Perth, Australia – Fakultas Ketahanan Pangan (FKP) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) terus memperkuat jejaring internasional melalui penjajakan kerja sama akademik dan riset dengan Edith Cowan University (ECU), Australia. Kolaborasi tersebut diwujudkan dalam kegiatan International Academic Matchmaking and Research Collaboration yang berlangsung pada 29 Mei hingga 3 Juni 2026 di Perth.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya FKP Unesa dalam meningkatkan kualitas pendidikan tinggi, memperluas kolaborasi penelitian, serta menghadirkan inovasi yang mampu menjawab tantangan ketahanan pangan global.
Delegasi FKP Unesa dipimpin oleh Dekan FKP, Prof. Dr. Nining Widyah Kusnanik, S.Pd., M.Appl.Sc., bersama Khoiriyatun Widyastuti, S.P., M.P. Selama kunjungan, rombongan melakukan diskusi intensif dengan sejumlah akademisi ECU, termasuk Prof. Ferry Jie dari School of Business and Law yang memiliki kepakaran di bidang manajemen rantai pasok, operasional, dan keberlanjutan agribisnis.
Berbagai peluang kerja sama dibahas dalam pertemuan tersebut, mulai dari penelitian kolaboratif, publikasi ilmiah internasional, program pertukaran akademik, hingga pengembangan inovasi yang mendukung sistem pangan berkelanjutan.
Prof. Nining menjelaskan bahwa kemitraan internasional menjadi salah satu strategi penting dalam meningkatkan daya saing perguruan tinggi Indonesia sekaligus memperluas dampak penelitian yang dihasilkan.
“Melalui kolaborasi ini, kami berharap dapat menghasilkan riset yang tidak hanya memiliki kualitas akademik tinggi, tetapi juga mampu memberikan solusi nyata bagi persoalan ketahanan pangan yang dihadapi masyarakat global,” ujarnya.
Dalam diskusi yang berlangsung, kedua institusi menyoroti sejumlah isu strategis, di antaranya ketahanan pangan perkotaan, digitalisasi sektor agribisnis, keberlanjutan sistem pangan, serta penguatan rantai pasok yang tangguh di tengah berbagai tantangan global.
Sementara itu, Prof. Ferry Jie menilai bahwa persoalan pangan dunia tidak dapat diselesaikan oleh satu negara atau satu disiplin ilmu saja. Menurutnya, kolaborasi lintas negara dan lintas bidang keilmuan menjadi kunci untuk menghasilkan solusi yang aplikatif dan berkelanjutan.
“Tantangan ketahanan pangan membutuhkan pendekatan multidisiplin. Kemitraan akademik internasional dapat mempercepat lahirnya inovasi berbasis riset yang relevan dengan kebutuhan masa depan,” kata Prof. Ferry.
Kerja sama yang dijajaki FKP Unesa dan ECU juga sejalan dengan Program EQUITY yang digagas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia dengan dukungan pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Program tersebut mendorong penguatan kolaborasi internasional melalui peningkatan kapasitas riset, pengembangan institusi, dan perluasan kesempatan global bagi sivitas akademika.
Selain memperkuat kapasitas akademik, kolaborasi ini turut mendukung pencapaian sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 tentang Tanpa Kelaparan, SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta SDG 17 mengenai Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Sebagai tindak lanjut, kedua institusi menjajaki pembentukan program kerja sama jangka panjang yang mencakup penelitian bersama, publikasi internasional kolaboratif, program visiting professor, hingga pengembangan pusat riset bersama yang berfokus pada sistem pangan berkelanjutan dan inovasi agribisnis.
Kolaborasi tersebut diharapkan menjadi fondasi kuat bagi pengembangan solusi inovatif di bidang ketahanan pangan sekaligus memperluas kontribusi Indonesia dalam jejaring penelitian dan pembangunan berkelanjutan di tingkat global.
