MAGETAN – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak pelajar untuk tidak sekadar belajar di dalam kelas, tetapi juga membangun kepedulian terhadap lingkungan melalui aksi nyata.
Pesan tersebut disampaikan Khofifah saat mengikuti kegiatan “Menanam Bersama, Belajar dari Alam” bersama para siswa SMAN 2 Magetan, Selasa (6/10/2026).
Kegiatan penanaman pohon tersebut menjadi bagian dari upaya menghidupkan semangat SIKAP (Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan) di lingkungan sekolah. Para siswa terlihat antusias mengikuti proses penanaman dan perawatan tanaman yang dilakukan secara bersama-sama.
Khofifah menilai aktivitas menanam memiliki nilai pendidikan yang jauh lebih luas. Menurutnya, merawat tanaman hingga tumbuh dan memberikan manfaat bagi orang lain merupakan bentuk pembelajaran tentang tanggung jawab sekaligus kepedulian terhadap lingkungan.
“Menanam pohon bukan sekadar menanam untuk hari ini. Ketika kita merawatnya hingga tumbuh dan kemudian memberikan manfaat, udara yang lebih bersih, keteduhan, bahkan hasil yang bisa dinikmati orang lain, insyaAllah menjadi amal jariyah bagi kita,” kata Khofifah.
Ia menambahkan, melalui kegiatan sederhana seperti menanam dan merawat pohon, siswa dapat memahami bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari kebaikan yang manfaatnya dapat dirasakan oleh banyak orang.
“Karena itu, saya ingin anak-anak belajar bahwa menjaga lingkungan juga merupakan bagian dari kebaikan yang manfaatnya dapat terus dirasakan oleh orang lain,” imbuhnya.
Pendidikan Lingkungan Dimulai dari Sekolah
Kegiatan di SMAN 2 Magetan tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan lingkungan dapat dilakukan secara langsung melalui aktivitas sehari-hari di sekolah.
Para siswa tidak hanya diajak menanam bibit, tetapi juga belajar memahami proses perawatan tanaman. Sejumlah tanaman ditempatkan dalam polybag berukuran besar yang kemudian dirawat bersama di lingkungan sekolah.
Konsep tersebut sejalan dengan semangat SIKAP yang mendorong sekolah menjadi ruang pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada akademik, tetapi juga membangun karakter, kemandirian, kepedulian lingkungan, serta kesadaran terhadap ketahanan pangan.
Dalam konteks pendidikan Jawa Timur, sekolah memiliki posisi strategis untuk menanamkan kebiasaan positif kepada generasi muda. Lingkungan sekolah dapat menjadi laboratorium pembelajaran yang memungkinkan siswa melihat secara langsung hubungan antara manusia, alam dan keberlanjutan kehidupan.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur (Kadindik Jatim) Aries Agung Paewai juga terus mendorong penguatan program-program sekolah yang memberikan pengalaman belajar nyata kepada peserta didik.
Menurut Aries, pembelajaran berbasis lingkungan dan ketahanan pangan menjadi bagian penting dalam membangun karakter siswa. Sekolah diharapkan tidak hanya menghasilkan peserta didik yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan lingkungan.
Semangat tersebut dapat diwujudkan melalui pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai ruang belajar, termasuk kegiatan penghijauan, penanaman tanaman produktif hingga pengembangan berbagai inovasi yang mendukung ketahanan pangan.
Siswa Belajar Merawat Lingkungan
Antusiasme siswa SMAN 2 Magetan terlihat saat mereka terlibat langsung dalam proses penanaman. Dengan mengenakan seragam sekolah, para siswa bekerja bersama menyiapkan tanaman, media tanam hingga menempatkannya pada polybag.
Kegiatan tersebut sekaligus membangun budaya gotong royong di lingkungan sekolah.
Pesan yang dibawa dalam kegiatan ini bukan sekadar tentang menanam pohon, melainkan bagaimana siswa memahami bahwa sebuah tanaman membutuhkan proses panjang untuk tumbuh dan memberikan manfaat.
Nilai itulah yang kemudian dapat ditanamkan dalam kehidupan siswa. Kesabaran, tanggung jawab, konsistensi dan kepedulian menjadi bagian dari pembelajaran yang diperoleh melalui aktivitas sederhana tersebut.
Program semacam ini juga menjadi relevan di tengah kebutuhan untuk memperkuat kesadaran generasi muda terhadap persoalan lingkungan dan ketahanan pangan.
Sekolah dapat menjadi titik awal untuk membangun kebiasaan tersebut. Ketika siswa terbiasa menanam, merawat dan memanfaatkan tanaman secara berkelanjutan, nilai kepedulian terhadap lingkungan diharapkan terbawa hingga kehidupan mereka di tengah masyarakat.
Melalui kegiatan Menanam Bersama, Belajar dari Alam, Khofifah ingin menegaskan bahwa pendidikan tidak selalu harus berlangsung di ruang kelas.
Alam pun dapat menjadi guru. Dari sebatang pohon, siswa belajar tentang kehidupan, tanggung jawab dan manfaat yang tidak selalu dapat dinikmati hari ini, tetapi bisa dirasakan orang lain pada masa mendatang.

