Surabaya – Menghadapi suhu udara yang semakin tinggi akibat dampak perubahan iklim dan pemanasan global, Anggota DPRD Kota Surabaya Komisi C, Achmad Nurdjayanto, S.Pd., mengusulkan penerapan Mist cooling system,sebuah sistem penyemprotan kabut air (mist) di ruang terbuka sebagai solusi untuk menurunkan suhu lingkungan, meningkatkan kenyamanan masyarakat, sekaligus mendukung pengelolaan air hujan dan pengendalian banjir di Kota Surabaya.
Menurut Achmad Nurdjayanto, cuaca panas ekstrem yang terjadi belakangan ini telah dirasakan di berbagai daerah di Indonesia, termasuk Kota Surabaya. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga berpotensi menghambat aktivitas ekonomi karena masyarakat cenderung mengurangi kegiatan di luar ruangan.
“Kondisi panas ekstrem seperti sekarang ini perlu menjadi perhatian bersama. Jangan sampai aktivitas masyarakat menurun hanya karena cuaca yang terlalu panas. Kita harus mulai memikirkan solusi yang bisa diterapkan di Surabaya,” ujar Achmad, Selasa (28/7/2026).
Ia menjelaskan, salah satu inovasi yang dapat diterapkan adalah pembangunan Mist cooling system, yakni sistem penyemprotan air otomatis yang menghasilkan kabut halus (mist) untuk menurunkan suhu di kawasan terbuka. Menurutnya, sistem tersebut dapat dijadikan proyek percontohan sebelum diterapkan secara lebih luas di sejumlah titik strategis Kota Surabaya.
Achmad mengusulkan agar tahap awal implementasi dilakukan di kawasan dengan mobilitas masyarakat yang tinggi, seperti Balai Kota Surabaya, Jalan Tunjungan, kawasan Kota Lama, pusat bisnis, destinasi wisata, taman kota, hingga ruang publik lainnya.
“Kalau perlu ditempatkan terlebih dahulu di daerah percontohan, seperti kawasan Balai Kota Surabaya, Jalan Tunjungan, dan Kota Lama. Dengan begitu masyarakat tetap merasa nyaman untuk beraktivitas maupun berwisata meskipun cuaca sedang sangat panas,” katanya.
Menurutnya, konsep serupa telah diterapkan di sejumlah negara, salah satunya di China, sehingga Surabaya memiliki peluang untuk mengadopsinya dengan menyesuaikan karakteristik wilayah dan kebutuhan masyarakat setempat.
Tidak hanya berfungsi sebagai pendingin udara di ruang terbuka, Achmad juga mengusulkan agar Mist cooling system,diintegrasikan dengan sistem pengelolaan air hujan. Air hujan yang selama ini langsung mengalir ke saluran drainase dinilai dapat ditampung melalui reservoir, kemudian diolah kembali untuk dimanfaatkan sebagai sumber air bagi sistem penyemprotan saat musim kemarau.
Ia menilai konsep tersebut sejalan dengan upaya Pemerintah Kota Surabaya dalam meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim sekaligus mendukung implementasi Peraturan Daerah tentang penanggulangan banjir.
“Ketika musim hujan, air hujan jangan sampai terbuang percuma atau justru menyebabkan genangan. Air itu bisa ditampung, diolah, lalu dimanfaatkan kembali saat musim kemarau sebagai bahan baku sistem pendingin di ruang terbuka,” jelasnya.
Selain mendukung konservasi air, penggunaan kabut air juga diyakini mampu membantu menekan polusi udara. Partikel air yang disemprotkan dapat mengikat debu di udara sehingga kualitas udara menjadi lebih baik, sementara suhu lingkungan dapat turun beberapa derajat sehingga memberikan kenyamanan bagi masyarakat.
“Harapannya kualitas udara di Surabaya tetap terkontrol. Bukan hanya suhu yang menjadi lebih sejuk, tetapi kebersihan udara juga meningkat sehingga masyarakat lebih nyaman saat berada di luar ruangan,” ungkapnya.
Achmad berharap Pemerintah Kota Surabaya dapat mengkaji usulan tersebut secara komprehensif sebagai bagian dari inovasi pembangunan kota yang adaptif terhadap perubahan iklim. Menurutnya, pembangunan tidak hanya berorientasi pada infrastruktur fisik, tetapi juga harus mampu menciptakan ruang publik yang nyaman, sehat, ramah lingkungan, serta mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Ia menambahkan, apabila. Mist cooling system, dapat diterapkan secara bertahap dan terintegrasi dengan sistem pengelolaan air kota, Surabaya berpotensi menjadi salah satu kota pelopor di Indonesia dalam menghadirkan teknologi pendingin ruang terbuka yang berkelanjutan.
Di sisi lain, Achmad juga mendorong agar seluruh elemen masyarakat bersama Pemerintah Kota Surabaya terus memperkuat berbagai upaya mitigasi perubahan iklim, mulai dari penghijauan, peningkatan ruang terbuka hijau, optimalisasi pengelolaan air hujan, hingga penerapan teknologi ramah lingkungan. Dengan langkah tersebut, Surabaya diharapkan semakin siap menghadapi tantangan cuaca ekstrem di masa mendatang, sekaligus tetap menjadi kota yang nyaman untuk dihuni, dikunjungi, dan menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat.
