Dari Fermentasi hingga Prestasi: Unesa Tambah 9 Guru Besar, Lahirkan Harapan Baru bagi Dunia Kesehatan

0 0

Surabaya — Pagi itu, suasana Auditorium Universitas Negeri Surabaya (Unesa) terasa berbeda. Bukan sekadar seremoni akademik, pengukuhan sembilan guru besar baru yang berlangsung pada Selasa (10/2/2026) pagi itu menjelma menjadi perayaan ilmu pengetahuan, ketekunan, dan harapan. Dengan tambahan ini, kampus yang dijuluki Rumah Para Juara resmi memiliki 188 profesor dari beragam bidang keilmuan.

Di antara deretan nama yang dikukuhkan, satu sosok mencuri perhatian publik. Bukan hanya karena kepakaran ilmunya, tetapi juga karena kisah hidup dan temuan ilmiahnya yang menyentuh sisi kemanusiaan.

Prof. Prima dan Harapan Baru bagi Penderita Diabetes

Prof. Dr. Prima Retno Wikandari, M.Si., guru besar dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), berdiri sebagai simbol bahwa keterbatasan fisik bukanlah akhir dari mimpi. Sebagai profesor penyandang disabilitas di bidang Ilmu Pangan Fungsional Fermentasi, Prof. Prima membuktikan bahwa ketekunan dan ilmu dapat berjalan beriringan menembus batas.

Penelitiannya tentang pangan fermentasi kini menjadi perbincangan luas karena menunjukkan potensi besar dalam membantu terapi diabetes—penyakit kronis yang selama ini dikenal sulit disembuhkan. Temuan tersebut tidak hanya memperkaya khazanah akademik, tetapi juga membuka harapan baru bagi jutaan penderita diabetes.

“Ilmu seharusnya memberi manfaat nyata bagi kehidupan,” menjadi semangat yang tercermin dari perjalanan akademik Prof. Prima, sekaligus inspirasi bagi banyak penyandang disabilitas di Indonesia.

Menguatkan Olahraga hingga Pendidikan Masa Depan

Pengukuhan kali ini juga menegaskan posisi Unesa sebagai salah satu pusat unggulan nasional, terutama di bidang olahraga dan pendidikan. Dari Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK), dua pakar dikukuhkan:

  • Prof. Dr. Noortje Anita Kumaat, M.Kes., ahli analisis performa senam
  • Prof. Dr. Oce Wiriawan, M.Kes., pakar evaluasi recovery kepelatihan olahraga

Sementara itu, tujuh profesor lainnya memperkuat bidang kepemimpinan pendidikan, inovasi pembelajaran teknik, otomasi sistem elektro, kognisi matematis, bahasa dan sastra Indonesia, hingga teknologi pembelajaran seni budaya. Keberagaman disiplin ini mencerminkan wajah Unesa sebagai universitas yang adaptif terhadap tantangan zaman.

Energi Baru Menuju 2026

Rektor Unesa, Prof. Dr. Nurhasan, M.Kes., atau yang akrab disapa Cak Hasan, menegaskan bahwa kehadiran sembilan guru besar baru ini bukan sekadar pencapaian angka. Lebih dari itu, mereka diharapkan menjadi motor penggerak riset yang berdampak langsung bagi masyarakat.

“Kami berkomitmen memfasilitasi penelitian yang solutif dan aplikatif. Tahun 2026, Unesa menargetkan lahirnya 50 profesor baru sebagai bagian dari penguatan kontribusi nyata untuk bangsa,” ujar Cak Hasan.

Pengukuhan ini pun menjadi penanda: dari ruang laboratorium, lapangan olahraga, hingga ruang kelas, Unesa terus melahirkan gagasan dan inovasi—membuktikan bahwa ilmu pengetahuan, ketika dipadukan dengan keberpihakan pada manusia, mampu mengubah masa depan.

Comments
Loading...

This site is protected by wp-copyrightpro.com