Surabaya – Menjamurnya warung kopi modern dan semi kafe di berbagai titik strategis Kota Surabaya dinilai menjadi salah satu faktor menurunnya jumlah pengunjung di Sentra Wisata Kuliner (SWK). Kondisi tersebut mendorong perlunya evaluasi terhadap pengelolaan SWK yang selama ini berada di bawah naungan Pemerintah Kota Surabaya.
Wakil Ketua Komisi B DPRD Surabaya, Moch. Machmud, mengatakan SWK saat ini kalah bersaing karena tidak mampu mengikuti perkembangan tren dan kebutuhan masyarakat. Menurutnya, pengelolaan SWK masih terkesan kaku dibandingkan warkop modern yang terus berinovasi.
“Warkop di luar SWK berkembang dengan konsep yang lebih nyaman, menu yang mengikuti tren, harga terjangkau, serta jam operasional yang lebih fleksibel. Kondisi ini membuat masyarakat beralih dari SWK,” kata Machmud, Minggu (21/6/2026).
Selain itu, ia menilai sejumlah SWK kurang mampu menjaga konsistensi harga sehingga berdampak pada minat pelanggan. Sementara itu, banyak warkop modern menawarkan fasilitas tambahan seperti akses internet cepat, desain tempat yang menarik, hingga acara nonton bareng yang menjadi daya tarik tersendiri.
Machmud juga menyoroti keberadaan pelaku UMKM di sektor kuliner yang berkembang secara mandiri tanpa banyak intervensi pemerintah. Karena itu, ia meminta pemerintah tidak terburu-buru membebankan pajak tinggi kepada pelaku usaha yang masih berupaya bertahan di tengah tantangan ekonomi.
Ia mendorong Pemkot Surabaya untuk melakukan pembenahan menyeluruh terhadap SWK, mulai dari manajemen, inovasi menu, hingga strategi pelayanan agar mampu kembali menarik minat masyarakat.
