Surealisme Surin Welangon: “Raja Anjing Kencing Baunya Pesing”, Kritik Pedas untuk Para Pemimpin
Surabaya – Dalam dunia seni rupa kontemporer Indonesia, Surin Welangon kembali berdiri sebagai sosok yang tak pernah ragu menusukkan kritik sosial melalui kuasnya. Karya terbarunya, berjudul garang “Raja Anjing Kencing Baunya Pesing”, bukan hanya menghadirkan visual sureal yang memukau, tetapi juga menggugah kesadaran, menggelitik nurani, dan menampar wajah kekuasaan dengan metafora tajam.
Lukisan akrilik berukuran 80×90 cm ini tampil dalam palet hitam-putih yang tegas. Surin menciptakan lanskap padat berisi kerumunan manusia—wajah-wajah lelah, tubuh-tubuh meringkuk, dan pose-pose yang merekam perjuangan. Mereka tampak seperti terhisap dalam pusaran sejarah yang tak pernah berhenti menindih, menghadirkan gambaran getir tentang rakyat kecil yang berulang kali terjebak dalam arus keputusan penguasa.
Di kejauhan, sebuah lokomotif uap raksasa melaju, menyemburkan kepulan asap yang membelah langit. Mesin tua itu seperti simbol perjalanan panjang bangsa, kadang kencang, kadang tersendat, namun selalu menggerus mereka yang berada di rel penderitaan. Surin seakan mengingatkan bahwa industrialisasi dan modernisasi sering menyisakan bayang panjang yang menghimpit lapisan paling rentan dalam masyarakat.

Dari kepadatan itu, satu figur sentral mencuri perhatian—sebuah sosok bergaya pewayangan, berdiri tegak dengan tangan terlipat di dada. Kehadirannya membawa aroma tradisi yang mencoba tetap teguh di tengah gempuran zaman. Ia seperti penjaga nilai, saksi bisu yang menyaksikan kegaduhan sosial namun tetap memancarkan ketenangan spiritual. Surin menghadirkan tokoh ini bukan untuk menjadi pahlawan, melainkan sebagai pengingat bahwa akar budaya adalah jangkar yang mencegah bangsa terbawa arus kesewenang-wenangan.
Motif batik parang rusak pada sisi kiri karya mempertegas pesan itu. Detilnya rumit, mengalir, dan sarat makna. Ia hadir sebagai penanda sejarah, warisan leluhur yang terus menahan diri agar tidak terkikis oleh badai sosial dan politik yang terus bergulir. Kontras yang diciptakan antara motif halus dan suasana kacau dalam komposisi menjadikan karya ini terasa seperti dialog antara masa lalu yang bijak dan masa kini yang gaduh.
Namun, Surin tak berhenti pada simbol. Ia mengetuk pintu kesadaran dengan judul yang teramat blak-blakan: “Raja Anjing Kencing Baunya Pesing.” Sebuah pernyataan keras yang menggambarkan bagaimana kekuasaan yang tak berpihak kepada rakyat akan menebarkan bau busuk—bau ketidakadilan, bau kesewenang-wenangan, bau kebijakan yang hanya menguntungkan segelintir orang. Judul ini menjadi gong yang membangunkan, memastikan bahwa pesan tidak tenggelam dalam keindahan visual.
Karya yang lahir pada 2025 ini membuktikan kembali karakter Surin Welangon sebagai perupa yang konsisten menggugat, mengingatkan, dan menantang. Dalam setiap goresan, ia menghadirkan cermin panjang yang memantulkan wajah kekuasaan dan sejarah bangsa—baik sisi terang maupun sisi gelapnya.
Dalam dunia seni yang sering terjebak antara estetika dan komersialisasi, Surin memilih jalur yang lebih berbahaya: jalur kritik. Ia tidak sekadar melukis; ia membunyikan sirene bagi mereka yang duduk di singgasana. Sebuah pesan sederhana namun menggigit: pemimpin yang tak memihak rakyat, cepat atau lambat, akan berbau pesing di hadapan sejarah.