PJKR FIKK UNESA Sosialisasikan Peraturan Pencak Silat Versi VII untuk Tingkatkan Kompetensi Guru PJOK
Surabaya – Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR) Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menggelar kegiatan Sosialisasi Peraturan Pencak Silat Versi VII sebagai strategi pengembangan kompetensi profesional guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK).
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini dilaksanakan di Auditorium U1 FIKK UNESA lantai 3 dan diikuti oleh mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG). Acara diawali dengan upacara pembukaan yang secara resmi dibuka oleh Dekan FIKK UNESA, Dr. Irmantara Subagio, M.Kes., yang diwakili oleh Wakil Dekan II, Prof. Dr. Or. Gigih Siantoro, M.Pd.

Dalam sambutannya, Prof. Gigih Siantoro mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut dan menekankan pentingnya guru PPG untuk terus memperbarui pengetahuan dan kompetensi keilmuan, khususnya di bidang olahraga prestasi dan perwasitan.
Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan paralel session di beberapa kelas sesuai pembagian ruangan, masing-masing mengangkat tema yang berbeda terkait implementasi Peraturan Pencak Silat Versi VII dalam pembelajaran dan pertandingan.
Ketua tim PKM, Hamdani, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa pencak silat tidak hanya merupakan seni bela diri tradisional Nusantara, tetapi juga mengandung unsur seni, budaya, spiritualitas, dan sportivitas. Ia menegaskan bahwa pencak silat merupakan salah satu cabang olahraga unggulan Indonesia yang membutuhkan pemahaman regulasi secara komprehensif, terutama bagi guru PJOK.
“Peraturan perwasitan pencak silat terus mengalami pembaruan. Sementara itu, tidak semua guru atau calon guru memiliki pengalaman maupun pelatihan perwasitan. Melalui sosialisasi ini, kami ingin membekali guru PJOK agar lebih profesional dan kompeten,” ujarnya.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa pemahaman terhadap Peraturan Pencak Silat Versi VII sangat penting untuk menjamin keadilan, keamanan, serta kualitas pertandingan, sekaligus dapat diterapkan dalam proses pembelajaran dan pembinaan atlet pencak silat di sekolah.
Berdasarkan hasil evaluasi kegiatan, antusiasme peserta dinilai sangat tinggi. Interaksi antara peserta dan dosen pengampu berlangsung intensif, serta tercipta suasana diskusi yang aktif dan kolaboratif antar peserta.
Kegiatan ini diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas guru PJOK, khususnya dalam penguasaan peraturan terbaru pencak silat, sehingga dapat mendukung pengembangan olahraga pencak silat sebagai cabang olahraga asli Indonesia.