SURABAYA – Perjalanan Darren Adam Sofian di dunia tenis terus menunjukkan perkembangan. Petenis muda asal Jakarta itu berhasil melaju ke babak perempat final Kelompok Umur (KU) 16 turnamen tenis internasional ITF Widjojo Soejono 2026.
Tiket perempat final diraih Darren setelah menumbangkan petenis asal Sukun Tennis Club, Aqilla Ilhan dengan skor 6-4, 1-6, 10-5, pada pertandingan terakhir babak penyisihan grup di Lapangan Kodam V/Brawijaya, Surabaya, Rabu (30/9/2026).
Di usianya yang baru 15 tahun, Darren mulai menunjukkan keseriusan menekuni tenis. Siswa Jubilee School Jakarta tersebut tampil prima hingga laga terakhir penyisihan grup.
Turnamen ITF Widjojo Soejono 2026 menjadi salah satu pengalaman penting bagi Darren untuk mengasah kemampuan sekaligus membangun keberanian menghadapi lawan-lawan dengan kemampuan yang relatif berimbang.
Darren mengakui pertandingan tidak selalu berjalan mudah. Salah satu tantangan yang harus dihadapinya adalah kondisi cuaca Surabaya yang cukup panas.
“Cuacanya lumayan panas, jadi harus adaptasi juga dengan cuacanya,” ujar Darren.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak membuatnya kehilangan fokus. Darren berusaha tampil lebih berani, mengambil inisiatif permainan, serta tidak terlalu terbebani oleh permainan lawan.
Baginya, setiap pertandingan di level junior menjadi kesempatan untuk belajar mengambil keputusan di lapangan sekaligus membangun kepercayaan diri.
Terinspirasi Sang Kakek
Kecintaan Darren terhadap tenis tidak terlepas dari lingkungan keluarganya. Ia mendapat inspirasi dari sang kakek, Sofyan Mudjirat, yang merupakan mantan petenis nasional Indonesia.
Selain sang kakek, ayahnya, Anca Firmansyah Sofyan, juga memiliki peran besar dalam perjalanan Darren menekuni tenis.
“Saya terinspirasi dari kakek saya dan ayah saya,” kata Darren.
Menariknya, tenis bukan olahraga pertama yang digeluti Darren. Sebelum serius memegang raket, ia justru lebih dahulu menekuni sepak bola.
Anca mengatakan, sejak kecil Darren dikenal sebagai anak yang aktif berolahraga. Ketika bermain sepak bola, Darren berposisi sebagai striker dan sempat menunjukkan produktivitas yang cukup tinggi.
“Awalnya Darren itu pemain sepak bola. Dia bermain sebagai striker dan sempat sering juara. Pernah dalam beberapa pertandingan, dia bisa mencetak sekitar 15 sampai 16 gol,” tutur Anca.
Peralihan dari sepak bola ke tenis terjadi ketika pandemi Covid-19 membuat aktivitas sepak bola dan klub tempat Darren berlatih terhenti. Situasi tersebut kemudian dimanfaatkan keluarga untuk mengenalkannya dengan olahraga tenis.
“Waktu pandemi klub sepak bolanya tutup. Dari situ saya mulai mengajarkan tenis, termasuk mengenalkannya dengan klub tenis,” ujar Anca.
Menurut Anca, Darren memang tergolong terlambat memulai tenis dibandingkan sejumlah pemain junior lain yang sudah berlatih sejak usia lebih dini. Namun, kemauan keras membuat perkembangan Darren berlangsung cukup cepat.
“Memang agak telat, tetapi karena dia punya kemauan keras, akhirnya dia mau latihan tenis,” katanya.
Pernah Tembus Dua Besar Nasional
Perkembangan Darren mulai terlihat ketika memasuki kelompok usia junior. Pada KU 12, ia pernah menempati peringkat kedua nasional.
Memasuki kelompok usia berikutnya, Darren semakin aktif mengikuti turnamen. Pengalaman bertanding tersebut menjadi bagian dari upayanya meningkatkan kemampuan sekaligus memperbaiki peringkat nasional.
Pada KU 14, ia juga mulai mengikuti berbagai turnamen, di antaranya Ambarawa Cup dan Tugu Muda Cup. Salah satu hasil yang diraih adalah posisi juara ketiga pada nomor ganda.
Kini Darren memasuki KU 16. Tantangannya pun semakin besar karena persaingan di kelompok usia tersebut semakin ketat.
Anca mengatakan, posisi Darren di peringkat nasional saat ini masih berada di kisaran 30 besar. Karena itu, masih terbuka ruang yang cukup besar bagi putranya untuk berkembang dan memperbaiki posisi.
Salah satu tantangan yang dihadapi adalah membagi waktu antara pendidikan dan latihan.
Sebagai siswa sekolah internasional, Darren memiliki jadwal akademik yang cukup padat. Kondisi tersebut membuat program latihannya harus disesuaikan dengan kegiatan sekolah.
“Karena dia masih sekolah, tentu latihan harus menyesuaikan. Biasanya lebih banyak latihan sore, sementara pagi hanya beberapa kali,” jelas Anca.
Dalam kondisi ideal, pemain yang dipersiapkan secara serius dapat menjalani latihan dua kali sehari, pagi dan sore. Dalam sepekan, program latihan bahkan bisa mencapai sekitar 10 sesi.
Namun, Darren belum bisa menjalani pola tersebut secara penuh. Saat ini, ia rata-rata berlatih enam hingga tujuh kali dalam sepekan.
Menurut Anca, keterbatasan waktu latihan membuat perkembangan Darren harus dilakukan secara bertahap. Meski begitu, ia melihat potensi yang masih bisa dikembangkan, terutama melalui tambahan pengalaman bertanding.
Tak Hanya Mengejar Gelar
Bagi Darren, turnamen bukan sekadar tempat mengejar kemenangan. Setiap pertandingan menjadi sarana untuk membangun mental dan menambah jam terbang.
Di lapangan, ia dituntut tidak hanya mengandalkan kemampuan teknik, tetapi juga keberanian mengambil keputusan, menjaga konsentrasi, serta beradaptasi dengan kondisi pertandingan.
Hal tersebut kembali terlihat dalam penampilannya di ITF Widjojo Soejono 2026. Menghadapi pemain junior lainnya, Darren berusaha bermain lebih berani dan tidak ragu mengambil inisiatif.
Pengalaman tersebut menjadi modal penting untuk menghadapi persaingan yang lebih tinggi pada kelompok usia berikutnya.
Bagi keluarga, proses perkembangan Darren juga tidak semata-mata diukur dari jumlah gelar yang diraih. Pendidikan tetap menjadi prioritas karena Darren masih berstatus pelajar.
“Pertandingan juga kami batasi karena dia masih sekolah. Jadi, kami harus melihat mana yang bisa diikuti dan disesuaikan dengan sekolahnya,” kata Anca.
Meski demikian, keluarga memiliki target jangka panjang. Darren diharapkan dapat berkembang menjadi pemain tenis nasional dan, jika memungkinkan, menembus level internasional.
“Kami berharap dia bisa menjadi pemain nasional. Kalau bisa sampai internasional, tentu bagus. Yang paling penting kemauannya harus datang dari Darren sendiri,” ujar Anca.
Menurutnya, kemampuan teknis masih dapat terus diasah melalui latihan. Namun, kemauan, disiplin, dan keberanian menjalani proses menjadi bagian penting dalam perjalanan seorang atlet muda.
Karena itu, keluarga memilih memberikan dukungan tanpa memberikan tekanan berlebihan.
“Yang penting dia yakin dulu. Lawan-lawannya juga bagus dan banyak yang sudah latihan pagi-sore. Tetapi kalau dia punya keyakinan dan kemauan untuk berlatih, kami yakin dia bisa berkembang,” katanya.
Bagi Darren, perjalanan sebagai petenis muda masih panjang. Di usia 15 tahun, ia masih memiliki banyak waktu untuk meningkatkan teknik, fisik, mental, dan pengalaman bertanding.
Babak perempat final ITF Widjojo Soejono 2026 menjadi salah satu tahapan dalam proses tersebut. Setiap pertandingan menjadi pengalaman baru bagi Darren untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat.
Dengan dukungan keluarga, Detec Tennis Club Jakarta, dan pendidikan yang tetap berjalan, Darren kini menapaki karier tenisnya secara bertahap.
Targetnya bukan hanya memenangkan pertandingan, tetapi terus berkembang hingga mampu menjadi petenis nasional dan suatu hari membawa nama Indonesia ke panggung internasional.

