Lenza Nasional | Lenza Nasional | Profesional Membidik Fakta

Profesional Membidik Fakta

Menebak Ratapan Pahit Prabowo

Oleh: RA. Santri Jagung 21

0335

Saya adalah orang yang tidak hobi ikut dan terlibat politik praktis, bahkan cenderung a politis. Namun, bolehlah, sekalipun saya a politis, mencoba berceloteh sedikit tentang Politik. Gairah “celoteh“ ini lahir akibat “rangsangan” Dhimam Abror Djurait dalam tulisan berjudul “Kiai Makruf, Antara Ada Dan Tiada”.

Dhimam Abror Djurait mengawali dengan menyebut Kiai Ma’ruf Amin (KMA) “wujuduhu ka’adamihi” adanya sama dengan ketiadaannya, sedangkan Prabowo “qulil haqqa walau kana murran” katakanlah kebenaran sekalipun pahit rasanya. Kalimat pembuka yang menggelitik. Adigium pertama menunjukkan alangkah tidak berhargannya KMA, adigium kedua menggambarkan alangkah gigih dan tegasnya Prabowo menyuarakan kebenaran sekalipun pahit rasanya.

Dhimam Abror Djurait kemudian mendeskripsikan suatu peristiwa untuk melegitimate “wujuduhu ka’adamihi” bagi KMA. Yakni suatu peristiwa dimana Eric Tohir tidak mengundang KMA dalam pertemuan 20 Parpol pendukung (15/1), dengan alasan tidak ada kursi. Dhimam Abror Djurait kemudian ambil posisi diri sebagai mufasir jalan pikir ET, dengan mengatakan bahwa ET sedang berbicara dengan Bahasa mantiq dan qiyas. Bahwa tidak ada kursi bagi KMA berarti tidak ada kedudukan bagi KMA dalam komposisi 20 pendukung Petahana. Wujuduhu Ka’adamihi.

Entah, dendam apa yang sedang disimpan Dhimam Abror Djurait terhadap KMA. Tidak puas dengan menjadi mufasir pikiran ET untuk menyerang KMA. Ibarat tarung MMA, sudah mendorong ke sudut, masih “imbuh” tinju, tendangan dan bantingan. Sampai detik ini, tidak ada pukulan balik dari KMA terhadap Dhimam Abror Djurait. Jika saya menjadi Dhimam Abror Djurait, agar lebih menohok perlu ditambahkan,”La yanfa’ wa la yadhur” (tidak bermanfaat dan tidak berbahaya). Hingga sempurna menjadi Lame Duck (bebek lumpuh), dalam Bahasa Amin Rais.

Namun, sisi positifnya, Dhimam Abror Djurait telah menulis ejaan sesuai KBI. Dia menulis “Kiai” bukan “Kyai”. Kiai jika diuraikan, artinya adalah Kamilul Ilmi wal Adabi Wal Imamati, (Sempurna Ilmu, Adab, dan Kepemimpinan). Seorang Kiai adalah orang yang sempurna dalam bidang keilmuan. Dia paham Kalamullah dan Hadist Rasulullah, paham ilmu kemasyarakatan, mengerti ilmu ekonomi, sosial, budaya dan ilmu lainnya.

Sosok Kiai adalah orang yang “kamilul adab”, santun dan berakhlak. Tidak mencela dan mengumpat. Tidak banyak berbicara kecuali ada hikmah. Tidak memberikan laqob (julukan) entah itu dengan julukan “anak katak (cebong)” ataupun “anak kelelawar (kampret)”. Kiai adalah contoh perilaku bagi para santri dan masyarakatnya, dia sadar sedang mengemban amanah Rasulullah “liutammima makarimal akhlak” untuk menyempurnakan akhlak.

Masyarakat menyebut seseorang sebagai Kiai juga karena kepemimpinannya. Dia Kamilul ‘imamati. Dianggap sempurna dalam kepemimpinan. Dia mampu memimpin keluarga menuju sakinah mawaddah warrahmah. Sosok yang bisa menyalamatkan keluarga sehingga tidak pecah ataupun goyang karena “fitnah dunia”. Sosok yang mampu memimpin masyarakat bernama pesantren hingga benar-benar terwujud “tarbiyah wat ta’lim”. Pada intinya, dia adalah sosok yang mampu memimpin jama’ah dan masyarkat.

Sampai disini, Dhimam Abror Djurait telah menulis dengan ejaan Kiai dengan benar, namun amnesia terhadap subtansinya. Seolah, dalam meja politik, siapapun boleh “ditelanjangi”, termasuk KMA. Dia tidak pandang apakah itu politisi, pengusaha ataupun Kiai. Namun sayangnya, dia tidak melucuti dengan detail “qulil haqqa walau kaana murran” nya Prabowo. Dia hanya memperjelas bahwa Prabowo-Sandi adalah pasangan ideal dengan jurus lengkap.

Pertanyaanya, kebenaran apa yang sedang digagahi Prabowo sehingga dia merasa harus disebut merasakan pahit? Kebenaran tentang kehidupan pribadinya? Ataukah kebenaran bahwa fakta reformasi Indonesia harus menelan banyak korban dan kedudukan dia waktu itu sebagai Komandan Tentara? Penulis memaklumi cara pengendalian keamanan yang diambil Prabowo, karena dia dididik dengan cara militer. Sangat disayangkan, Dhimam Abror Djurait tidak menceritakan detail. Dia hanya mendeskripsikan kegagahan Prabowo-Sandi.

Dalam parameter ilmu, adab dan kepemimpinan. Sisi manakah yang dipenuhi oleh Prabowo? Menyimak ketegasan dan kegagahan Prabowo di permukaan, barangkali benar bahwa Prabowo unggul dalam kepemimpinan. Coba kita urai!

Masih tersisa ingatan Penulis, isi dialog di sebuah Stasiun TV pasca pemakaman Alm.Soeharto, yang menghadirkan mantan aktivis 98. Aktivis tersebut pernah bertanya kepada Soeharto, mengapa menggunakan cara represif untuk menjaga keamanan negara. Jawaban Soeharto saat itu, bahwa dia melakukan tindakan kekerasan karena dia dididik secara militer, lain halnya dengan kamu (aktivis), dididik di kampus, pastinya akan menyelesaikan masalah dengan cara akademis.

Meminjam istilah F. Nietzsche, “eternal recurrence of the same”, kembalinya segala sesuatu atau pengulangan abadi. Dalam puisinya “segala sesuatu pergi, segala sesuatu datang kembali, berputarlah roda hakikat itu secara abadi.” Dalam Bahasa sederhana, akan selalu ada pengulangan sejarah. Bentuk berbeda, namun hakikat sama.

Kitab yang dibawa Rasulullah SAW, berkali-kali mengingatkan kepada kita, berjalanlah dimuka bumi dan lihatlah apa yang diperbuat orang-orang sebelum kamu. Diwanti-wantilah dengan berbagai kisah nabi dan tamsil orang-orang terdahulu. Ini Quran, yang ditamsilkan berarti akan pula terjadi di sepanjang masa. Pada intinya akan terjadi pengulangan sejarah dengan hakikat yang sama.

Dalam sejarah, kita mengenal Hitler yang melakkan holokaos ras selain keturunan Araya dengan teori Eugenetika. Pol pot pemimpin Khmer Merah di Kamboja yang melakukan genosida di Kamboja. Coba kenali apa latar belakang dan sepak terjang mereka? Sedikit geser ke rumah tangga kita, 32 tahun suatu rezim ditegakkan oleh orang berlatar belakang sama dengan Prabowo. Rezim berbeda, cara berbeda, tapi hakikat kelakuannya sama, pembasmian oposisi. Apakah akan terjadi eternal recurrence of the same jika Prabowo memimpin? Wallahu a’alam. Saya yakin Dhimam Abror Djurait seharusnya mudah mengurai kepahitan ini.

Tanda sederhananya, coba telisik bagaimana Prabowo memimpin Partainya. Kader yang didandani dengan “baret merah” dan system pemilihan Ketua Daerah yang tidak murni demokrasi, melainkan semi komando. Dalam Bahasa klenik, ini adalah tanda-tanda.

Jika Dhimam Abror Djurait menggunakan istilah “wujuduhu ka’adamihi” maka saya lebih memilih kaidah “ma kaana dhororuhu aktsaru min naf’ihi fahuwa haram” (apabila bahayanya lebih banyak daripada manfaatnya maka hukumnya haram). Atau, darul mafasid muqodamun ‘ala jalbil masholih (mencegah kerusakan lebih utama disbanding meraih manfaat). Cukuplah, perang saudara dan tindakan represif penguasa Indonesia di masa lalu menjadi sejarah dan nasihat pengingat, agar tidak terulang kembali.

Indonesia butuh sosok Pengusaha. Deskripsi Dhimam Abror Djurait tentang latar belakang Jokowi sebagai Penjual Meuble harus dimaknai positif, karena itu pekerjaan halal. Transaksinya nyata, jadi tidak perlu di tafsir mantiq dan qiyas. Masyarakat juga butuh kekuatan ruhiah, disitulah kita butuhkan sosok Kiai. Hingga kita menjadi manusia kamil, jasadiah dan ruhiah.

Namun, Dhimam Abror Djurait terburu-buru menutup tulisannya, sebelum sempat mengurai gamblang kepahitan apa sehingga dengan menggambarkan Prabowo sedang “qulil haqqa walau kaana murran”.

Comments
Loading...

Network LNM Media Center


This site is protected by wp-copyrightpro.com