Koperasi dan Majelis Taklim: Menjadikan Kekuatan Spiritual Menjadi Kekuatan Ekonomi

Oleh: Dr. Adi Suparto 

Di Indonesia Arena, Gelora Bung Karno, Sabtu 26 September 2026, berlangsung peristiwa yang menyatukan dua kekuatan besar bangsa. Puluhan ribu anggota Badan Kontak Majelis Taklim berkumpul untuk merayakan milad ke-45 sekaligus pelantikan pengurus periode 2026–2031. Hadir Menteri Koperasi Ferry Juliantono, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, tokoh nasional Anies Baswedan, serta perwakilan MES dan BAZNAS. Di momen inilah arah baru dicanangkan: mengubah kekuatan pengajian menjadi kekuatan kesejahteraan rakyat.

Mengubah Ruang Pengajian Menjadi Pusat Kesejahteraan

Selama puluhan tahun, majelis taklim dikenal sebagai tempat warga mendekatkan diri kepada Allah, mempererat persaudaraan, dan menumbuhkan akhlak mulia. Kini perannya meluas; tidak cukup jiwa yang diberi makan, kehidupan sehari-hari pun harus ditingkatkan. Kementerian Agama mendorong transformasi ini agar majelis taklim tumbuh menjadi lembaga yang tidak hanya membina iman, tetapi juga mengangkat taraf hidup jamaahnya.

Menteri Koperasi Ferry Juliantono menegaskan tekad yang sama: merajut kembali benang merah antara koperasi dan majelis taklim. Perekonomian yang dibangun bukan yang berpusat pada keuntungan semata, melainkan yang berlandaskan kebersamaan, kekeluargaan, dan gotong royong; nilai yang sudah hidup di tengah masyarakat sejak lama.

Koperasi Berbasis Masjid, Langkah yang Mengakar

Wujud nyata dari kesatuan ini adalah program pendirian koperasi di lingkungan masjid, yang digagas bersama MES, Majelis Taklim Muhammadiyah, dan BAZNAS. Gagasannya sederhana namun kuat: masjid dan majelis taklim berada tepat di tengah-tengah warga. Ikatan kekeluargaan kuat, kepercayaan tinggi, dan kehadirannya dirasakan setiap hari.

Ke depan, program ini akan diperluas ke seluruh Indonesia. Peran majelis taklim dinilai paling menentukan keberhasilannya; karena merekalah yang paling dikenal, paling dekat, dan paling dipercaya oleh warga. Koperasi tidak datang dari luar, melainkan tumbuh dari dalam, dikelola oleh sesama warga, untuk kepentingan sesama warga.

Kekuatan yang Tumbuh dari Bawah

Berdasarkan kajian yang ada, keunggulan pendekatan ini terletak pada akarnya yang kuat. Pertama, tumbuh dari lingkungan sendiri, bukan dibawa oleh pihak asing yang belum tentu memahami keadaan setempat. Kedua, berjalan di atas nilai-nilai keislaman: jujur, amanah, saling menolong, menjauhi riba dan segala bentuk kecurangan. Ketiga, berkembang secara bertahap; mulai dari yang kecil, dikelola dengan hati-hati, dan tumbuh bersama kemampuan warga. Keempat, menumbuhkan kemandirian umat; tidak bergantung sepenuhnya pada bantuan luar, melainkan mengandalkan kekuatan sendiri yang dikumpulkan perlahan namun pasti.

Hal-Hal yang Harus Tetap Dijaga

Langkah ini mulia, namun ada hal-hal yang perlu dijaga agar tidak menyimpang dari tujuan semula. Pengurus perlu dibekali kemampuan mengelola keuangan dan usaha secara transparan dan profesional. Niat harus tetap murni untuk membantu, bukan mencari keuntungan pribadi atau kelompok. Kepengurusan boleh berganti, namun program yang bermanfaat harus tetap berjalan berkelanjutan. Dan manfaatnya harus sampai kepada yang paling membutuhkan; bukan hanya kepada mereka yang sudah mampu.

Penutup

Ketika majelis taklim yang mengajak ke jalan kebaikan sekaligus menjadi tempat warga belajar berdiri secara ekonomi, maka dua kekuatan bangsa menyatu menjadi satu. Iman menguatkan tekad, dan usaha bersama mewujudkan kesejahteraan. Semoga koperasi masjid tidak sekadar seremonial, melainkan tumbuh menjadi lembaga yang benar-benar dipercaya, dikelola dengan jujur, dan membawa manfaat hingga ke rumah-rumah warga yang paling sederhana.

Penulis: Analis Komunikasi Politik dan Kebijakan Publik