MALANG – Keterbatasan lahan tak menghalangi SMAN 1 Lawang, Kabupaten Malang, untuk menghadirkan ruang belajar yang produktif sekaligus mendukung program ketahanan pangan. Sekolah tersebut memanfaatkan lantai empat atau rooftop gedung sekolah sebagai Kebun SIKAP (Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan).
Inovasi tersebut mendapat perhatian dari Kepala Dinas Pendidikan (Kadindik) Jawa Timur, Aries Agung Paewai, saat melakukan kunjungan ke SMAN 1 Lawang, Jumat (2/10/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Aries melihat langsung pemanfaatan area rooftop yang tidak hanya dihijaukan dengan tanaman hortikultura, tetapi juga dikembangkan sebagai lokasi budidaya ikan dan peternakan ayam petelur.
Bagi sekolah, pemanfaatan ruang di lantai atas itu bukan sekadar menghadirkan area hijau. Kebun SIKAP dirancang menjadi bagian dari proses pembelajaran sehingga siswa dapat mengenal secara langsung bagaimana pangan diproduksi, dikelola, hingga memiliki nilai ekonomi.
“Kreativitas dan inovasi sekolah seperti di SMAN 1 Lawang ini patut diapresiasi. Memanfaatkan lahan terbatas di lantai empat menjadi Kebun SIKAP tidak hanya menghadirkan ruang hijau yang asri, tetapi juga menjadi sarana edukasi praktis bagi para siswa untuk memahami pentingnya ketahanan pangan sejak dini,” ujar Aries Agung Paewai.
Menurut Aries, inovasi semacam itu menunjukkan bahwa program pendidikan tidak selalu harus berlangsung di dalam ruang kelas. Lingkungan sekolah dapat dikembangkan menjadi laboratorium pembelajaran yang memungkinkan siswa memperoleh pengalaman secara langsung.
“Anak-anak tidak hanya belajar teori, tetapi juga melihat dan mempraktikkan bagaimana menanam, merawat tanaman, membudidayakan ikan, sampai memahami proses menghasilkan pangan. Dari sini tumbuh kepedulian terhadap lingkungan sekaligus jiwa kewirausahaan,” tambahnya.
Kebun SIKAP Jadi Laboratorium Pembelajaran
Kebun SIKAP SMAN 1 Lawang menggabungkan sejumlah kegiatan dalam satu kawasan. Tanaman hortikultura menjadi salah satu bagian utama, berdampingan dengan budidaya ikan menggunakan kolam terpal serta peternakan ayam petelur.
Konsep tersebut membuat rooftop sekolah memiliki fungsi yang lebih luas. Selain sebagai ruang terbuka hijau, kawasan itu dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran lintas bidang, mulai dari ilmu lingkungan, biologi, pengelolaan pangan hingga kewirausahaan.
Siswa dapat melihat secara langsung proses pertumbuhan tanaman, kebutuhan air dan nutrisi, pengelolaan limbah, pemeliharaan ikan, hingga pemanfaatan hasil peternakan.
Pendekatan semacam ini juga membuat pendidikan ketahanan pangan tidak berhenti pada pemahaman konseptual. Siswa mendapatkan pengalaman mengenai pentingnya ketersediaan pangan sekaligus belajar bahwa produksi pangan dapat dilakukan dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar.
Di tengah keterbatasan lahan di kawasan perkotaan dan padat penduduk, konsep urban farming menjadi salah satu pendekatan yang dapat dikembangkan di lingkungan pendidikan.
Sekolah tidak harus memiliki lahan pertanian yang luas untuk mengenalkan pertanian kepada peserta didik. Ruang terbatas, termasuk halaman, sudut sekolah maupun rooftop, dapat dimanfaatkan selama dirancang dengan memperhatikan aspek keamanan, teknis budidaya dan keberlanjutan.
Dorong Sekolah Berani Berinovasi
Program Kebun SIKAP juga sejalan dengan upaya mendorong sekolah di Jawa Timur agar tidak hanya menjadi tempat pembelajaran akademik, tetapi mampu melahirkan berbagai inovasi yang dekat dengan persoalan kehidupan sehari-hari.
Aries mengatakan, kreativitas sekolah perlu terus didorong karena setiap satuan pendidikan memiliki potensi dan karakter lingkungan yang berbeda.
“Tidak harus sama antara satu sekolah dengan sekolah lainnya. Yang terpenting adalah bagaimana sekolah mampu melihat potensi yang ada di lingkungannya, kemudian mengubahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi peserta didik,” katanya.
Ia menilai pengembangan ketahanan pangan di sekolah juga dapat menjadi pintu masuk untuk menanamkan karakter kepada siswa. Kegiatan merawat tanaman, memelihara ikan maupun ayam membutuhkan kedisiplinan, konsistensi dan tanggung jawab.
Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dalam pendidikan karena siswa tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik, tetapi juga keterampilan hidup dan kepedulian terhadap lingkungan.
Pengembangan Kebun SIKAP di SMAN 1 Lawang pada akhirnya memperlihatkan bahwa inovasi pendidikan bisa berangkat dari persoalan sederhana: bagaimana memanfaatkan ruang yang terbatas agar tetap produktif.
Dari sebuah rooftop, sekolah dapat menghadirkan kebun, kolam ikan dan peternakan sekaligus menjadikannya sebagai ruang belajar terbuka bagi siswa.
Konsep tersebut juga membuka peluang agar hasil budidaya tidak berhenti sebagai bahan praktik pembelajaran. Jika dikelola secara berkelanjutan, kegiatan pertanian, perikanan dan peternakan sekolah dapat dikembangkan menjadi bagian dari pembelajaran kewirausahaan, termasuk mengenalkan siswa pada proses produksi, pengemasan hingga pemasaran.
Aries berharap inovasi yang dikembangkan SMAN 1 Lawang dapat menginspirasi satuan pendidikan lainnya di Jawa Timur untuk berani mengoptimalkan potensi lingkungan masing-masing.
“Sekolah harus terus bergerak dan berinovasi. Ketahanan pangan, kepedulian lingkungan dan kewirausahaan bisa menjadi bagian dari proses pendidikan. Harapannya, semakin banyak sekolah yang mampu melahirkan inovasi sesuai potensi daerahnya,” pungkas Aries.
Dengan demikian, Kebun SIKAP SMAN 1 Lawang bukan sekadar proyek penghijauan di atas gedung sekolah. Lebih jauh, kawasan tersebut menjadi contoh bagaimana ruang terbatas dapat diubah menjadi laboratorium pembelajaran yang mempertemukan pendidikan, lingkungan, ketahanan pangan dan kewirausahaan dalam satu kegiatan.

