PRAGAAN – Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Pragaan, Kabupaten Sumenep, menggelar kegiatan bertema “Menyemai Kesadaran Politik dan Kepemimpinan Perempuan” di Auditorium Lantai II Kantor Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pragaan. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Festival Santri NU Pragaan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2026.
Hadir sebagai narasumber, anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), Lia Istifhama, yang akrab disapa Ning Lia. Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak kader Fatayat NU untuk meningkatkan pemahaman politik sekaligus memperkuat kapasitas kepemimpinan perempuan agar mampu mengambil peran lebih besar dalam kehidupan demokrasi dan proses pengambilan kebijakan publik.
Menurut Ning Lia, kesadaran politik menjadi bekal penting bagi perempuan, khususnya kader organisasi kemasyarakatan, untuk memahami berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat. Politik, kata dia, tidak semata-mata berbicara mengenai jabatan, kekuasaan, ataupun persaingan dalam kontestasi, tetapi juga menyangkut kebijakan yang berpengaruh langsung terhadap kehidupan masyarakat.
Kebijakan di bidang pendidikan, pelayanan publik, dan berbagai sektor lainnya merupakan contoh nyata bagaimana keputusan politik dapat menentukan kualitas kehidupan masyarakat. Karena itu, perempuan perlu memiliki pengetahuan yang memadai agar dapat memahami arah kebijakan sekaligus menyampaikan aspirasi berdasarkan persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Mau tidak mau proses demokrasi akan terus berjalan. Suka tidak suka ada DPD, DPR dan sebagainya,” ujar alumnus Universitas Airlangga tersebut.
Pernyataan itu menegaskan bahwa politik merupakan bagian dari kehidupan bernegara yang tidak dapat dipisahkan dari kepentingan masyarakat. Oleh sebab itu, perempuan tidak seharusnya menempatkan diri hanya sebagai penonton, tetapi juga perlu memahami mekanisme demokrasi dan memanfaatkan ruang partisipasi yang tersedia.
Ning Lia menilai, kesempatan bagi perempuan untuk terlibat dalam ruang publik harus diimbangi dengan keberanian dan kesiapan untuk menyampaikan gagasan. Keterlibatan tersebut bukan hanya soal hadir dalam forum, melainkan juga berkontribusi dalam pembahasan persoalan, memberikan masukan, serta mengawal kebijakan yang menyangkut kepentingan masyarakat luas.
“Jangan sampai ada ruang-ruang, tapi kita gak mengambil ruang itu,” tegas Ning Lia.
Filosofi PEREMPUAN sebagai Bekal Kepemimpinan
Dalam pemaparannya, Ning Lia memperkenalkan filosofi PEREMPUAN yang dirumuskan melalui sembilan nilai, yakni Personality, Empathy, Responsibility, Equity, Motivation, Positivity, Universal, Analytical, dan Negotiation.
Kesembilan nilai tersebut menjadi landasan bagi perempuan untuk membangun karakter dan kemampuan kepemimpinan. Personality menekankan pentingnya kepribadian yang kuat, sedangkan Empathy mengajarkan kepekaan terhadap kondisi dan kebutuhan orang lain. Adapun Responsibility berkaitan dengan tanggung jawab dalam menjalankan peran dan mengambil keputusan.
Selanjutnya, Equity menekankan pentingnya keadilan, Motivation berkaitan dengan dorongan untuk terus berkembang, dan Positivity mengajarkan pola pikir positif dalam menghadapi tantangan. Sementara itu, Universal mendorong sikap terbuka dan inklusif, Analytical menekankan kemampuan menganalisis persoalan, serta Negotiation berkaitan dengan keterampilan membangun kesepahaman melalui komunikasi dan perundingan.
Melalui nilai-nilai tersebut, kader perempuan diharapkan tidak hanya memiliki keberanian untuk berbicara, tetapi juga mampu menyampaikan pendapat dengan pertimbangan yang matang. Kemampuan memahami persoalan secara menyeluruh menjadi penting agar gagasan yang disampaikan dapat memberikan manfaat dan menjadi bagian dari solusi.
Dalam konteks kehidupan organisasi maupun politik, kemampuan analitis juga diperlukan untuk membedakan persoalan utama dari berbagai informasi yang beredar. Dengan begitu, kader Fatayat NU dapat menyampaikan kritik secara konstruktif, mengajukan usulan yang relevan, serta membangun komunikasi dengan berbagai pihak.
Ning Lia juga mengingatkan pentingnya mengikuti perkembangan regulasi dan kebijakan pemerintah, terutama yang berkaitan dengan pendidikan serta pelayanan masyarakat. Menurutnya, pemahaman terhadap substansi kebijakan dapat membantu perempuan menilai dampak suatu keputusan dan menentukan bentuk partisipasi yang tepat.
Perkuat Solidaritas Antarkader Perempuan
Selain pengembangan kapasitas individu, Ning Lia menekankan pentingnya solidaritas melalui semangat woman support woman, yakni perempuan saling mendukung untuk membuka kesempatan dan memperluas ruang kontribusi bagi sesama.
Solidaritas tersebut dinilai penting untuk membangun lingkungan organisasi yang saling menguatkan. Perempuan yang telah memiliki pengalaman dan kesempatan di ruang publik diharapkan dapat berbagi pengetahuan, memberikan dukungan, serta mendorong kader lainnya agar berani mengembangkan kemampuan.
Bagi organisasi seperti Fatayat NU, semangat tersebut dapat menjadi modal untuk memperluas jejaring dan meningkatkan partisipasi kader dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan. Dukungan antarkader juga dapat membantu perempuan mengatasi hambatan ketika hendak menyampaikan aspirasi atau mengambil peran dalam forum publik.
Kepemimpinan perempuan, dengan demikian, tidak hanya berkaitan dengan pencapaian individu. Lebih dari itu, kepemimpinan juga menyangkut kemampuan membangun kerja sama, merangkul perbedaan, dan menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Media Digital Jadi Sarana Pendidikan Politik
Ning Lia turut mendorong kader Fatayat NU Pragaan memanfaatkan perkembangan teknologi digital sebagai sarana memperluas pendidikan politik. Media sosial, termasuk TikTok, serta berbagai platform daring lainnya dapat digunakan untuk menyebarluaskan gagasan, menjelaskan isu-isu publik, dan menjangkau kelompok masyarakat yang lebih luas, khususnya generasi muda.
Pemanfaatan media digital membuka peluang bagi kader perempuan untuk menyampaikan informasi dan pandangan mengenai persoalan sosial secara lebih mudah. Melalui konten yang informatif dan komunikatif, isu kebijakan publik dapat diperkenalkan dengan bahasa yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Namun, penggunaan media sosial perlu disertai tanggung jawab. Kader perempuan harus mampu memeriksa kebenaran informasi, memahami konteks persoalan, dan menghindari penyebaran kabar yang belum terverifikasi. Kemampuan tersebut penting agar media digital benar-benar menjadi ruang edukasi, bukan justru memicu kesalahpahaman.
Melalui kegiatan dalam rangka Festival Santri NU Pragaan tersebut, PAC Fatayat NU Pragaan diharapkan dapat memperkuat kesadaran politik dan kepemimpinan kader perempuan. Pengetahuan mengenai demokrasi, pemahaman kebijakan publik, karakter kepemimpinan, serta solidaritas antarkader menjadi bekal untuk meningkatkan peran perempuan dalam kehidupan bermasyarakat.
Dengan bekal tersebut, kader Fatayat NU diharapkan semakin percaya diri dalam menyampaikan aspirasi, membangun dialog, dan berkontribusi dalam proses pengambilan keputusan. Peringatan Hari Santri Nasional 2026 pun menjadi momentum untuk memperluas ruang belajar dan partisipasi perempuan, sehingga kehadiran mereka tidak hanya terlihat dalam kegiatan organisasi, tetapi juga dalam upaya menjawab berbagai persoalan masyarakat.

