SURABAYA — Semarak HUT ke-81 Republik Indonesia turut dirasakan 22 anak disabilitas melalui kegiatan yang digelar Unit Layanan Anak Berkebutuhan Khusus (ULABK) Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Namun, perlombaan yang berlangsung di Gedung Unesa Science Center, Jumat (14/8/2026), tidak sekadar menjadi ajang hiburan.
Beragam permainan dirancang sebagai aktivitas terapi yang dapat membantu meningkatkan fokus, koordinasi, kemampuan kognitif, komunikasi, hingga interaksi sosial anak.
Sejumlah lomba yang digelar antara lain lomba bendera, kreasi melukis kipas, meronce, memindahkan bendera, menyusun kata, berjalan zig-zag, memindahkan bola menggunakan nampan, serta permainan sensorik. Seluruh kegiatan diberikan secara gratis dan diikuti peserta bersama orang tua.
Ketua Disability Innovation Center Unesa, Budiyanto, mengatakan kegiatan tersebut merupakan agenda tahunan ULABK yang setiap tahun dikembangkan dengan pendekatan yang menyesuaikan kebutuhan anak.
Menurutnya, peringatan kemerdekaan menjadi momentum untuk memberikan kesempatan kepada anak-anak disabilitas mengekspresikan diri sekaligus mendapatkan pengalaman bersosialisasi dengan lingkungan.
“Bagi anak itu sendiri, kegiatan ini dapat mengekspresikan diri meerka secara bebas dan fun. Bagi masyarakat ini dapat menjadi semangat bahwa semua anak perlu didorong untuk terus berkembang. Anak-anak seperti ini, sebenarnya kalau mendapatkan sentuhan layanan yang baik, bukan tidak mungkin bisa berkembang dengan baik,” tandasnya.
Budiyanto menjelaskan, peserta ULABK memiliki beragam kondisi, mulai dari hambatan intelektual, hambatan emosi hingga autisme. Karena itu, seluruh aktivitas disusun agar dapat diikuti sesuai kemampuan masing-masing anak.
Selain memberikan pengalaman mengikuti perlombaan, interaksi antarpeserta juga menjadi bagian penting dari kegiatan. Anak-anak yang sebelumnya belum saling mengenal mendapatkan kesempatan untuk beraktivitas bersama, berkomunikasi, dan membangun relasi sosial.
“Jadi nggak hanya sekadar lomba, tapi lombanya itu yang bisa bermanfaat untuk perkembangan kognitif dan fokusnya,” ujar Dara.
Ia menambahkan, pembagian kelompok dilakukan berdasarkan usia dan kemampuan peserta. Dengan pendekatan tersebut, anak tidak hanya diajak berkompetisi, tetapi juga belajar bekerja sama, mengikuti aturan permainan, serta berinteraksi dengan orang lain.
Dara berharap kegiatan tersebut juga memberikan pemahaman kepada orang tua mengenai pentingnya mendukung perkembangan anak berdasarkan kemampuan masing-masing.
“Harapannya setelah acara ini, orang tua itu bisa mendukung anak lebih baik dan mengetahui potensi atau kemampuan anak masing-masing. Terus juga tidak menuntut anak terlalu lebih, karena harus berdasarkan dengan kemampuan yang masing-masing. Karena setiap anak itu punya milestone-nya sendiri-sendiri,” tandasnya.
Dari sisi orang tua, kegiatan tersebut dinilai memberikan pengalaman positif bagi anak. Selain mendapatkan kesempatan merasakan suasana perayaan kemerdekaan, anak juga dapat berlatih mengendalikan diri dan memahami nilai-nilai dalam sebuah permainan.
Sri Jayanti, orang tua Nayan Krishnan, mengaku anaknya menikmati berbagai rangkaian kegiatan, termasuk lomba meronce dan mewarnai kipas.
“Ini termasuk latih untuk kontrol diri juga. Saya tanamkan kepada anak kalau menang kalah bagi saya tidak terlalu penting. Menurut saya, yang paling penting adalah kejujuran,” ujarnya.
Menurut Sri, pengalaman seperti ini penting karena kemampuan anak tidak hanya dibentuk melalui pembelajaran formal. Aktivitas sederhana yang dilakukan bersama teman sebaya juga dapat menjadi sarana bagi anak untuk belajar mengelola emosi, mengikuti aturan, dan menikmati proses.
Melalui kegiatan tersebut, ULABK Unesa menunjukkan bahwa perayaan kemerdekaan dapat dikemas menjadi ruang yang inklusif sekaligus memberikan manfaat bagi perkembangan anak disabilitas. Semangat kemerdekaan pun tidak hanya diwujudkan melalui seremoni, tetapi juga melalui kesempatan bagi setiap anak untuk berkembang sesuai potensi dan tahap perkembangannya.

