SURABAYA – Menjadi wisudawan terbaik bukan sekadar soal capaian akademik. Bagi Vanessa Aulia Syifa Yudiasmara dan Iftitah Rahma Safira, prestasi tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang selama menempuh pendidikan di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Vanessa dinobatkan sebagai wisudawan terbaik Fakultas Vokasi Unesa pada periode wisuda ke-122 tahun 2026. Sementara Iftitah meraih predikat serupa dari Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Unesa.
Meski berasal dari fakultas berbeda, keduanya memiliki cara masing-masing dalam menerapkan ilmu yang dipelajari selama kuliah.
Vanessa memilih mengembangkan teknologi untuk menjawab persoalan penanganan infrastruktur pascabencana. Melalui tugas akhirnya, ia membuat aplikasi web e-Government berbasis Laravel dan MySQL.
Aplikasi tersebut dirancang untuk membantu menentukan prioritas rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur yang terdampak bencana berdasarkan sejumlah kriteria.
Pengerjaan tugas akhir itu menjadi tantangan tersendiri bagi Vanessa. Ia harus memperdalam berbagai referensi secara mandiri, memahami metode pendukung keputusan, sekaligus menerjemahkan perhitungan matematis ke dalam sistem pemrograman.
Namun, tantangan akademik tersebut datang bersamaan dengan ujian pribadi. Ketika skripsinya belum selesai, Vanessa kehilangan ayahnya yang berprofesi sebagai arsitek.
Kepergian sang ayah membuat proses penyelesaian skripsi sempat terhenti. Dalam kondisi tersebut, dukungan dosen pembimbing dan orang-orang terdekat menjadi salah satu alasan Vanessa kembali melanjutkan pekerjaannya.
Ia akhirnya mampu menyelesaikan tugas akhir hingga tuntas.
Bagi Vanessa, proses tersebut memberikan pengalaman bahwa perjalanan untuk mencapai sebuah prestasi tidak selalu berlangsung mulus. Ada masa ketika seseorang harus berhenti sejenak, menghadapi persoalan, kemudian kembali melanjutkan langkah.
Game Edukasi untuk Anak Sekolah Dasar
Sementara itu, Iftitah Rahma Safira menempuh jalur berbeda. Sebagai mahasiswa FIP Unesa, ia memilih dunia pendidikan sebagai ruang untuk mengembangkan ilmu sekaligus mempersiapkan diri menjadi seorang pendidik.
Dalam tugas akhirnya, Iftitah menciptakan “Nina’s Smart Choice”, game edukatif berbasis web untuk membantu siswa kelas IV memahami materi mengenai kebutuhan dan keinginan.
Materi tersebut dikemas melalui permainan sehingga siswa dapat mempelajarinya dengan pendekatan yang lebih interaktif dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Penelitian Iftitah menunjukkan bahwa penggunaan game tersebut dapat membantu meningkatkan hasil belajar IPAS. Media pembelajaran itu juga menjadi alternatif untuk menciptakan proses belajar yang lebih kontekstual dan menarik bagi siswa.
Perjalanan menyelesaikan skripsi pun tidak sepenuhnya mudah. Iftitah sempat mengalami kejenuhan ketika harus menyelesaikan tugas akhir.
Untuk menjaga semangat, ia memilih melakukan aktivitas di luar rutinitas akademik, seperti berjalan-jalan atau mengerjakan tugas bersama teman.
Pengalaman di lapangan turut memperkaya pandangannya mengenai dunia pendidikan. Saat mengikuti KKN di Banyuwangi dan Program Surabaya Mengajar di SDN Pagesangan Surabaya, Iftitah melihat langsung perbedaan kondisi antarsekolah.
Tidak semua sekolah memiliki fasilitas dan kondisi pembelajaran yang sama. Namun, menurutnya, keterbatasan tersebut tidak menghilangkan semangat anak-anak untuk belajar.
Pengalaman tersebut justru semakin memperkuat keinginannya untuk menekuni profesi guru.
Setelah lulus dari Unesa, Iftitah berencana melanjutkan Pendidikan Profesi Guru (PPG) dan mengikuti seleksi CPNS.
Karya Menjadi Bagian dari Perjalanan
Vanessa dan Iftitah memang menghasilkan karya di bidang yang berbeda. Vanessa mengembangkan teknologi untuk mendukung penanganan pascabencana, sedangkan Iftitah menciptakan media digital untuk membantu proses pembelajaran siswa.
Namun, keduanya memiliki kesamaan dalam cara memandang pendidikan. Ilmu yang diperoleh selama berada di bangku kuliah tidak berhenti sebagai teori maupun nilai akademik.
Ilmu tersebut mereka coba wujudkan dalam karya yang memiliki kegunaan.
Bagi Vanessa, perjalanan menjadi wisudawan terbaik juga tidak bisa dilepaskan dari pengalaman menghadapi kehilangan dan menyelesaikan tanggung jawab akademik di tengah situasi sulit.
Sedangkan bagi Iftitah, pengalaman berinteraksi langsung dengan siswa dan lingkungan sekolah semakin menguatkan pilihan untuk mengabdikan diri di dunia pendidikan.
Kini, setelah menyandang gelar sebagai lulusan terbaik di fakultas masing-masing, keduanya menghadapi tahap baru.
Vanessa membawa pengalaman di bidang teknologi dan pengembangan sistem. Iftitah membawa pengalaman serta tekad untuk melanjutkan perjalanan sebagai calon pendidik.
Prestasi yang diraih keduanya menjadi penanda bahwa perjalanan di perguruan tinggi bukan hanya tentang menyelesaikan studi. Lebih jauh, pendidikan dapat menjadi ruang untuk membentuk gagasan, menghasilkan karya, dan mempersiapkan lulusan agar mampu memberikan manfaat setelah kembali ke tengah masyarakat.

