Kadindik Aries Paewai Dorong SMAN 1 Parang Kembangkan Double Track Jadi Wadah Wirausaha Muda

MAGETAN – Program SMA Double Track (DT) di SMAN 1 Parang, Kabupaten Magetan, terus dikembangkan sebagai ruang pembelajaran keterampilan sekaligus wadah untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan peserta didik.

Pengembangan tersebut terlihat dari keberadaan DT Mart serta dapur produksi Tata Boga yang dikelola sebagai bagian dari aktivitas Double Track. Melalui fasilitas tersebut, siswa tidak hanya mendapatkan pengalaman membuat produk, tetapi juga belajar mengenal proses produksi hingga pemasaran.

Potensi tersebut mendapat perhatian dari Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Aries Agung Paewai saat mengunjungi SMAN 1 Parang, Magetan, Kamis (1/10/2026).

Aries melihat langsung aktivitas siswa di DT Mart dan dapur produksi kue Program Double Track. Kunjungan itu menjadi bagian dari upaya melihat secara langsung perkembangan pembelajaran berbasis keterampilan yang diterapkan sekolah.

Menurut Aries, keberadaan Double Track memiliki arti penting karena memberikan bekal tambahan kepada siswa SMA, terutama keterampilan yang dapat dikembangkan menjadi peluang kerja maupun usaha.

“Program ini hadir sebagai solusi bagi lulusan SMA yang tidak melanjutkan kuliah dan memilih bekerja atau berwirausaha,” kata Aries dalam keterangannya mengenai pengembangan program Double Track.

Ia menjelaskan, ada tiga nilai strategis yang menjadi perhatian dalam pelaksanaan Double Track, yakni penguatan kewirausahaan, pembekalan life skill abad ke-21, serta penguatan karakter dan kemandirian siswa.

Karena itu, keterampilan yang diberikan kepada peserta didik tidak cukup hanya membuat mereka mampu menghasilkan sebuah produk. Siswa juga perlu memahami bagaimana keterampilan tersebut dapat memiliki nilai ekonomi dan menjawab kebutuhan masyarakat.

“Menumbuhkan entrepreneurship, agar mereka bisa tangguh dalam pasar industri,” ujar Aries.

Dari Dapur Produksi hingga DT Mart

Konsep tersebut terlihat dalam aktivitas Double Track Tata Boga di SMAN 1 Parang.

Di dapur produksi, siswa mendapatkan kesempatan mempraktikkan keterampilan mengolah makanan dan kue. Produk yang dihasilkan kemudian dapat dipasarkan melalui DT Mart maupun kegiatan lain yang melibatkan masyarakat.

Dengan pola pembelajaran seperti ini, siswa mendapatkan pengalaman yang lebih utuh. Mereka tidak berhenti pada kemampuan teknis memasak, tetapi juga belajar mengenai pengemasan, kualitas produk, pemasaran hingga bagaimana sebuah produk diterima konsumen.

DT Mart menjadi salah satu ruang penting dalam proses tersebut. Keberadaannya memberikan pengalaman kepada siswa untuk mengenal aktivitas perdagangan secara langsung.

Bagi peserta didik, pengalaman semacam ini dapat menjadi pembelajaran kewirausahaan yang konkret. Mereka dapat melihat bahwa menghasilkan produk saja belum cukup. Produk harus memiliki kualitas, dikemas dengan baik, memiliki harga yang sesuai, serta mampu menarik konsumen.

Pengembangan tersebut sejalan dengan arah Dindik Jatim yang mendorong SMA Double Track tidak berhenti pada penguasaan keterampilan.

Dalam pemberitaan Harian Bhirawa pada September 2026, Aries menyebut pengembangan Double Track diarahkan menjadi ekosistem kewirausahaan, sehingga produk atau jasa yang dihasilkan siswa tidak berhenti sebagai hasil praktik, tetapi dapat memiliki pelanggan, mencatat transaksi dan berkembang menjadi usaha berkelanjutan.

Aries juga memperkenalkan strategi 5P, yakni pelajari, produksi, pasarkan, pelanggankan, dan perbesar. Konsep tersebut menempatkan keterampilan siswa sebagai titik awal yang kemudian harus dikembangkan hingga memiliki nilai ekonomi.

Bekal Siswa Setelah Lulus

Penguatan Double Track menjadi relevan karena tidak semua lulusan SMA memiliki jalur yang sama setelah menyelesaikan pendidikan.

Sebagian siswa akan melanjutkan ke perguruan tinggi, sementara lainnya memilih bekerja atau mengembangkan usaha. Karena itu, keterampilan praktis dapat menjadi salah satu bekal tambahan bagi siswa ketika memasuki kehidupan setelah sekolah.

Aries sebelumnya menjelaskan, jenis keterampilan dalam Double Track cukup beragam, antara lain multimedia, teknik listrik, teknik elektro, tata boga, tata busana, kecantikan hingga teknik kendaraan ringan. Keterampilan tersebut diarahkan agar siswa memiliki pilihan untuk masuk dunia usaha dan dunia industri maupun membangun usaha sendiri.

Untuk bidang Tata Boga, misalnya, Aries menilai keterampilan tersebut memiliki peluang dikembangkan menjadi usaha dengan modal relatif terjangkau. Bahkan, ketika usaha berkembang, lulusan dapat membuka kesempatan kerja bagi masyarakat di sekitarnya.

Pemikiran tersebut menjadi relevan dengan apa yang sedang dikembangkan SMAN 1 Parang. Dapur produksi menjadi tempat siswa berlatih menghasilkan produk, sedangkan DT Mart memberikan pengalaman mengenai bagaimana produk tersebut dikenalkan dan dipasarkan.

Double Track dan Pembentukan Karakter

Pengembangan keterampilan di SMAN 1 Parang juga tidak dapat dilepaskan dari pembentukan karakter.

Kunjungan Aries ke sekolah tersebut berlangsung bersamaan dengan agenda peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Aries menjadi pembina upacara di SMAN 1 Parang pada Kamis (1/10/2026).

Dalam amanatnya, Aries menekankan bahwa pendidikan tidak hanya berorientasi pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter peserta didik.

“Ilmu membuat kalian mampu melangkah lebih jauh, tetapi karakter membuat kalian tahu ke mana harus melangkah,” ujar Aries.

Pesan tersebut memperlihatkan bahwa penguatan keterampilan dan kewirausahaan tidak berdiri sendiri. Kemampuan teknis perlu dibarengi karakter, tanggung jawab, kreativitas, kerja sama dan kemandirian.

Dalam konteks Double Track, siswa tidak hanya diajarkan bagaimana membuat sebuah produk. Mereka juga belajar bertanggung jawab terhadap proses produksi, bekerja dalam tim, menyelesaikan persoalan, berkomunikasi dengan konsumen serta berani mengambil inisiatif.

SMAN 1 Parang Jadi Ruang Tumbuh Wirausaha Muda

Pengalaman SMAN 1 Parang dalam mengembangkan Double Track juga bukan sesuatu yang muncul secara tiba-tiba.

Literasi mengenai program tersebut sebelumnya mencatat berbagai produk siswa bidang Tata Boga, mulai dari kue, roti, nasi bakar, rice bowl, jajanan tradisional hingga minuman. Produk-produk tersebut pernah diperkenalkan melalui bazar sekolah dan kegiatan masyarakat.

Artinya, aktivitas Double Track telah diarahkan untuk mendekatkan pembelajaran dengan kebutuhan nyata di lapangan.

Ke depan, tantangannya adalah bagaimana produk yang dihasilkan siswa dapat terus berkembang. Tidak hanya dibuat ketika ada tugas praktik, tetapi memiliki standar produksi, kemasan, pemasaran dan konsumen yang berkelanjutan.

Di titik inilah keberadaan DT Mart menjadi penting. Fasilitas tersebut dapat menjadi laboratorium kewirausahaan bagi siswa untuk belajar secara langsung mengenai dunia usaha.

Dari ruang kelas, siswa mendapatkan teori. Dari dapur produksi, mereka belajar menghasilkan barang. Dari DT Mart, mereka belajar memasarkan. Sedangkan dari seluruh proses tersebut, mereka mendapatkan pengalaman membangun sikap mandiri dan bertanggung jawab.

Pengembangan Double Track di SMAN 1 Parang pada akhirnya bukan sekadar tentang kemampuan siswa membuat kue atau produk makanan.

Lebih jauh, program tersebut menjadi bagian dari upaya menyiapkan generasi muda yang memiliki keterampilan, kreativitas dan keberanian melihat peluang.

Dengan dukungan sekolah dan pembinaan Dindik Jatim, aktivitas Double Track diharapkan tidak berhenti sebagai program keterampilan di lingkungan sekolah. Produk siswa dapat terus dikembangkan, dipasarkan dan, bagi mereka yang tertarik, menjadi titik awal untuk membangun usaha setelah lulus..