Didampingi Kadindik, Khofifah Salurkan Bantuan Pendidikan Afirmasi Rp1 Juta bagi Siswa SMA, SMK, dan SLB di Ngawi

NGAWI — Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus memperkuat akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga yang membutuhkan melalui program bantuan biaya pendidikan afirmasi. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyerahkan bantuan sebesar Rp1 juta kepada murid jenjang SMA, SMK, dan SLB di Kabupaten Ngawi sebagai upaya meringankan beban biaya pendidikan sekaligus mencegah anak putus sekolah.

Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan pendukung pembelajaran, mulai dari biaya transportasi hingga perlengkapan sekolah. Dengan dukungan itu, para murid diharapkan dapat melanjutkan pendidikan, mengikuti kegiatan belajar dengan lebih baik, dan meraih masa depan yang lebih cerah.

Dalam keterangannya, Khofifah menegaskan bahwa bantuan pendidikan afirmasi merupakan bentuk kepedulian Pemerintah Provinsi Jawa Timur terhadap anak-anak yang menghadapi keterbatasan ekonomi.

“Bantuan pendidikan afirmasi ini merupakan bentuk kepedulian Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk mencegah anak-anak putus sekolah di tengah jalan. Kami ingin membantu meringankan kebutuhan mereka, mulai dari transportasi hingga perlengkapan sekolah, agar setiap anak tetap memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan, belajar dengan semangat, dan meraih masa depan yang lebih baik,” ujar Khofifah.

Menurutnya, keberlanjutan pendidikan perlu mendapat perhatian bersama agar kondisi ekonomi keluarga tidak menjadi penghalang bagi anak untuk memperoleh layanan pendidikan.

Aries Agung Paewai: Perluas Kesempatan Belajar bagi Murid

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menekankan pentingnya dukungan pendidikan yang berpihak pada murid, khususnya mereka yang membutuhkan bantuan agar tetap dapat bersekolah.

Draf kutipan untuk konfirmasi Kadindik Jatim: “Bantuan pendidikan afirmasi ini menjadi salah satu bentuk dukungan agar murid tetap memiliki kesempatan menyelesaikan pendidikannya. Kami ingin memastikan bahwa keterbatasan ekonomi tidak memutus cita-cita anak-anak Jawa Timur. Karena itu, bantuan ini diharapkan dimanfaatkan untuk menunjang kebutuhan sekolah dan mendukung semangat belajar mereka.”

Aries menambahkan, penguatan akses pendidikan harus berjalan beriringan dengan upaya meningkatkan kualitas pembelajaran. Dukungan terhadap kebutuhan murid menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif, sehingga setiap anak memiliki kesempatan untuk berkembang sesuai potensi masing-masing.

Melalui program afirmasi, Dinas Pendidikan Jawa Timur juga diharapkan dapat terus mendorong sinergi antara pemerintah daerah, satuan pendidikan, orang tua, dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan pendidikan peserta didik.

Cegah Anak Putus Sekolah

Bantuan biaya pendidikan afirmasi menjadi salah satu bentuk intervensi untuk membantu murid menghadapi kebutuhan pendidikan yang tidak seluruhnya dapat ditanggung keluarga. Biaya transportasi, perlengkapan sekolah, dan kebutuhan penunjang lainnya dapat memengaruhi keberlangsungan pendidikan, terutama bagi keluarga dengan keterbatasan ekonomi.

Karena itu, bantuan semacam ini perlu diiringi dengan pemantauan agar penerima manfaat tetap memperoleh layanan pendidikan dan dapat mengikuti proses pembelajaran secara berkelanjutan.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur menempatkan pemerataan kesempatan belajar sebagai bagian dari upaya membangun sumber daya manusia yang berkualitas. Akses pendidikan yang lebih terbuka diharapkan dapat mengurangi risiko putus sekolah sekaligus memberi ruang bagi murid untuk mengembangkan kemampuan akademik maupun keterampilan.

Penyaluran bantuan kepada murid SMA, SMK, dan SLB di Kabupaten Ngawi juga menegaskan pentingnya perhatian terhadap kebutuhan pendidikan yang beragam. Setiap murid, termasuk peserta didik penyandang disabilitas, perlu mendapatkan kesempatan yang setara untuk belajar dan mengembangkan potensi diri.

Melalui dukungan tersebut, Pemprov Jatim berharap semakin banyak murid dapat menuntaskan pendidikan tanpa terhambat persoalan biaya. Kolaborasi antara pemerintah, sekolah, dan keluarga menjadi kunci agar bantuan tidak sekadar meringankan kebutuhan sesaat, tetapi juga mendukung keberlanjutan pendidikan dan masa depan generasi muda Jawa Timur.