BLITAR – SMK Negeri 1 Kademangan, Kabupaten Blitar, memasuki usia ke-23 dengan membawa semangat baru dalam pengembangan pendidikan vokasi. Bukan sekadar merayakan hari jadi, sekolah tersebut menjadikan momentum Dies Natalis ke-23 sebagai ajang untuk memperkenalkan inovasi pembelajaran melalui Eduwisata Agro Tekno Park.
Peresmian Eduwisata Agro Tekno Park berlangsung di lingkungan SMKN 1 Kademangan, Selasa (29/9/2026). Program tersebut dikembangkan sebagai ruang pembelajaran terbuka yang menggabungkan pendidikan vokasi, teknologi pertanian, budidaya perikanan, kewirausahaan, hingga penguatan ketahanan pangan.
Konsep tersebut sekaligus mempertegas arah SMKN 1 Kademangan untuk menjadikan lingkungan sekolah bukan hanya tempat belajar teori, tetapi juga laboratorium produksi dan praktik yang memungkinkan siswa mengalami langsung proses kerja di lapangan.
Dalam materi publikasi Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, pengembangan Agro Tekno Park menjadi bagian dari upaya sekolah memperkuat inovasi melalui Program SIKAP (Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan). Berbagai komoditas dikembangkan di lingkungan sekolah, mulai dari budidaya ikan hingga beragam jenis sayuran.
“Kehadiran kawasan tersebut membuat proses pembelajaran menjadi lebih kontekstual. Siswa tidak hanya mendapatkan materi dari buku atau ruang kelas, tetapi dapat melihat, mengelola, merawat, memanen, sekaligus memahami bagaimana sebuah produk pertanian maupun perikanan memiliki nilai ekonomi,” jelas Kepala Dinas Pendidikan (Kadindik) Provinsi Jawa Timur, Aries Agung Paewai di sela acara peresmian Eduwisata Agro Tekno Park.
Konsep ini juga sejalan dengan perkembangan SMK yang semakin diarahkan untuk membangun keterkaitan antara pembelajaran dengan kebutuhan dunia kerja dan dunia usaha.
Dari ruang kelas menjadi laboratorium produksi
Pengembangan Agro Tekno Park SMKN 1 Kademangan bukan muncul secara tiba-tiba. Sebelumnya, sekolah tersebut telah mengembangkan sejumlah fasilitas pembelajaran berbasis produksi.
Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi Kemendikdasmen mencatat, SMKN 1 Kademangan telah mengembangkan greenhouse dan agrowisata petik melon yang dibuka pada 7–8 Agustus 2026. Fasilitas tersebut dimanfaatkan siswa Jurusan Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura (ATPH) untuk menerapkan pembelajaran secara langsung.
Greenhouse seluas 300 meter persegi itu menjadi salah satu contoh penerapan teaching factory (Tefa). Siswa terlibat dalam berbagai tahapan budidaya melon, mulai dari pengaturan nutrisi, pemantauan tingkat keasaman media, seleksi buah hingga pengendalian hama.
Menariknya, sekolah menerapkan dua pendekatan sekaligus, yakni hidroponik dengan sistem fertigasi serta budidaya berbasis tanah. Perpaduan tersebut memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami bahwa teknologi pertanian tidak berhenti pada penggunaan alat, tetapi juga berkaitan dengan efisiensi biaya, produktivitas, kualitas hasil dan peluang bisnis.
Hasilnya pun cukup konkret. Pada panen melon Sweet Net M77 Agustus lalu, sekolah menghasilkan sekitar 390 buah dengan total bobot sekitar 440 kilogram. Sebanyak 350 buah di antaranya masuk kategori layak jual dan nilai omzet diproyeksikan mencapai Rp10 juta.
Ketahanan pangan tidak berhenti di slogan
Pengembangan Agro Tekno Park semakin menarik karena sebelumnya SMKN 1 Kademangan juga menjadi bagian dari program School Lab Farming yang melibatkan generasi muda dalam praktik pertanian modern.
Dalam program yang didukung PT Petrokimia Gresik tersebut, siswa SMKN 1 Kademangan berhasil memanen sekitar 800 kilogram bawang merah kering dari lahan seluas 1.000 meter persegi. Produksi tersebut meningkat lebih dari lima kali lipat dibandingkan musim tanam sebelumnya yang menghasilkan sekitar 150 kilogram dari luasan lahan yang sama.
“Capaian tersebut menunjukkan bahwa lahan sekolah dapat dimanfaatkan lebih produktif ketika dipadukan dengan pengetahuan, teknologi dan pendampingan yang tepat,” tutur Aries.
Bagi siswa, kegiatan semacam itu juga memberikan pengalaman yang berbeda. Mereka belajar memahami siklus produksi secara utuh, bukan hanya bagaimana menanam atau memanen, tetapi juga mencatat proses, mengelola hasil dan melihat peluang ekonomi dari komoditas yang dikembangkan.
Integrasi berbagai kompetensi keahlian
Eduwisata Agro Tekno Park juga dirancang sebagai ekosistem yang mempertemukan berbagai kompetensi keahlian di SMKN 1 Kademangan.
Laporan mengenai peluncuran Agro Tekno Park menyebutkan bahwa sekolah mengembangkan sejumlah bidang yang saling terhubung, mulai dari Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura, Agribisnis Ternak Unggas, Agribisnis Perikanan Air Tawar, Teknik Kendaraan Ringan/Otomotif, Bisnis Daring dan Pemasaran, Teknik Komputer dan Jaringan hingga Animasi.
Artinya, pengelolaan kawasan tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab siswa di bidang pertanian.
Siswa yang belajar teknologi informasi dapat terlibat dalam pengembangan sistem digital dan teknologi pendukung. Kompetensi otomotif dapat berkontribusi terhadap pemeliharaan mesin maupun alat pertanian. Sementara siswa bidang pemasaran dan animasi dapat mengembangkan sisi promosi, branding dan konten digital.
“Dengan pola seperti itu, Agro Tekno Park menjadi ruang kolaborasi lintas kompetensi, Di sinilah pendidikan vokasi menemukan bentuknya sebagai pembelajaran berbasis proyek. Siswa tidak bekerja dalam sekat jurusan, melainkan belajar memahami bagaimana sebuah ekosistem produksi berjalan dari hulu hingga hilir,” tutur Aries.
SKANEKA INNOFEST menjadi panggung inovasi
Peresmian Eduwisata Agro Tekno Park menjadi salah satu bagian dari rangkaian SKANEKA INNOFEST II 2026, yang digelar untuk memeriahkan Dies Natalis ke-23 SMKN 1 Kademangan.
Rangkaian kegiatan tersebut tidak hanya menghadirkan inovasi pertanian. Sejumlah kegiatan lain juga digelar, mulai dari kompetisi olahraga, fotografi, business plan, desain karakter, festival band hingga kontes modifikasi motor.
Kehadiran Agro Tekno Park membuat perayaan dies natalis memiliki dimensi yang lebih luas. Sekolah tidak hanya memamerkan prestasi siswa, tetapi juga menunjukkan bagaimana fasilitas pendidikan dapat dikembangkan menjadi ruang produksi, edukasi sekaligus interaksi dengan masyarakat.
Sejumlah wahana yang diperkenalkan dalam rangkaian tersebut antara lain Agrotekno Park dan greenhouse melon, Galeri SIKAP, Skaneka Fauna Expo (SKAFE), Aqua Future Expo hingga Digital Business Center.
Dengan konsep tersebut, masyarakat yang datang ke lingkungan sekolah tidak hanya menjadi penonton. Mereka dapat melihat secara langsung bagaimana proses pembelajaran vokasi berlangsung dan bagaimana hasil pembelajaran siswa dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Menyiapkan agropreneur muda
Bagi SMKN 1 Kademangan, tantangan pendidikan vokasi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang menguasai keterampilan teknis. Siswa juga perlu memiliki kemampuan membaca peluang, beradaptasi dengan teknologi dan memahami aspek kewirausahaan. Maka itu, pengembangan Agro Tekno Park diarahkan untuk menjawab kebutuhan tersebut.
Siswa belajar bagaimana sebuah produk dihasilkan, bagaimana menjaga kualitasnya, menghitung biaya, menentukan nilai jual, mengenalkan produk kepada konsumen hingga membangun pengalaman bagi pengguna.
Model semacam ini sejalan dengan konsep agropreneur, yakni generasi muda yang tidak hanya memiliki keterampilan dalam bidang pertanian, tetapi mampu melihat sektor tersebut sebagai ruang inovasi dan bisnis.
Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi sebelumnya juga menyoroti tujuan serupa melalui pengembangan greenhouse melon di SMKN 1 Kademangan. Sekolah diarahkan untuk membangun pengalaman belajar yang membuat siswa memahami teknologi sekaligus peluang usaha di sektor pertanian.
Menjadikan sekolah ruang belajar bagi masyarakat
Peresmian Eduwisata Agro Tekno Park pada akhirnya membawa pesan yang lebih besar dari sekadar pembangunan fasilitas sekolah.
Di tengah kebutuhan memperkuat ketahanan pangan sekaligus menarik minat generasi muda terhadap sektor pertanian, sekolah dapat menjadi salah satu ruang strategis untuk memperkenalkan pertanian modern kepada anak-anak muda. Motivasi inilah yang membuat SMKN 1 Kademangan mencoba membangun ruang tersebut dari lingkungannya sendiri.
Usia 23 tahun menjadi titik penting bagi sekolah untuk menunjukkan bahwa pendidikan vokasi dapat terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Kelas tidak lagi dibatasi oleh empat dinding. Lahan pertanian, greenhouse, kolam ikan, mesin, perangkat digital dan unit produksi dapat menjadi bagian dari proses belajar.
Melalui Eduwisata Agro Tekno Park, SMKN 1 Kademangan ingin mempertemukan pendidikan, teknologi, produksi, kewirausahaan dan ketahanan pangan dalam satu ekosistem.
Jika dikembangkan secara konsisten, kawasan ini tidak hanya menjadi ikon baru sekolah, tetapi juga dapat menjadi etalase bagaimana pendidikan vokasi di Jawa Timur bergerak lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.
Secara kelembagaan, SMKN 1 Kademangan tercatat sebagai sekolah negeri di Kabupaten Blitar dengan NPSN 20551747 dan beralamat di Jalan Sadewo 1, Kademangan. Data Kemendikdasmen mencatat sekolah tersebut mulai beroperasi berdasarkan SK Nomor 221 Tahun 2003.
Dengan fondasi tersebut, perjalanan memasuki usia ke-23 bukan sekadar tentang bertambahnya umur sekolah. Lebih jauh, momentum ini menjadi penanda transformasi menuju sekolah vokasi yang berupaya membuat pembelajaran semakin nyata, produktif dan memiliki keterkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat.
Sumber pendukung: Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi Kemendikdasmen, PT Petrokimia Gresik, serta sejumlah publikasi media mengenai Dies Natalis ke-23 dan SKANEKA INNOFEST II SMKN 1 Kademangan.

