Ajeng Wira Wati Tegaskan Kesiapan Pemkot Surabaya Kawal Bantuan Pendidikan, Cegah Ribuan Mahasiswa Putus Kuliah
Surabaya – Pemerintah Kota Surabaya memastikan pengawalan ketat terhadap penyesuaian Peraturan Wali Kota (Perwali) terkait bantuan pendidikan agar tidak ada mahasiswa yang terputus kuliah akibat perubahan kebijakan. Anggota DPRD Kota Surabaya, Ajeng Wira Wati, menegaskan bahwa koordinasi telah dilakukan untuk memastikan seluruh penerima bantuan tetap terakomodasi.
Ajeng menyampaikan, berdasarkan pemetaan terbaru, terdapat sekitar 2.437 mahasiswa yang terdampak penyesuaian bantuan pendidikan. Dari jumlah tersebut, sekitar 600 mahasiswa memiliki Uang Kuliah Tunggal (UKT) di bawah Rp2,5 juta, sementara sekitar 1.700 mahasiswa lainnya memiliki UKT di atas nominal tersebut.
“Yang UKT-nya di bawah Rp2,5 juta sudah jelas terakomodasi. Sedangkan yang di atas Rp2,5 juta ini harus benar-benar dikawal, supaya tidak ada yang putus sekolah hanya karena perubahan bantuan,” ujar Ajeng.
Ia menjelaskan, kondisi ekonomi penerima bantuan bisa saja berubah dibandingkan saat awal masuk perguruan tinggi. Oleh karena itu, Pemkot Surabaya mendorong agar mahasiswa yang tidak lagi masuk kategori tertentu tetap mendapat dukungan melalui skema beasiswa lain.
“Bantuan pendidikan bisa dikoordinasikan dengan pihak universitas. Setiap perguruan tinggi sebenarnya sudah memiliki kebijakan bantuan, baik melalui kerja sama CSR maupun mitra lainnya,” jelasnya.
Selain itu, Ajeng mengungkapkan adanya perluasan program pendidikan di Kota Surabaya. Jika sebelumnya kerja sama hanya terbatas pada 15 perguruan tinggi, pada tahun 2026 Pemkot Surabaya telah menjalin kerja sama dengan 29 perguruan tinggi swasta (PTS).
Dengan perluasan tersebut, kuota bantuan pendidikan ditargetkan mencapai 23.820 hingga sekitar 24.000 mahasiswa, baik di perguruan tinggi negeri maupun swasta. Program ini juga dilengkapi dengan pelatihan pendukung agar manfaat bantuan pendidikan dapat dirasakan secara maksimal.
“Harapannya, program ini benar-benar mendukung visi satu keluarga satu sarjana, sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Kota Surabaya,” pungkas Ajeng.