Surabaya – Ketua Putra Surabaya (Pusura), Hoslih Abdullah atau Cak Dullah, menegaskan bahwa Surabaya adalah rumah bagi semua orang tanpa memandang asal-usul suku. Pernyataan tegas itu ia sampaikan di tengah memanasnya polemik video kontroversial dari akun Instagram @viralforjustice yang mengklaim gerakan #forjustice “lahir di Surabaya” dan membawa misi mengembalikan martabat “orang Surabaya, khususnya orang Jawa”.
Ketegasan Cak Dullah muncul setelah unggahan tersebut memicu gelombang perdebatan di jagat maya dan memancing kekhawatiran publik. Video yang cepat tersebar ke berbagai grup WhatsApp itu dikhawatirkan menimbulkan gesekan antarkelompok dan memunculkan aroma SARA di Kota Pahlawan.
“Kalau sudah tinggal di Surabaya, ya kita menjadi orang Surabaya. Tidak perlu dibeda-bedakan Jawa, Madura. Dan kita punya kewajiban menjaga kondusifitas kota Surabaya,” tegas Cak Dullah, Senin (24/11/2025).
Ia menilai narasi dalam video tersebut dapat memicu potensi perpecahan apabila tidak segera diluruskan. Surabaya, kata dia, sudah lama menjadi ruang hidup bersama bagi puluhan suku yang tinggal rukun dan berdampingan.
“Kalau isu seperti ini dibiarkan, bisa memicu perpecahan. Harapan saya Surabaya tetap aman dan nyaman. Di Forum Pembauran Kebangsaan saja ada 27 suku, semuanya hidup bersama dengan baik,” ujarnya.
Cak Dullah juga menegaskan bahwa persoalan ini tidak akan dibiarkan menggantung di media sosial. Ia memastikan isu tersebut akan dibahas secara resmi untuk menghindari salah tafsir yang bisa berkembang menjadi konflik horizontal.
“Persoalan ini akan saya bahas dalam rapat Forum Pembauran Kebangsaan dalam waktu dekat,” pungkasnya.
Di tengah derasnya komentar warganet, pernyataan tegas Ketua Pusura menjadi penegasan bahwa Surabaya tetap berdiri sebagai kota terbuka—tempat semua warganya setara tanpa memandang asal-usul.