MAGETAN — Program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP) terus dikembangkan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur sebagai bagian dari pembelajaran yang tidak hanya berlangsung di dalam kelas. Di Kabupaten Magetan, program tersebut mendorong siswa memanfaatkan lingkungan sekolah untuk menanam, merawat, hingga memanen berbagai komoditas pangan.
Aktivitas tersebut terlihat dalam pelaksanaan program SIKAP di Magetan pada Selasa (6/10/2026). Para siswa tampak terlibat langsung dalam pengelolaan kebun sekolah. Mereka merawat tanaman yang ditanam dalam polybag maupun area terbuka, sekaligus belajar memahami proses produksi pangan dari tahap awal hingga menghasilkan panen.
Suasana pembelajaran pun menjadi lebih kontekstual. Siswa tidak sekadar mendapatkan pengetahuan mengenai ketahanan pangan melalui teori, tetapi juga melihat dan menjalani sendiri bagaimana sebuah tanaman dirawat hingga menghasilkan produk yang dapat dimanfaatkan.
Pemerintah Kabupaten Magetan menyebut kegiatan peninjauan program SIKAP menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur. Kegiatan tersebut berlangsung bersamaan dengan peninjauan proses pencairan dan penyerahan bantuan biaya pendidikan bagi murid afirmasi di SMAN 2 Magetan. Sebanyak 110 siswa menerima bantuan pendidikan senilai Rp1 juta per siswa.
Pengembangan SIKAP di lingkungan sekolah menjadi salah satu bentuk inovasi pendidikan yang tengah diperkuat Pemprov Jawa Timur. Program ini diarahkan agar sekolah mampu memanfaatkan lahan yang tersedia secara produktif sekaligus menjadikannya sebagai laboratorium pembelajaran bagi peserta didik.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Aries Agung Paewai, sebelumnya menjelaskan bahwa SIKAP memang dirancang untuk mendekatkan pembelajaran dengan lingkungan sekitar.
“Program ini menjadi sarana pembelajaran nyata bagi siswa.”
Aries menegaskan, sekolah tidak harus memiliki lahan luas untuk menjalankan program ketahanan pangan. Lahan terbatas, termasuk area yang sebelumnya tidak produktif, dapat dimanfaatkan dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah.
Menurut dia, komoditas yang dikembangkan juga tidak harus seragam. Sekolah dapat memilih jenis tanaman atau model budidaya sesuai karakter lingkungan dan potensi yang dimiliki. Dengan pendekatan tersebut, SIKAP sekaligus membuka ruang kreativitas bagi sekolah dan peserta didik.
“Untuk komoditasnya, menyesuaikan dengan kondisi dan kontur masing-masing,” ujar Aries dalam pemberitaan mengenai pelaksanaan SIKAP di Jawa Timur.
Konsep tersebut juga terlihat di sejumlah sekolah lain di Jawa Timur. Di SMAN 4 Kota Blitar, misalnya, program SIKAP dikembangkan melalui konsep minapadi yang mengintegrasikan budidaya padi dan ikan. Sekolah juga mengembangkan tanaman hortikultura dan hidroponik sebagai bagian dari pembelajaran ketahanan pangan.
Sementara di Jombang, program SIKAP dikembangkan dengan memanfaatkan lahan sekolah secara produktif dan berkelanjutan. Para siswa dilibatkan mulai dari pembibitan, perawatan, pemanenan hingga pengemasan dan pelabelan produk. Pola ini membuat pembelajaran ketahanan pangan sekaligus bersinggungan dengan kreativitas dan kewirausahaan.
Bagi Dindik Jatim, pola pembelajaran semacam itu penting karena hasil kebun sekolah bukan semata-mata persoalan berapa banyak tanaman yang berhasil dipanen. Lebih jauh, siswa mendapatkan pengalaman mengenai kerja sama, kedisiplinan, kepedulian terhadap lingkungan, proses produksi, hingga nilai ekonomi sebuah produk.
Aries juga pernah menekankan bahwa SIKAP diharapkan membuat sekolah tidak hanya menjadi tempat transfer pengetahuan, tetapi juga ruang untuk membentuk karakter dan kemandirian peserta didik.
Karena itu, hasil panen yang dihasilkan sekolah menjadi bagian penting dari proses pembelajaran. Dari kebun sekolah, siswa diajak memahami bahwa ketahanan pangan dapat dimulai dari lingkungan terdekat.
Langkah tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pendidikan dan ketahanan pangan dapat berjalan beriringan. SIKAP di Magetan menjadi salah satu gambaran bagaimana halaman sekolah dapat diubah menjadi ruang belajar produktif yang menumbuhkan kepedulian pangan, kreativitas, keterampilan, sekaligus kemandirian siswa.
Penguatan program ini juga sejalan dengan dorongan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa agar sekolah-sekolah di Jawa Timur mengembangkan inovasi ketahanan pangan dengan memanfaatkan ruang yang tersedia secara produktif dan berkelanjutan.
Dengan demikian, kebun sekolah bukan lagi sekadar penghias lingkungan. Di tangan siswa dan guru, lahan tersebut dapat menjadi laboratorium hidup untuk belajar menanam, merawat, memanen, mengolah, sekaligus memahami pentingnya menjaga ketahanan pangan sejak usia sekolah.

