SURABAYA — Kejuaraan Kurash Piala Wali Kota Surabaya 2026 menjadi momentum penting bagi perkembangan cabang olahraga Kurash di Jawa Timur. Selain digelar dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Surabaya, ajang yang dihelat 23-24 Mei 2026 di Gelora Pancasila, Surabaya, ini juga dijadikan sebagai test event bagi atlet Puslatda dan Puslatcab sebelum menghadapi berbagai agenda besar olahraga nasional.
Ketua Penyelenggara Kurash Piala Wali Kota Surabaya 2026, Elia Neneng, mengatakan kejuaraan ini memiliki beberapa tujuan strategis, termasuk persiapan menuju PON Bela Diri di Manado serta road to Porprov Jawa Timur.
“Pertama ini kan memperingati Hari Jadi Kota Surabaya. Yang kedua ini merupakan test event anak-anak Puslatda maupun Puslatcab Kota Surabaya dan Jawa Timur. Kemudian ini juga menjadi test event untuk PON Bela Diri di Manado serta road to Porprov karena Surabaya menjadi tuan rumah,” ujar Neneng di Gelora Pancasila, Surabaya (23/5/2026).
Menurutnya, kejuaraan ini menjadi sarana evaluasi perkembangan atlet dari berbagai daerah di Jawa Timur, khususnya pada nomor seni atau uzul yang kini mulai menunjukkan peningkatan signifikan.
“Kalau dulu nomor uzul atau seni belum banyak diminati, sekarang sudah banyak daerah yang mengeluarkan atlet seni. Untuk fighter memang masih merata, tetapi perkembangan kabupaten dan kota sudah cukup bagus,” katanya.
Sebanyak 157 atlet dari 19 kabupaten/kota ambil bagian dalam turnamen tersebut. Panitia mempertandingkan total 16 nomor pertandingan, baik kategori putra maupun putri.
Untuk kategori putra dipertandingkan kelas -55 kilogram, -60 kilogram, -66 kilogram, -73 kilogram, -81 kilogram, -90 kilogram, +90 kilogram, serta nomor seni putra. Sementara kategori putri mempertandingkan kelas -63 kilogram, -70 kilogram, -78 kilogram, +78 kilogram, serta nomor seni putri.
Neneng menambahkan, kualitas atlet Kurash Jawa Timur terus mengalami peningkatan. Bahkan, salah satu atlet asal Kota Madiun telah memiliki pengalaman tampil di ajang internasional.
“Ada atlet dari Kota Madiun yang sudah mengikuti Asian Games, yaitu Savira Diah Fitri Rizkianti. Dia juga turun di event kali ini,” ungkapnya.
Selain itu, beberapa atlet yang tampil juga merupakan bagian dari program pembinaan KONI Jawa Timur untuk persiapan PON Bela Diri. Namun hingga kini, kuota atlet yang akan diberangkatkan masih menunggu keputusan resmi dari KONI Jatim.
“Kalau dari kami sebenarnya mengusulkan semua kelas. Tetapi keputusan akhir tetap melihat hasil tes fisik dan evaluasi dari KONI Jatim,” jelas Neneng.
Sementara itu, Ketua Federasi Kurash Indonesia (Ferkushi) Jawa Timur sekaligus mantan atlet gulat nasional, Didi Supriyadi, menilai perkembangan Kurash di Jawa Timur mulai merata dan tidak lagi didominasi daerah tertentu.
“Kalau melihat beberapa tahun terakhir, perkembangan atlet sudah mulai merata. Atlet Puslatda juga banyak yang sudah pensiun karena faktor usia, sehingga dari event seperti ini kita berharap muncul bibit-bibit baru,” ujar Didi.
Menurutnya, ajang tersebut menjadi bagian penting dalam proses seleksi atlet menuju PON Bela Diri. Dari total 15 kelas yang dipertandingkan di ajang nasional nanti, Jawa Timur hanya mendapat enam kuota atlet dari KONI Jatim.
“Kita cuma dikasih enam kuota. Jadi harus benar-benar melihat atlet yang paling potensial untuk meraih emas, karena target KONI Jatim jelas emas,” katanya.
Didi juga menyoroti perkembangan nomor seni yang mulai menunjukkan persaingan baru antar daerah. Jika sebelumnya nomor tersebut didominasi Surabaya dan Sidoarjo, kini sejumlah kabupaten mulai menunjukkan peningkatan performa.
“Seni ini perkembangannya bagus. Tadi saya lihat ada daerah lain yang mulai bisa bersaing. Ini yang kita harapkan, adanya regenerasi dan perkembangan kualitas atlet dari tahun ke tahun,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah daerah dan pemangku kepentingan olahraga terus mendukung penyelenggaraan event serupa agar kualitas pembinaan dan kompetisi Kurash di Jawa Timur semakin meningkat.
“Dengan seringnya kegiatan seperti ini, kualitas penyelenggaraan semakin baik dan kita bisa menemukan atlet-atlet baru untuk menggantikan posisi atlet Puslatda,” kata Didi.
Terkait pembinaan atlet usia muda, Didi menyebut mayoritas bibit Kurash berasal dari lingkungan sekolah melalui guru olahraga yang aktif mengenalkan cabang olahraga tersebut kepada siswa.
“Banyak pelatih di kabupaten/kota berasal dari guru olahraga. Kami juga rutin berkeliling untuk berbagi ilmu dan melakukan pembinaan ke daerah-daerah,” pungkasnya.

