Mahasiswa Unesa Raih Emas Kejurnas Pétanque 2026, Mantap Tatap Pra-PON 2027

SURABAYA — Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) turut mengantarkan Jawa Timur meraih medali emas nomor beregu mix pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Pétanque 2026. Prestasi tersebut menjadi bukti hasil pembinaan dan kerja keras atlet sekaligus modal penting untuk menghadapi babak kualifikasi Pekan Olahraga Nasional (Pra-PON) 2027.

Kejurnas Pétanque 2026 berlangsung pada 12–18 Oktober 2026 di Lapangan Pétanque, GOR Cendrawasih, Jakarta Barat. Dalam kejuaraan tersebut, tiga mahasiswa Unesa yang memperkuat kontingen Jawa Timur adalah Roudhotul Zauharoh dari Program Studi S-1 Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi; Tya Salawatia dari S-1 Ilmu Keolahragaan; serta M. Kosyim dari S-1 Pendidikan Kepelatihan Olahraga.

Keberhasilan meraih podium tertinggi tidak lepas dari kesiapan mental, kepercayaan diri, dan kedisiplinan dalam menjalankan strategi pertandingan. Ketiga aspek itu menjadi modal penting bagi para atlet untuk menjaga konsistensi permainan, terutama ketika menghadapi persaingan ketat di level nasional.

M. Kosyim mengungkapkan, kemampuan mengendalikan mental saat bertanding harus diimbangi dengan kepercayaan diri ketika melakukan lemparan serta kepatuhan terhadap instruksi pelatih.

“Kunci keberhasilan kami adalah mental dan kepercayaan diri dalam setiap melakukan lemparan, serta mengikuti arahan dari pelatih dengan baik,” ungkap Kosyim.

Menurut dia, pencapaian tersebut juga merupakan buah dari persiapan intensif yang dijalani sebelum kejuaraan. Tim menjalani program latihan tiga kali sehari, yakni pagi, sore, dan malam, untuk meningkatkan kesiapan fisik, mematangkan teknik, serta membangun kekompakan antarpemain.

Selain intensitas latihan, kedisiplinan dalam menerapkan teknik shooting dan pointing turut menjadi faktor penentu. Dalam olahraga pétanque, shooting merupakan teknik melempar bola untuk menjauhkan bola lawan dari sasaran. Sementara itu, pointing bertujuan menempatkan bola sedekat mungkin dengan bola sasaran atau jack.

Kosyim menilai, kemampuan teknis yang relatif berimbang antartim membuat kedisiplinan dalam menerapkan kedua teknik tersebut menjadi salah satu pembeda di lapangan.

“Strategi mungkin semua sama, tetapi yang membedakan adalah tingkat kedisiplinan kami ketika melakukan shooting maupun pointing,” jelasnya.

Bagi Kosyim dan dua rekannya, medali emas Kejurnas Pétanque 2026 bukan sekadar pencapaian di tingkat nasional. Hasil tersebut juga menjadi evaluasi atas proses latihan yang telah dijalani, sekaligus kesempatan untuk mengukur kemampuan teknis, ketahanan mental, dan kerja sama tim dalam menghadapi tekanan pertandingan.

Keberhasilan ini turut memperkuat kontribusi mahasiswa Unesa terhadap prestasi olahraga Jawa Timur. Pengalaman bertanding di kejuaraan nasional diharapkan menjadi bekal untuk meningkatkan kualitas permainan dan menjaga konsistensi prestasi pada kompetisi berikutnya.

Kosyim mengaku bangga dapat menyumbangkan medali emas bagi Jawa Timur. Ia berharap capaian tersebut dapat dipertahankan melalui latihan yang berkelanjutan dan peningkatan kemampuan secara konsisten.

“Pastinya kami sangat senang bisa memberikan medali emas untuk Jawa Timur. Harapan kami ke depan semoga bisa tetap mempertahankan gelar juara dan terus berkembang karena target kami selanjutnya adalah Pra-PON 2027,” pungkasnya.

Dengan capaian tersebut, para atlet pétanque Jawa Timur diharapkan semakin siap menghadapi tantangan berikutnya. Fokus pembinaan selanjutnya adalah menjaga performa, memperkuat aspek teknis dan mental, serta memaksimalkan persiapan agar mampu bersaing dalam kualifikasi menuju PON 2028 melalui Pra-PON 2027.