dibawa tim Jawa Timur ke tingkat nasional juga memperlihatkan bagaimana penelitian siswa diarahkan untuk menyentuh persoalan nyata.
Salah satunya dikembangkan siswa SMA Negeri 5 Surabaya yang memanfaatkan eceng gondok untuk membantu mengolah air tercemar. Tanaman yang selama ini kerap dipandang sebagai gulma tersebut diekstrak dan diolah menjadi serbuk penyaring.
Penelitian tersebut sekaligus berupaya menjawab dua persoalan, yakni keberadaan eceng gondok yang berlebihan dan kebutuhan terhadap air yang lebih bersih.
Inovasi lainnya datang dari siswa SMP Al Falah Darussalam Sidoarjo melalui pengembangan alat untuk mendeteksi korban bencana yang masih bernapas dengan memanfaatkan sensor seismik. Gagasan tersebut terinspirasi dari peristiwa bencana bangunan ambruk yang terjadi di Sidoarjo.
Menurut Aries, karya-karya tersebut memperlihatkan bahwa penelitian siswa dapat diarahkan untuk menghasilkan solusi yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Bukan Sekadar Mengejar Medali
Capaian sembilan medali pada OPSI 2026 sekaligus melanjutkan tradisi prestasi Jawa Timur dalam ajang penelitian pelajar nasional.
Pada OPSI 2024, Jawa Timur menjadi juara umum dengan total 23 medali. Rinciannya, lima medali emas, tujuh perak, dan 12 perunggu yang diraih dari jenjang SMA serta SMP/MTs.
Setahun kemudian, pada OPSI 2025, Jatim kembali mempertahankan gelar juara umum dengan raihan 21 medali. Capaian tersebut menjadi gelar juara umum kedua secara beruntun bagi Jawa Timur.
Dengan keberhasilan pada 2026, Jatim kembali menunjukkan konsistensi dalam membangun pembinaan talenta penelitian pelajar.
Aries sebelumnya menegaskan bahwa keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja bersama antara siswa, guru pembimbing, sekolah, pendamping, dan orang tua. Ia juga menyebut keberadaan kegiatan Karya Ilmiah Remaja (KIR) di sekolah-sekolah Jawa Timur sebagai salah satu ruang penting dalam membangun budaya penelitian sejak dini.
Karena itu, medali OPSI 2026 tidak semata dipandang sebagai penghargaan kompetisi. Lebih jauh, capaian tersebut menjadi indikator bahwa kemampuan riset, inovasi dan pemecahan masalah mulai mendapat ruang yang semakin kuat dalam proses pendidikan.
Peserta OPSI 2026 Tembus 39.300 Murid
OPSI sendiri merupakan salah satu ajang talenta yang diselenggarakan melalui Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Kompetisi ini diperuntukkan bagi murid jenjang SMP/MTs, SMA/MA dan sederajat.
Pada 2026, jumlah peserta OPSI secara nasional mencapai sekitar 39.300 murid, meningkat dibandingkan 2025 yang tercatat 26.723 peserta.
Dalam panduan OPSI 2026, proses penilaian tidak hanya melihat hasil penelitian. Peserta juga dinilai melalui pameran hasil karya, presentasi dan wawancara, serta Research Idea Challenge. Sistem tersebut membuat peserta dituntut bukan hanya menghasilkan karya, tetapi juga mampu menjelaskan gagasan, proses penelitian, temuan, serta manfaat dari penelitian yang dilakukan.
Bagi Jawa Timur, capaian juara umum OPSI 2026 sekaligus menjadi pekerjaan lanjutan. Tradisi prestasi tersebut perlu diikuti dengan semakin banyaknya siswa yang tertarik melakukan penelitian, bukan hanya mereka yang berhasil menembus kompetisi nasional.
Aries berharap pengalaman yang diperoleh para peserta OPSI dapat ditularkan kepada siswa lainnya di sekolah masing-masing. Dengan begitu, budaya riset tidak berhenti setelah kompetisi berakhir, tetapi berkembang menjadi bagian dari proses pembelajaran.
“Anak-anak ini tidak hanya kita siapkan untuk mengikuti lomba,” ujar Aries, “tetapi juga kita dorong agar mampu menghasilkan penelitian yang menjawab persoalan di lingkungan sekitar.”
Bagi Jawa Timur, sembilan medali OPSI 2026 akhirnya bukan sekadar angka dalam tabel perolehan medali. Di balik capaian tersebut terdapat proses panjang pembinaan, keberanian siswa mencari jawaban atas persoalan, serta kerja bersama sekolah dan pendamping untuk melahirkan generasi muda yang terbiasa meneliti, berpikir kritis, dan menciptakan inovasi.

