Tim PKM PJKR Unesa Bekali Guru PJOK Surabaya dengan Dasar Hipnoterapi untuk Dukung Kesehatan Mental Siswa

SURABAYA — Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) memiliki ruang interaksi yang cukup dekat dengan siswa. Kondisi tersebut membuat mereka tidak jarang berhadapan dengan berbagai persoalan psikologis peserta didik, mulai dari kurang percaya diri, kecemasan, stres, hingga ketakutan yang dapat memengaruhi proses pembelajaran.

Melihat kondisi tersebut, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) membekali guru PJOK SMP se-Kotamadya Surabaya dengan pemahaman dasar mengenai hipnoterapi.

Pelatihan digelar di Ruang Studio, Gedung U5 Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Unesa, Sabtu (15/8/2026). Sebanyak 30 guru PJOK SMP mengikuti kegiatan yang diarahkan untuk memperluas wawasan guru dalam mendukung kondisi psikologis siswa di lingkungan sekolah.

Pelatihan menghadirkan Agus Purnomo dari Metal Power Consultant (MPC) sebagai narasumber. Ia memiliki pengalaman dalam praktik hipnoterapi untuk berbagai kebutuhan, antara lain pengembangan sumber daya manusia, forensik, fobia, serta persoalan psikologis lainnya.

Ketua Tim PKM PJKR Unesa, Anung Priambodo, mengatakan guru PJOK memiliki posisi yang cukup strategis karena proses pembelajaran olahraga memungkinkan terjadinya interaksi langsung dengan siswa dalam berbagai situasi.

Menurutnya, kedekatan tersebut membuat guru PJOK berpotensi menemukan persoalan psikologis yang sedang dialami peserta didik.

“Guru PJOK memiliki intensitas interaksi yang cukup dekat dengan siswa. Melalui kegiatan ini, kami ingin memberikan bekal agar guru memiliki pemahaman dasar mengenai hipnoterapi yang dapat dimanfaatkan untuk membantu mendukung kondisi psikologis siswa,” ujarnya.

Dalam pelatihan tersebut, para guru tidak hanya mendapatkan materi secara teoritis. Mereka diperkenalkan dengan konsep dasar hipnosis dan hipnoterapi, termasuk sejarah, prinsip kerja, hingga tahapan dalam proses hipnoterapi.

Salah satu materi yang menjadi perhatian adalah pemahaman mengenai hipnosis. Selama ini, hipnosis masih kerap dipersepsikan sebagai tindakan manipulatif atau cara untuk mengendalikan seseorang di luar kesadarannya.

Agus Purnomo menjelaskan, hipnoterapi memiliki proses dan tahapan yang terarah sehingga tidak dapat disamakan dengan persepsi tersebut.

“Hipnosis bukan seperti persepsi yang berkembang selama ini sebagai tindakan menipu atau membuat seseorang kehilangan kendali. Hipnoterapi memiliki tahapan yang jelas dan dapat digunakan untuk membantu penyelesaian berbagai permasalahan mental,” katanya.

Peserta kemudian diperkenalkan dengan sejumlah tahapan dalam hipnoterapi, mulai dari pra-induksi, induksi, terapi, hingga terminasi. Pemahaman tersebut dilengkapi dengan praktik langsung agar guru tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mengetahui gambaran prosesnya.

Dalam sesi praktik, peserta mengikuti suggestibility test, simulasi induksi, latihan menyusun kata-kata sugesti, hingga proses terminasi. Para guru juga aktif berdiskusi mengenai kemungkinan penerapan pengetahuan tersebut dalam konteks pendidikan.

Antusiasme peserta terlihat dari berbagai pertanyaan yang disampaikan selama pelatihan. Sejumlah guru mengaitkan materi dengan kondisi yang mereka temui ketika mendampingi siswa, terutama peserta didik yang mengalami hambatan psikologis selama mengikuti pembelajaran.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan post test dan pemberian umpan balik dari peserta. Sebagian besar peserta menilai pelatihan tersebut memberikan wawasan baru mengenai pendekatan yang dapat digunakan untuk memahami dan mendukung kondisi psikologis siswa.

Tim PKM PJKR Unesa berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada pelatihan satu kali. Kolaborasi antara akademisi dan guru PJOK diharapkan dapat terus dikembangkan melalui pertukaran pengalaman dan pengetahuan, terutama dalam menghadapi berbagai persoalan psikologis yang muncul di lingkungan sekolah.

Dengan demikian, guru PJOK tidak hanya berperan dalam mendorong kebugaran dan aktivitas fisik siswa, tetapi juga semakin memiliki wawasan untuk mendukung lingkungan pembelajaran yang memperhatikan aspek kesehatan mental peserta didik.