Dari Kampung, Nasionalisme Surabaya Tumbuh Lewat Upacara HUT Kemerdekaan

SURABAYA — Semangat memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia di Kota Surabaya tidak hanya terlihat dalam upacara yang digelar pemerintah maupun institusi. Sejumlah warga di berbagai kampung memilih menggelar upacara bendera secara sederhana sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan para pahlawan.

Tokoh masyarakat Surabaya, Budi, menilai kegiatan upacara di tingkat kampung memiliki nilai penting dalam menumbuhkan nasionalisme, patriotisme, kepedulian, serta semangat gotong royong masyarakat.

Menurutnya, antusiasme warga mengikuti upacara menunjukkan bahwa rasa cinta tanah air masih kuat di tengah masyarakat. Bahkan, kegiatan tersebut melibatkan berbagai elemen, mulai dari anak-anak sekolah dasar, kader PKK, RT/RW, hingga kelompok pemuda dan relawan.

“Jadi masyarakat itu tentunya dengan semangatnya itu juga ada kepedulian dengan yang namanya melakukan upacara di wilayahnya masing-masing. Nah, ini sudah tercipta rasa heroiknya, rasa kegotongroyongannya masyarakat, kepedulian, rasa cinta tanah airnya itu terwujud,” ujar Budi.

Ia mengatakan, pelaksanaan upacara di kampung tidak harus dilakukan secara mewah. Dengan sarana sederhana dan tanpa biaya besar, masyarakat tetap dapat menghadirkan suasana khidmat sekaligus menanamkan nilai perjuangan kepada generasi muda.

“Berbagai kalangan, elemen mulai dari anak-anak SD ikut terlibat, terus dari PKK, RT, RW. Paling banyak itu anak-anak muda juga, relawan-relawan kita yang ikut hadir tanpa atribut, tetapi dengan busana-busana pahlawan, kedaerahan dan baju harian seperti anak-anak sekolah SD,” katanya.

Budi menilai konsep upacara sederhana di kampung justru memberikan ruang lebih luas bagi masyarakat untuk terlibat langsung dalam memperingati kemerdekaan. Warga di kawasan padat penduduk, bantaran rel kereta api hingga sekitar sungai pun dapat merasakan suasana upacara yang biasanya lebih identik dengan sekolah, kantor pemerintahan, atau institusi resmi.

Menurut dia, keterlibatan TNI juga memberikan warna tersendiri. Dalam sejumlah kegiatan, personel TNI hadir dan bertugas sebagai komandan upacara. Tokoh masyarakat dan tokoh agama turut bergabung sehingga kegiatan menjadi momentum kebersamaan seluruh elemen warga.

“Jadi istilahnya mencintai wilayah kita, mengajak masyarakat untuk memahami arti perjuangan para leluhur kita. Kita tinggal memperingati, tetapi dengan suasana sederhana dan mereka di kampung bisa merasakan,” jelasnya.

Perkuat Silaturahmi Antarwarga

Selain menanamkan nasionalisme, upacara kemerdekaan di kampung dinilai mampu memperkuat hubungan sosial antarwarga. Budi menyebut kegiatan tersebut dapat menjadi sarana bagi masyarakat dari kampung yang berbeda untuk saling mengenal.

“Yang paling penting silaturahminya itu akhirnya sama. Kadang kampung sana, kampung sana tidak saling kenal. Tetapi kalau dengan jiwa nasionalisme ini tertanamkan dengan kegiatan seperti itu, saling mengenal,” tuturnya.

Kegiatan juga dapat dilanjutkan dengan berbagai perlombaan maupun aktivitas bersama. Dengan demikian, momentum HUT Kemerdekaan tidak berhenti pada seremoni, tetapi berkembang menjadi ruang interaksi sosial masyarakat.

Bahkan, kegiatan tersebut turut memberikan dampak terhadap ekonomi kerakyatan. Warga dapat melibatkan pelaku UMKM sekitar untuk menyediakan makanan dan minuman bagi peserta.

“Kita sekadar kasih konsumsi, kita ngerekrut rombong UMKM. Ada rombong soto, ada rombong sate, es, kita taruh di situ, makan bareng-bareng. Kompak sudah. Silaturahmi ini,” katanya.

Ia menilai perputaran ekonomi tersebut menjadi manfaat tambahan dari kegiatan sederhana yang digelar masyarakat. Warga berkumpul, saling mengenal, sekaligus memberikan ruang bagi pelaku usaha kecil untuk mendapatkan penghasilan.

Nasionalisme Ditanamkan Sejak Dini

Budi berharap semangat menggelar upacara kemerdekaan di kampung terus dipertahankan dan semakin meluas pada tahun-tahun berikutnya. Menurutnya, anak-anak dan remaja perlu diberi ruang untuk memahami makna kemerdekaan melalui pengalaman langsung.

Ia mencontohkan keterlibatan anak-anak dalam membuat dan menghafalkan kata-kata mutiara dari para pahlawan. Aktivitas sederhana tersebut dinilai dapat membangun rasa bangga sekaligus memperkenalkan nilai perjuangan sejak usia dini.

“Jiwa nasionalismenya di kampung-kampung ini ditanamkan. Bangga karena mereka itu tidak mungkin oleh undangan upacara di mana-mana. Ibu-ibu mereka itu rindu dengan suasana upacara dan khidmat,” ujarnya.

Karena itu, ia mendukung apabila ke depan terdapat anjuran agar masyarakat di setiap kampung menggelar upacara secara sederhana sesuai kondisi masing-masing wilayah.

Namun, ia mengingatkan agar pelaksanaan kegiatan tetap menghormati simbol-simbol negara. Kreativitas dalam membuat konten atau kegiatan peringatan kemerdekaan harus tetap memperhatikan etika dan tidak menimbulkan kesalahan yang dapat merendahkan lambang negara.

“Yang penting ingat menghargai Merah Putih. Jangan sampai lambang-lambang negara ini dibuat jadi ada kesalahan yang timbul efek untuk merusak. Ini upaya yang penting sederhana tanpa mengeluarkan biaya yang besar, tetapi jiwa-jiwa nasional ini diajarkan di kampung-kampung,” tegasnya.

Budi menambahkan, semangat tersebut sangat relevan dengan identitas Surabaya sebagai Kota Pahlawan. Peringatan kemerdekaan di tingkat kampung, menurutnya, menjadi salah satu cara untuk menjaga ingatan kolektif masyarakat mengenai perjuangan para pendahulu.

“Dari kampung untuk nasionalisme dan dari kampung untuk mereka paham arti sebuah perjuangan kemerdekaan. Apalagi Kota Surabaya, Kota Pahlawan,” pungkasnya.