PUSAD UMS: 82,5 Persen Anak Muda Muhammadiyah Jatim Gunakan Medsos Sebagai Akses Informasi Politik

0 115

SURABAYA, Lenzanasional – Pusat Studi Anti Korupsi dan Demokrasi Universitas Muhammadiyah (PUSAD UM) Surabaya merilis hasil survei preferensi politik anak muda Muhammadiyah di Jawa Timur menjelang Pemilu 2024.

Survei berdasarkan hasil kompilasi beberapa data yang dihimpun tim riset. Dimana data dihimpun dari data sekunder secara makro dan beberapa data dari Pimpinan Wilayah Muhammadiyah se-Indonesia. Muhammadiyah sendiri mempunyai anggota 52.177.950 yang tersebar di seluruh Indonesia.

Peneliti Utama PUSAD UM Surabaya Dede Nasrullah menjelaskan, demografi pemilih di Jawa Timur menjelang Pemilu 2024 didominasi pemilih produktif berusia 17-40 tahun, kelompok pemilih generasi Z (Gen-Z) dan generasi millenial.

Dimana dari total 31.402.838 Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilu 2024 di Jawa Timur sebesar 16.001.790 merupakan pemilih muda. Dan sebanyak 82,5 persen anak muda Muhammadiyah Jatim menggunakan media sosial sebagai akses informasi politik, disusul portal digital 12,7 persen dan koran atau makalah 2,9 persen.

Dede menjelaskan bahwa dari media sosial yang digunakan, aplikasi tiktok menjadi yang tertinggi dengan prosentase sebanyak 30,3 persen, instagram 26,3 persen dan youtube 15,7 persen.

“Hasilnya sebanyak 55,8 persen anak muda Muhammadiyah Jatim percaya Pemilu 2024 berjalan luber-jurdil dan netralitas aparatur negara dan penyelenggara, tidak percaya 22,5 persen tidak percaya, dan 5,1 persen tidak menjawab,” kata Dede, Sabtu (20/01/24).

Dede juga mengungkapkan, sebanyak 46,7 persen pemilih anak muda Muhammadiyah di Jatim tidak percaya dengan calon yang terkait politik dinasti. Selain faktor menghambat kaderisasi di sebuah partai, faktor kinerja yang buruk adalah salah satu alasan penolakan tersebut.

“Populasi penelitian ini adalah para pemilih Anak Muda Muhammadiyah di Jatim. Lokasi diambil di Organisasi Otonom (Ortom) Muhammadiyah dan anak muda yang tidak terlibat dalam Ortom di Jatim,” jelas Dede lagi.

Sebanyak 38 pimpinan di level kabupaten/ kota yang kemudian masing-masing diambil di tingkat kecamatan hingga desa untuk dijadikan sampel penelitian. Sampel tiap kecamatan dibagi secara proporsional berdasarkan jumlah pemilih di tiap kecamatan dan desa yang dijadikan lokasi penelitian.

“Jumlah sampel sebanyak 1067 responden tersebar secara proporsional di 38 kabupaten/kota. Margin tingkat toleransi 3 persen dengan tingkat kepercayaan adalah 95 persen. Proses wawancara dilakukan secara langsung mendatangi responden menggunakan kuesioner oleh enumerator,” ungkap Dede. (R1F)

Comments
Loading...

This site is protected by wp-copyrightpro.com