SURABAYA – Penguatan karakter dan akhlak peserta didik menjadi salah satu tantangan penting dunia pendidikan di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Untuk menjawab tantangan tersebut, peningkatan kompetensi guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dinilai perlu terus diperkuat agar pembelajaran agama tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, tetapi juga mampu membentuk karakter generasi muda.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menekankan pentingnya peran guru dalam menghadirkan pembelajaran yang adaptif, kreatif, dan relevan dengan perkembangan zaman. Guru PAI memiliki tanggung jawab strategis dalam menanamkan nilai-nilai keagamaan sekaligus membimbing peserta didik agar memiliki akhlak mulia di tengah perubahan sosial dan teknologi.
Pesan tersebut sejalan dengan semangat peningkatan kompetensi guru mata pelajaran PAI yang mengedepankan penguatan akhlak sekaligus kesiapan menghadapi masa depan. Pemanfaatan teknologi digital, khususnya media visual, menjadi salah satu pendekatan yang dapat dikembangkan untuk membuat pembelajaran lebih menarik dan mudah dipahami siswa.
Aries sebelumnya menegaskan bahwa peran guru agama tidak berhenti pada penyampaian materi di ruang kelas. Guru juga memiliki tanggung jawab dalam mendampingi perkembangan moral peserta didik.
“Guru PAI tidak hanya sekadar guru agama dalam akademik dan moral, tapi juga harus menjadi pembimbing bagi anak-anak kita yang mungkin salah arah,” tegas Aries pada beberapa waktu sebelumnya.
Menurutnya, pendidikan agama mempunyai peran penting dalam membantu siswa membangun fondasi keimanan, ketakwaan, dan perilaku yang baik. Karena itu, guru perlu memiliki kemampuan pedagogis sekaligus pendekatan pembelajaran yang mampu menyentuh kehidupan sehari-hari peserta didik.
Transformasi Digital Jadi Peluang Pembelajaran PAI
Perkembangan teknologi membawa perubahan pada cara generasi muda memperoleh informasi dan memahami materi pelajaran. Kondisi tersebut menuntut guru untuk tidak terpaku pada metode pembelajaran konvensional, melainkan mulai memanfaatkan berbagai media yang sesuai dengan karakter belajar siswa.
Dalam konteks pembelajaran PAI, penggunaan video edukasi, presentasi visual, animasi, serta media digital interaktif dapat membantu menjelaskan konsep keagamaan secara lebih kontekstual. Materi tentang akhlak, toleransi, tanggung jawab, dan kepedulian sosial, misalnya, dapat disampaikan melalui contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Namun, pemanfaatan teknologi tetap harus disertai tujuan pendidikan yang jelas. Teknologi bukan sekadar pelengkap pembelajaran, melainkan sarana untuk meningkatkan pemahaman, partisipasi, dan kemampuan siswa menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan nyata.
Pandangan tersebut sejalan dengan pernyataan Aries yang diberitakan ANTARA pada 27 September 2025. Saat membahas digitalisasi pendidikan, ia menekankan pentingnya kemampuan guru untuk terus beradaptasi dan berinovasi.
“Tenaga pendidik hebat adalah guru yang adaptif dan mampu mengaplikasikan teknologi dalam pembelajaran. Mari kita manfaatkan teknologi dengan optimis agar Jawa Timur dapat menjadi barometer pemanfaatan teknologi di dunia pendidikan,” ujar Aries.
Pernyataan itu mempertegas bahwa penguasaan teknologi perlu berjalan beriringan dengan kemampuan guru merancang pembelajaran yang bermakna. Dalam pendidikan agama, keseimbangan antara kecakapan digital dan keteladanan menjadi penting agar siswa tidak hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga bijak dalam memanfaatkannya.
Kompetensi Guru Menentukan Kualitas Pendidikan
Peningkatan kompetensi guru PAI juga sejalan dengan kebutuhan pengembangan profesionalisme pendidik secara berkelanjutan. Kementerian Agama, melalui Direktorat Pendidikan Agama Islam, pada April 2026 membahas pengembangan Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PPKB) bagi guru dan pengawas PAI. Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta sikap profesional guru dalam menjalankan tugas pendidikan.
Informasi itu dipublikasikan melalui laman resmi Kementerian Agama pada 16 April 2026. Pengembangan kompetensi tersebut turut mempertimbangkan perkembangan dunia pendidikan, pembelajaran mendalam, dan pemanfaatan kecerdasan buatan.
Bagi guru PAI, peningkatan kapasitas tidak cukup dilakukan dengan mengikuti pelatihan sesekali. Diperlukan kemauan untuk terus belajar, mengevaluasi metode mengajar, dan menyesuaikan pendekatan dengan kebutuhan peserta didik yang terus berubah.
Guru juga perlu menjadi teladan dalam menerapkan nilai-nilai yang diajarkan. Sikap jujur, disiplin, tanggung jawab, toleransi, serta kepedulian terhadap sesama akan lebih mudah dipahami siswa ketika tercermin dalam perilaku pendidik sehari-hari.
Melalui penguatan kompetensi guru PAI, pembelajaran agama diharapkan semakin dekat dengan realitas kehidupan generasi muda. Pendekatan yang menarik dan relevan dapat membantu siswa memahami bahwa nilai-nilai agama bukan hanya untuk dihafalkan, tetapi juga menjadi pedoman dalam bersikap dan mengambil keputusan.
Pada akhirnya, menyiapkan masa depan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pembentukan karakter serta penguatan akhlak tetap menjadi fondasi penting agar generasi muda mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan nilai moral dan tanggung jawab sosialnya.

