NGAWI – Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur terus mendorong penguatan ketahanan pangan melalui sektor pendidikan. Salah satunya dengan mengoptimalkan Program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP) di SMKN 1 Bringin, Kabupaten Ngawi, sebagai sarana pembelajaran berbasis praktik bagi peserta didik.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, meninjau optimalisasi program SIKAP di sekolah tersebut pada 20 Oktober 2026. Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya memastikan program ketahanan pangan tidak hanya menjadi kegiatan pendukung sekolah, tetapi juga terintegrasi dengan proses pembelajaran yang bermanfaat bagi murid dan masyarakat.
Melalui program SIKAP, sekolah didorong memanfaatkan potensi lingkungan dan lahan yang tersedia untuk kegiatan produktif, khususnya di bidang pertanian. Pendekatan ini memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengenal proses budidaya secara langsung, mulai dari penanaman, perawatan, hingga pemanfaatan hasil panen.
Aries Agung Paewai menekankan pentingnya mengembangkan pembelajaran yang menghubungkan teori di kelas dengan praktik di lapangan. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya memahami materi pelajaran, tetapi juga memperoleh keterampilan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Program SIKAP diharapkan menjadi ruang bagi murid untuk belajar secara langsung, mengembangkan kreativitas, serta menumbuhkan kemandirian dan kepedulian terhadap ketahanan pangan. Sekolah harus mampu memanfaatkan potensi yang dimiliki agar pembelajaran memberikan manfaat nyata,” demikian arah pengembangan program yang sejalan dengan kebijakan Dindik Jatim dalam memperkuat pendidikan berbasis praktik.
SIKAP Dorong Pembelajaran Produktif dan Berkelanjutan
Optimalisasi program SIKAP di SMKN 1 Bringin sejalan dengan upaya Pemerintah Provinsi Jawa Timur memperkuat kontribusi satuan pendidikan dalam mendukung ketahanan pangan. Sekolah tidak hanya berperan sebagai tempat transfer pengetahuan, tetapi juga dapat menjadi ruang praktik untuk membangun keterampilan, karakter, dan jiwa kewirausahaan peserta didik.
Dalam pelaksanaannya, pengembangan kegiatan pertanian di lingkungan sekolah dapat disesuaikan dengan ketersediaan lahan, kondisi lingkungan, serta potensi daerah. Pola tersebut memungkinkan setiap sekolah mengembangkan kegiatan produktif sesuai karakteristik masing-masing.
Bagi sekolah kejuruan, program ini juga berpeluang memperkuat kompetensi peserta didik melalui pengalaman langsung dalam mengelola kegiatan produksi. Selain keterampilan teknis, murid dapat mempelajari kedisiplinan, kerja sama, pengelolaan hasil, hingga dasar-dasar kewirausahaan.
Aries sebelumnya juga mendorong agar pengembangan program ketahanan pangan di sekolah berjalan beriringan dengan penguatan kompetensi dan kemandirian murid. Dalam pemberitaan mengenai pengembangan SIKAP dan program double track di SMAN 1 Ngrambe, Ngawi, pada Mei 2026, ia menekankan pentingnya pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.
“Pendidikan hari ini harus mampu menjawab tantangan masa depan. Anak-anak harus dibekali kecakapan hidup, keterampilan, dan karakter yang kuat,” kata Aries dalam pemberitaan tersebut.
Menurutnya, pembelajaran berbasis praktik dapat membuka ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan problem solving, bekerja sama, dan membangun jiwa kewirausahaan.
Sejalan dengan Penguatan Ketahanan Pangan Jawa Timur
Pengembangan SIKAP di SMKN 1 Bringin juga relevan dengan upaya memperluas praktik pendidikan yang mendukung kemandirian pangan di Jawa Timur. Program ini menempatkan sekolah sebagai bagian dari ekosistem ketahanan pangan melalui pemanfaatan sumber daya yang tersedia di lingkungan pendidikan.
Dalam laporan Mongabay Indonesia pada 19 Februari 2026, program SIKAP disebut melibatkan 754 sekolah di Jawa Timur dengan total 110.481 murid. Program tersebut mendorong sekolah memanfaatkan lahan yang tersedia, termasuk lahan yang sebelumnya tidak produktif, untuk kegiatan budidaya yang sesuai dengan kondisi masing-masing sekolah.
Sementara itu, pemberitaan Suara Surabaya pada Mei 2026 mencatat sejumlah sekolah mulai memanen hasil budidaya berupa sayuran, umbi-umbian, buah-buahan, hingga produk peternakan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kegiatan ketahanan pangan di sekolah berpotensi berkembang dari sarana pembelajaran menjadi aktivitas produktif yang memiliki nilai ekonomi.
Ke depan, keberlanjutan program SIKAP membutuhkan keterlibatan seluruh warga sekolah, mulai dari kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, hingga peserta didik. Pengelolaan yang konsisten juga penting agar kegiatan tidak berhenti pada penanaman atau seremoni, tetapi berkembang menjadi proses pembelajaran yang berkelanjutan.
Melalui optimalisasi SIKAP di SMKN 1 Bringin, Nganjuk, Dindik Jatim mendorong pendidikan yang semakin dekat dengan kebutuhan nyata masyarakat. Harapannya, peserta didik tidak hanya memiliki pengetahuan akademik, tetapi juga keterampilan, kepedulian terhadap lingkungan, serta pemahaman tentang pentingnya ketahanan pangan bagi masa depan.

