SURABAYA – Tim pencak silat Kota Surabaya kembali menorehkan prestasi dengan meraih gelar juara umum dalam ajang Kejurprov Pencak Silat Jawa Timur 2026 Piala BHS. Meski demikian, Pelatih Kepala Pencak Silat Surabaya, Nur Azmi Rifai, mengakui capaian medali emas (3 medali emas, 6 perak dan 7 perunggu) timnya belum sepenuhnya sesuai target.
Nur Azmi mengatakan, secara keseluruhan hasil yang diraih atlet Surabaya tetap patut disyukuri karena mampu menunjukkan dominasi hingga babak semifinal dan final.
“Bersyukur ya, kita masih diberikan juara umum walaupun target kita meleset, ada yang gagal mencapai target emas. Tapi dengan semifinal 16 dan masuk final 9 itu capaian yang sangat luar biasa,” ujar Rifai.
Dalam kejuaraan tersebut, Surabaya berhasil mengamankan tiga medali emas. Menurutnya, hasil itu sebenarnya belum maksimal karena ada sejumlah kelas yang sebelumnya diproyeksikan meraih emas justru lepas di detik akhir.
Ia menegaskan, evaluasi terbesar tim pelatih saat ini berkaitan dengan pemahaman regulasi pertandingan yang berubah mendadak menjelang kompetisi berlangsung.
“Evaluasinya adalah bagaimana pemahaman peraturan. Karena peraturan ini berubah dua minggu sebelum pertandingan. Kami sudah melakukan tes sejak Januari, hampir lima bulan kami berlatih, lalu dua minggu sebelum pertandingan peraturannya berubah,” jelasnya.
Perubahan aturan tersebut dinilai cukup memengaruhi performa atlet di lapangan. Bahkan, beberapa hasil pertandingan dianggap masih menimbulkan perdebatan dari sisi penerapan regulasi.
“Kami sebenarnya belum memahami betul peraturan yang dipakai seperti apa. Ada beberapa pertandingan yang kalah di detik akhir, kemudian kalah karena peraturan yang kami anggap masih debatable. Itu menjadi evaluasi kami,” katanya.
Meski target emas tidak sepenuhnya tercapai, Nur Azmi tetap mengapresiasi perjuangan para atlet yang mampu membawa Surabaya menjadi juara umum.
“Memang masih ada kurang lebihnya, kita akui target tidak tercapai. Tapi setidaknya Surabaya menjadi juara umum, itu menjadi penghibur bagi kita,” tambahnya.
Ke depan, tim pencak silat Surabaya langsung bersiap menghadapi ajang berikutnya, termasuk Porprov Jatim X 2027 yang akan digelar di Surabaya. Sebelumnya, pada Porprov IX di Kota Malang, Surabaya berhasil meraih lima medali emas.
“Kemarin di Malang Kota kita dapat lima emas. Semoga pada Porprov di Surabaya nanti kita bisa lebih dari itu,” ungkapnya.
Meski demikian, ia menyebut target realistis yang dipasang tetap lima medali emas. Jika berhasil melampaui angka tersebut, maka hal itu menjadi bonus bagi tim.
“Targetnya tetap lima, kalau lebih itu bonus. Sebenarnya kalau lihat semifinal 16 kelas itu kita sangat dominan,” tegasnya.
Selain menjadi ajang kompetisi, Kejurprov Pencak Jawa Timur 2026 Piala BHS juga akan dijadikan bahan evaluasi dan referensi untuk pembentukan tim tahap kedua menuju kejuaraan berikutnya.
“Piala BHS kali ini akan menjadi referensi bayangan tahap kedua. Sebelumnya sudah ada Piala KONI untuk referensi. Hasil dari Piala Wali Kota nanti digunakan untuk seleksi tahap dua guna memperoleh atlet terbaik,” pungkasnya.
Sementara itu, dukungan terhadap pembinaan olahraga pencak silat juga datang dari anggota Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur, Cahyo Harjo Prakoso. Mereka menilai olahraga memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus membentuk karakter generasi muda.
Perwakilan Komisi E DPRD Jawa Timur, Cahyo Harjo Prakoso, menyampaikan, peningkatan kualitas manusia tidak hanya dilakukan melalui sektor pendidikan dan kesehatan, tetapi juga melalui olahraga yang mampu menanamkan budaya hidup sehat dan semangat berprestasi.
“Kami dari Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur meyakini bahwa untuk meningkatkan indeks kualitas manusia, salah satu instrumen pentingnya selain pendidikan dan kesehatan adalah meningkatkan budaya hidup sehat melalui olahraga,” ujarnya.
Menurutnya, pencak silat tidak hanya menjadi wadah mencetak atlet berprestasi di tingkat nasional maupun internasional, tetapi juga sarana menjaga nilai budaya dan karakter bangsa.
“Pencak silat ini tidak hanya menjadi bagian penting untuk melahirkan juara-juara baru, tetapi juga ruang menjaga nilai budaya, profesionalitas, tenggang rasa, dan gotong royong agar tetap eksis di Jawa Timur, khususnya Kota Surabaya,” tutur Cahyo.
Karena itu, DPRD Jawa Timur berkomitmen terus mendukung program pembinaan olahraga prestasi, termasuk pencak silat, melalui dukungan kebijakan maupun anggaran.
“Kami terus mendorong postur anggaran pembinaan olahraga agar tetap diperhatikan. Memang ada keterbatasan fiskal dan penyesuaian APBD, tetapi kami berharap dukungan terhadap program strategis olahraga tidak turun terlalu jauh,” jelas anak pertama dari Ketua IPSI Jatim sekaligus anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra, Bambang Haryo Soekartono.
Ia menambahkan, olahraga memiliki fungsi penting dalam pembangunan karakter generasi muda menuju Indonesia Emas 2045.
“Olahraga ini tidak hanya mengolah raga, tetapi juga mengolah rasa dan pikiran. Ini bagian dari nation character building. Kita tidak hanya ingin mencetak generasi yang sehat dan kreatif, tetapi juga generasi yang berkarakter. Salah satu jalannya melalui olahraga, termasuk pencak silat,” pungkasnya.

