MALANG – Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Provinsi Jawa Timur, Aries Agung Paewai, melakukan peninjauan langsung pelaksanaan Program Sekolah Inovasi Ketahanan Pangan (SIKAP) di SMKN 2 Singosari, Kabupaten Malang, Selasa (7/7/2026). Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya Dindik Jatim memastikan pemanfaatan lahan kosong di lingkungan sekolah dapat dioptimalkan menjadi kawasan produktif yang mendukung pembelajaran sekaligus memperkuat ketahanan pangan.
Dalam peninjauan itu, Aries didampingi jajaran Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur dan pihak sekolah. Mereka melihat langsung sejumlah fasilitas yang telah dikembangkan melalui Program SIKAP, mulai dari pemanfaatan lahan pertanian, sarana budidaya, hingga infrastruktur pendukung pembelajaran berbasis praktik.
Program SIKAP merupakan salah satu inovasi Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur yang mendorong sekolah memanfaatkan aset dan lahan yang belum produktif menjadi media pembelajaran nyata. Melalui program ini, peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis, tetapi juga pengalaman langsung dalam bidang pertanian, peternakan, perikanan, hingga pengelolaan pangan.
Saat meninjau kawasan sekolah, Aries melihat area lahan yang telah dimanfaatkan sebagai lokasi budidaya tanaman pangan. Lahan yang sebelumnya kosong kini mulai ditata menjadi area produktif yang dapat dimanfaatkan sebagai laboratorium pembelajaran bagi siswa.
Selain itu, rombongan juga meninjau fasilitas budidaya ikan yang menggunakan kolam bundar (bioflok). Fasilitas tersebut menjadi salah satu sarana praktik yang diharapkan mampu mendukung pengembangan kompetensi siswa, khususnya dalam bidang agribisnis dan ketahanan pangan.
Tidak hanya melihat program ketahanan pangan, Aries juga mengecek sejumlah fasilitas sekolah lainnya, termasuk bangunan yang sedang dalam proses pemeliharaan dan pengembangan. Peninjauan tersebut dilakukan untuk memastikan lingkungan belajar di SMKN 2 Singosari terus mengalami peningkatan kualitas.
Menurut Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Program SIKAP tidak sekadar berorientasi pada hasil produksi pangan. Lebih dari itu, program ini menjadi media pendidikan karakter yang mengajarkan siswa tentang pentingnya kerja keras, kemandirian, kepedulian terhadap lingkungan, serta semangat kewirausahaan.
Pemanfaatan lahan sekolah secara optimal dinilai mampu memberikan banyak manfaat. Selain menciptakan lingkungan yang lebih hijau dan produktif, kegiatan tersebut juga dapat menjadi sumber pembelajaran kontekstual yang menghubungkan teori di ruang kelas dengan praktik langsung di lapangan.
Melalui kegiatan bercocok tanam maupun budidaya perikanan, siswa dilatih memahami proses produksi pangan dari hulu hingga hilir. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi bekal ketika mereka memasuki dunia kerja maupun membangun usaha secara mandiri setelah lulus.
Program SIKAP juga sejalan dengan upaya Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam memperkuat ketahanan pangan berbasis pendidikan. Sekolah didorong menjadi pusat inovasi yang mampu menghasilkan berbagai model pembelajaran kreatif sekaligus memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.
Dalam kesempatan itu, Aries menegaskan pentingnya seluruh satuan pendidikan terus menghadirkan inovasi sesuai potensi yang dimiliki masing-masing sekolah. Pemanfaatan lahan kosong menjadi area produktif merupakan salah satu langkah nyata yang dapat dilakukan tanpa harus menunggu pembangunan berskala besar.
Melalui peninjauan di SMKN 2 Singosari, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur berharap Program SIKAP dapat terus berkembang dan menjadi contoh bagi sekolah-sekolah lain di berbagai daerah. Dengan demikian, sekolah tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu mencetak generasi yang memiliki keterampilan, berjiwa mandiri, peduli terhadap lingkungan, serta siap mendukung ketahanan pangan di masa depan.
Optimalisasi lahan sekolah melalui Program SIKAP diharapkan semakin memperkuat ekosistem pendidikan vokasi yang berbasis praktik, inovasi, dan pemberdayaan potensi lokal. Langkah tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa lingkungan sekolah dapat bertransformasi menjadi ruang belajar produktif yang memberikan nilai tambah bagi peserta didik maupun masyarakat sekitar.
