BLITAR – Penguatan pendidikan vokasi di Jawa Timur terus diarahkan agar tidak berhenti pada penguasaan keterampilan teknis. Sekolah menengah kejuruan (SMK) juga dituntut membentuk karakter, kedisiplinan, tanggung jawab, sekaligus kesiapan peserta didik menghadapi perubahan kebutuhan dunia kerja dan industri.
Pesan tersebut mengemuka saat Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Aries Agung Paewai meninjau aktivitas pembelajaran di SMKN 3 Blitar, Selasa (29/9/2026). Kunjungan itu menjadi bagian dari upaya melihat secara langsung proses pembelajaran vokasi sekaligus perkembangan kompetensi yang dibangun sekolah.
Di tengah aktivitas siswa yang berlangsung di ruang praktik, Aries melihat proses pembelajaran yang menempatkan keterampilan sebagai bagian penting dari pengalaman belajar. Mulai dari praktik bidang busana hingga keterampilan kriya, peserta didik dibiasakan berhadapan dengan peralatan dan situasi yang mendekati lingkungan kerja sebenarnya.
Aries menegaskan, potensi peserta didik SMK sangat besar. Karena itu, sekolah memiliki peran penting dalam menyediakan ruang yang cukup bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan sekaligus membangun karakter.
“Anak-anak kita punya potensi yang luar biasa. Tugas sekolah adalah memberikan ruang dan dukungan agar potensi murid dapat berkembang secara maksimal,” ujarnya.
Menurut Aries, pendidikan vokasi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang mampu mengoperasikan peralatan atau menguasai keterampilan sesuai program keahlian. Ada aspek lain yang harus berjalan beriringan, yakni karakter, disiplin, tanggung jawab, dan kemampuan beradaptasi.
“Tidak hanya keterampilan, tetapi juga karakter, disiplin, dan tanggung jawab harus dibangun agar mereka memiliki bekal yang kuat dan siap menghadapi dunia industri,” lanjutnya.
Bukan Sekadar Belajar Teori
Pendekatan pembelajaran seperti itu menjadi penting karena karakter pendidikan SMK memang menempatkan praktik sebagai salah satu unsur utama. Peserta didik tidak hanya dituntut memahami materi secara teoritis, tetapi juga mampu menerapkannya melalui praktik dan menyelesaikan persoalan yang ditemui di lapangan.
Di SMKN 3 Blitar, proses tersebut terlihat dari aktivitas siswa di sejumlah ruang praktik. Para siswa tampak menjalankan kegiatan sesuai bidang keahlian masing-masing, termasuk praktik menggunakan mesin jahit dan mengerjakan pola busana.
Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana pembelajaran vokasi berusaha mendekatkan pengalaman belajar siswa dengan kompetensi yang nantinya dibutuhkan ketika mereka memasuki dunia kerja.
Data satuan pendidikan Kemendikdasmen menunjukkan SMKN 3 Blitar berstatus sekolah negeri dengan akreditasi A dan berlokasi di Jalan Sudanco Supriyadi, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar. Sekolah ini memiliki sejumlah program keahlian, di antaranya perhotelan, kuliner, kecantikan dan spa, desain komunikasi visual, desain dan produksi kriya, serta busana. Data per 3 Juli 2026 mencatat 656 peserta didik pada satuan pendidikan tersebut.
Komposisi kompetensi itu membuat pengembangan pendidikan vokasi di SMKN 3 Blitar memiliki cakupan yang cukup beragam. Tidak hanya keterampilan yang berhubungan dengan manufaktur atau teknik, tetapi juga sektor kreatif, jasa, kuliner, kecantikan, hingga fesyen.
Diperkuat Sertifikasi Kompetensi
Upaya membangun lulusan yang siap masuk ke dunia kerja juga ditunjang dengan keberadaan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Pihak Kesatu SMKN 3 Blitar.
Berdasarkan data Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), LSP SMKN 3 Blitar memiliki lisensi aktif dengan masa berlaku hingga 28 Maret 2029. Lembaga tersebut tercatat memiliki 35 Tempat Uji Kompetensi (TUK), 49 skema sertifikasi dan 32 asesor.
Skema yang tersedia juga cukup beragam, antara lain sertifikasi bidang teknologi fesyen dan desain fesyen, assistant programmer multimedia, content creator junior, junior operator desain grafis, operator audio visual, fotografer junior, hingga kompetensi kriya kreatif kayu dan rotan.
Keberadaan sertifikasi tersebut menjadi salah satu instrumen penting dalam pendidikan vokasi. Sebab, kemampuan siswa tidak hanya diukur berdasarkan proses pembelajaran di kelas, tetapi juga dapat diarahkan pada pengakuan kompetensi melalui skema sertifikasi yang relevan.
Prestasi Siswa Jadi Bukti
Penguatan kompetensi tersebut juga terlihat dari sejumlah prestasi yang berhasil ditorehkan siswa SMKN 3 Blitar.
Salah satu capaian terbaru datang dari Azim Bagus Pamungkas, siswa kelas XII Kriya 1, yang berhasil meraih Juara I sekaligus medali emas LKS Pendidikan Menengah (Dikmen) tingkat nasional 2026 pada bidang Cabinet Making. Kompetisi tersebut berlangsung di Jakarta pada 26 Juli hingga 1 Agustus 2026.
Prestasi tersebut cukup relevan dengan arah pengembangan pendidikan vokasi karena Cabinet Making menuntut kemampuan teknis, ketelitian, kreativitas, serta kemampuan menyelesaikan pekerjaan sesuai standar yang ditentukan.
Jauh sebelum prestasi nasional tersebut, siswa SMKN 3 Blitar juga tercatat menorehkan sejumlah capaian di tingkat provinsi maupun kompetisi lainnya. Di antaranya Juara 2 Cabinet Making LKS Provinsi Jawa Timur, Juara 3 Beauty Therapy LKS Provinsi Jawa Timur, serta berbagai prestasi pada bidang seni, olahraga, bahasa, dan kompetisi akademik.
Rangkaian capaian itu menunjukkan bahwa pendidikan vokasi tidak harus membatasi siswa pada satu jalur. Kompetensi kejuruan dapat berjalan beriringan dengan kemampuan akademik, kreativitas, komunikasi, kepemimpinan, maupun prestasi nonakademik.
Pendidikan Vokasi Jatim Terus Didorong Berdaya Saing
Apa yang dilakukan SMKN 3 Blitar juga berada dalam konteks lebih luas penguatan pendidikan vokasi di Jawa Timur.
Dalam beberapa waktu terakhir, Dinas Pendidikan Jawa Timur mendorong agar kompetensi guru dan peserta didik semakin dekat dengan kebutuhan industri. Salah satu langkah yang dilakukan adalah pengembangan kompetensi guru SMK melalui program magang luar negeri.
Sebanyak 14 guru SMK asal Jawa Timur pada 2026 berhasil lolos dalam program magang luar negeri yang diikuti 50 guru terpilih dari seluruh Indonesia. Mereka mendapatkan kesempatan meningkatkan kompetensi vokasi di Jerman, termasuk melalui pembelajaran di Technische Universität Dresden dan Festo Germany. Aries menyebut pengalaman tersebut diharapkan dapat ditransfer kembali ke sekolah sehingga berdampak terhadap mutu pendidikan vokasi.
Pada sisi peserta didik, kualitas lulusan SMK Jawa Timur juga mendapat pengakuan melalui capaian di kompetisi internasional. Terbaru, tiga alumni SMK Jatim berhasil membawa pulang medali dari WorldSkills Shanghai 2026. Dua alumni SMKN 1 Jenangan meraih Medal for Excellence di bidang Mechatronics, sementara alumni SMKS PGRI 3 Malang memperoleh Silver Medal pada bidang Software Application Development.
Aries juga sebelumnya menegaskan pentingnya penguatan keterampilan siswa agar lulusan SMK benar-benar memiliki kesiapan memasuki dunia industri. Dalam konteks itu, pengalaman praktik, sertifikasi, kompetisi, hingga keterhubungan dengan dunia usaha dan dunia industri menjadi bagian dari ekosistem pendidikan vokasi.
Karena itu, kunjungan ke SMKN 3 Blitar tidak sekadar menjadi agenda melihat aktivitas pembelajaran. Lebih jauh, momentum tersebut memperlihatkan pentingnya memastikan proses pendidikan benar-benar memberi ruang bagi siswa untuk berkembang sesuai potensinya.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan vokasi bukan hanya seberapa banyak siswa mampu menyelesaikan pendidikan. Lebih dari itu, bagaimana mereka keluar dari sekolah dengan keterampilan yang teruji, karakter yang kuat, kemampuan beradaptasi, serta keberanian untuk bersaing di tengah perubahan dunia kerja.
Bagi SMKN 3 Blitar, deretan prestasi siswa dan penguatan fasilitas serta sertifikasi kompetensi menjadi modal untuk terus mengembangkan kualitas pembelajaran. Sementara bagi pendidikan vokasi Jawa Timur, capaian tersebut menjadi bagian dari upaya lebih besar untuk melahirkan lulusan yang tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu menciptakan peluang dan bersaing di tingkat yang lebih luas.

