Lenza Nasional | Lenza Nasional | Profesional Membidik Fakta

Profesional Membidik Fakta

Peringati Hari Lahir Pancasila di Bulan Ramadhan, Kanim Seluruh Jatim Bagi-Bagi Ta’jil

0379

Surabaya,LenzaNasional.com – Dalam rangka memperingati hari lahir Pancasila dengan momentum bulan Ramadhan. kali ini seluruh jajaran Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kantor Imigrasi (Kanim) di wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Timur, menjadikan sebagai sarana untuk berbagi kepada sesama, dengan menggelar kegiatan bagi-bagi ta’jil serentak kepada masyarakat di seluruh wilayah Jatim, dengan tema “Ramadhan Berbagi Serentak”, pada Kamis (31/5/18).

Kepala Divisi Imigrasi Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Timur Zakaria, SH, mengatakan bahwa, kegiatan ini sesuai dengan petunjuk yang tertuang dalam keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2016, yang teknisnya diatur dalam surat edaran yang telah dikeluarkan Sekertaris Jenderal tertanggal 25 Mei 2018, tentang pedoman peringatan hari lahir Pancasila tahun 2018, yang jatuh pada tanggal 1 Juni 2018.

Menurut dia, banyak pelajaran yang bisa dipetik dari puasa Ramadhan terkait dengan Pancasila. Sebab, dalam puasa tercermin nilai Pancasila, diantaranya, seperti diketahui tujuan puasa itu adalah menghadirkan generasi bertakwa kepada Allah SWT, Tuhan semesta alam. Ini selaras dengan sila pertama Pancasila yakni ketuhanan yang Maha Esa.

“Karena, bagi bangsa Indonesia, Tuhan adalah tujuan hidup yang sesuai dengan tuntunan ajaran agama yang dianutnya, dan taqwa diartikan sebagai ketaatan mutlak pada perintah dan menjauhi larangannya,” tutur Kadiv Imigrasi Jatim.

Zakaria mengatakan, puasa juga menanamkan kepedulian terhadap sesama. Rasa lapar dan dahaga yang dirasakan adalah pelajaran sangat berharga bagaimana susahnya kehidupan bagi mereka yang kurang beruntung, atau kaum lemah. Sehingga diharapkan timbul rasa simpati. Tak adil jika kita tak peduli dengan sesama manusia. Tak manusiawi jika kita tak mau memperhatikan nasib mereka yang miskin.

“Setelah puasa selayaknya menjadikan saling berbagi dengan sesama sebagai tradisi. Hal ini selaras dengan sila kedua, kemanusian yang adil dan beradab,” kata Zakaria.

Masih kata Zakaria, dalam menyambut ramadhan, kegiatan keagamaan dilaksanakan lebih semarak. Hampir setiap masjid membetuk kepanitian mengisi kegiatan selama bulan Ramadhan. Secara sukarela makanan ta’jil tersedia di masjid-masjid. Mereka yang mampu menyumbangkannya untuk mereka yang berbuka puasa. Saat, Idul fitri takbir menggema. Takbir itu disamping menggambarkan keagungan Allah juga mencerminkan kebersamaan bangsa ini.

“Sebagian dari mereka merayakannya dengan takbir keliling bersama. Bukankah semua itu mencerminkan bagaimana kuatnya persatuan Indonesia, yang tertuang dalam sila ketiga Pancasila,” ujarnya.

Di Indonesia menentukan awal Ramadhan dan 1 Syawal (hari Idul Fitri) diambil oleh Pemerintah dalam sidang isbat yang dilakukan oleh Kementerian Agama RI. Dalam sidang tersebut, lanjut Zakaria, semua elemen umat Islam diundang dan hadir. Mereka diajak oleh Pemerintah bermusayawarah dalam menentukan awal puasa dan hari raya. Pemerintah tak memutuskan sendiri secara sepihak. Mereka mengambil keputusan berdasarkan musyawarah mufakat.

“Sebaliknya, umat Islam pun patuh mengikuti hasil keputusan. Pemerintah dan rakyat bersatu. Perbedaan mereka tak dijadikan permasalahan yang berarti. Kepentingan bersama menjadi nomor satu. Ini merupakan pengamalan sila keempat Pancasila,” lanjutnya.

Selain itu, Zakaria juga menjelaskan bahwa, puasa mengajarkan peduli pada kesulitan orang lain. Puasa mendidik manusia untuk tidak rakus, bisa mengendalikan hawa nafsu (keinginan serakah). Puasa mengajarkan semangat berbagi. Karenanya, sangat dianjurkan bersedekah atau berinfak. Kewajiban zakat fitrah adalah manifestasi dari pendidikan kepedulian dan rasa simpati tersebut. Sebab, Zakat adalah pembelajaran bahwa kesejahteraan itu diuapayakan merata. Tak hanya segelintir orang yang menikmatinya.

“Puasa tak hanya mendidik kita menjadi saleh secara individual tapi juga saleh secara sosial. Sehingga lahirlah keseimbangan sosial. Dalam hal ini ibadah puasa menyampaikan pesan sila kelima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” jelasnya.

Oleh sebab itu, menurut Zakaria, kegiatan bagi-bagi ta’jil oleh Kanim se-Jatim dalam rangka memperingati hari lahir Pancasila ini, sangat bermakna bagi masyarakat, terlebih umat Islam yang sedang menjalankan puasa.

“Sebab, puasa mendidik dan melatih kita tentang nilai-nilai mulia yang juga menjadi lima sila dalam Pancasila,” terangnya.

Zakaria juga meminta kepada seluruh Kepala Kantor Imigrasi se-Jatim, dalam memperingati hari lahir Pancasila hendaknya tidak bersifat seremonial belaka, melainkan diisi dengan berbagai praktik kebajikan Pancasila sebagai wujud Implementasi kelima sila Pancasila dalam menjalankan tugas yakni dibidang keimigrasian.

“Sebagai wujud pengamalan Pancasila, kita harus menguatkan simpul-simpul persatuan dalam keragaman, menggalang semangat berbagi, dan bermitra dengan melintasi batas-batas identitas dan golongan,” pintanya.

Sementara peringatan Hari Lahir Pancasila dinilai Zakaria sangat tepat guna menguatkan komitmen kebangsan terkai empat pilar negara yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. Komitmen bangsa ini terhadap ideologi negaranya yakni Pancasila sedang teruji.

“Seperti, berbagai peristiwa politik di tanah air telah menimbulkan gesekan dalam masyarakat. Akibatnya, kepercayaan sebagian kita terhadap Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara menjadi melemah,” pungkasnya. (Phank).

 

Comments
Loading...

Network LNM Media Center


This site is protected by wp-copyrightpro.com